Minggu, 01 Agustus 2010

TENAGA KESEHATAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

Lingkungan merupakan salah satu komponen dalam hidup kita yang tidak terpisahkan. Namun bukannya dipelihara dan dirawat dengan baik ,lingkungan malah sering kita lupakan dan kita acuhkan. Fenomena-fenomena alam akhir-akhir ini menunjukkan se-kelumit akibat yang ditimbulkan karena keacuhan kita pada lingkungan.
Dalam konteks dunia kesehatan, lingkungan berperan penting pada hampir semua permasalahan kesehatan yang terjadi di masyarakat. Sanitasi yang buruk, sistem pengolahan limbah yang tidak sesuai prosedur, pengolahan pangan yang tidak aman merupakan beberapa contoh dari banyak contoh penyebab dari munculnya berbagai macam penyakit yang terjadi di masyarakat.
Fenomena-fenomena kesehatan tersebut seakan menuntut dimunculkannya istilah baru dalam dunia kesehatan yaitu Tenaga Kesehatan Berwawasan Lingkungan. Wacana ini dimaksudkan untuk bisa memaksimalkan tenaga kesehatan bukan hanya sebagai “pemadam kebakaran” tetapi juga berperan dalam mencegah “kebakaran” itu terjadi. Menggalakan kegiatan yang bersifat preventif untuk bisa mewujudkan kesehatan masyarakat secara menyeluruh bukan dengan menunggu dan kemudian mengobati korban yang berjatuhan atau tindakan kuratif.
Sebenarnya seberapa pentingkah peran tenaga kesehatan berwawasan lingkungan itu? Bisa dikatakan sangat penting tapi sering kali dilupakan. Itulah realitanya. Epidemi beberapa penyakit menular yang setiap tahun selalu berulang merupakan wujud pengesampingan lingkungan sebagai salah satu aktor dalam usaha penyehatan masyarkat. Demam berdarah tidak akan mewabah jika dokter di lingkungan tersebut tidak hanya sebagai pemadam kebakaran alias hanya mengobati orang yang sakit tapi juga memberikan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat untuk peduli lingkungan. Limbah-limbah medis jika tidak ditangani dengan baik terutama untuk dokter-dokter praktik pribadi justru akan semakin memperburuk keadaan kesehatan masyarakat. Penyakit menular banyak yang ditularkan melalui limbah medik yang sering kita lupakan manajemen pengelolaannya. Dan masih banyak contoh-contoh fakta lain yang menunjukkan betapa pentingnya tenaga kesehatan yang berwawasan lingkungan itu.
Kesadaran bagi para pekerja di dunia kesehatan entah itu dokter,ahli gizi,atau perawat, dan semua orang yang terlibat dalam aktivitas kontak dengan pasien harus ditanamkan sejak dini. Pendidikan memegang peran kunci dalam terwujudnya tenaga kesehatan berwawasan lingkungan. Pendidikan yang dimaksudkan disini bukanlah dengan menambahkan suatu materi khusus dalam kegiatan perkuliahan. Namun, dikurikulumnya untuk semua mata pelajaran hendaknya include tentang materi lingkungan. Di setiap mata kuliah hendaknya dikaitkan dengan education for sustainable development. Contoh cara menyuntik, bagaimana jarum suntik ini harus dibuang setelah dipakai atau perban yang sudah terpakai dimana harus dibuang atau yang lebih sederhana yaitu makanan bekas pasien rawat inap bagaimana mengelolanya itu penting untuk diajarkan oleh para instruktur.
Solusi pendidikan tersebut merupakan salah satu perwujudan program Education for Sustainable Development. Suatu program dari UNESCO yang mencoba untuk mengintegrasikan antara pendidikan dengan usaha untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Lingkungan sebagai salah satu tergetnya menjadi hal yang harus juga dipelihara untuk generasi mendatang.
Dalam konteks pelayanan kesehatan,lingkungan sekali lagi menjadi hal yang tidak boleh dikesampingkan. Karena walaupun tempat pelayanan kesehatan yang di satu sisi dibutuhkan oleh masyarakat tapi dalam aktivitasnya juga menghasilkan limbah atau bahan sisa yang jika tidak menjadi perhatian dan dikelola secara asal-asalan akan tercampur dengan limbah domestik yang tentunya berbahaya bagi penduduk sipil maupun tenaga kesehatan itu sendiri.
Mahasiswa sebagai agen-agen perubahan hendaknya memiliki kesadaran untuk peduli pada lingkungan. Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan mulai dari diri sendiri kemudian disebarkan ke komunitasnya dan begitu seterusnya terutama mahasiswa calon tenaga kesehatan harus bisa menjadi pioneer di lingkungannya sendiri. Kemudian karena masyarakat Indonesia itu paternalis,yang berarti apa yang dilakukan seniornya maka akan ditiru oleh juniornya. Maka dosen, pegawai dan dekanat harusnya bisa menjadi contoh yang baik bagi mahasiswa untuk bersikap ramah dan peduli terhadap lingkungan. Saling mengingatkan dengan bahasa yang mudah dipahami dan memberikan sarana untuk peduli terhadap lingkungan.
Mungkin sebagai sebuah gerakan kecil yang bisa kita mulai adalah dengan tidak memakai minuman dalam kemasan gelas plastik pada acara-acara rapat ataupun yang lainnya. Bisa pakai gelas kaca yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Supaya tidak membeban lingkungan tentunya. Save the Earth for the Next Generation.
Wawancara dengan Dr. Eko Sugiharto,Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM
dimuat di majalah efkagama FK UGM,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar