“Kesuksesan itu 1%-nya ditentukan oleh bakat sedangkan 99%-nya ditentukan oleh kerja keras yang tiada henti” Thomas Alfa Edison.
“Menulislah, karena tidak seorang pun yang bisa melarang anda untuk menjadi seorang penulis” suatu kalimat yang saya kutip (lagi) dari sebuah buku motivasi menulis yang dibaca pada suatu malam di sebuah kamar asrama mahasiswa UGM. Sebelumnya saya termasuk orang yang paling malas kalau diminta menulis, tugas mengarang adalah hal yang paling saya benci karena membosankan,awalnya saya pikir menulis itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang memang ditakdirkan memiliki bakat dalam dunia literer, sesederhana itulah pemahaman saya tentang menulis dan parahnya kedangkalan pemahaman tersebut sampai saya bawa ketika saya masuk dalam dunia perkuliahan.
Suatu saat ketika di awal tahun kedua kuliah, saya diterima sebagai salah satu penerima beasiswa yang tiap bulan kami diwajibkan untuk membuat laporan bulanan yang terdiri dari evaluasi, rencana bulanan, dan opini bulanan, maka mau tidak mau saya harus menulis. Dalam hati saya berkata “ bisa nggak ya? Bagus nggak ya tulisan saya nanti?”, dan memang terbukti bahwa tulisan saya mendapatkan kritikan begini “ akhi (saudaraku.red), kok tulisannya kayak buat laporan kegiatan, ini bukan opini namanya!”. Siapa yang nggak tersengat coba kalau mendapatkan masukan seperti itu. Awalnya saya mikir memang saya nggak punya bakat untuk menulis tapi saya ada kewajiban untuk menulis tiap bulan dan saya tidak mau mendapatkan kritikan seperti itu lagi, kalau memang dapat kritikan lagi ya minimal beda dengan sebelumnya. Dari saat itu saya mulai mencari informasi bagaimana sih untuk bisa menulis yang baik. Kebetulan teman sekamar saya dua-duanya orang yang maniak nulis, yang sudah bertahun-tahun bergelut dalam dunia kepenulisan.
“Eh gimana sih caranya biar bisa nulis?” itulah pertanyaan polos saya ketika itu. Ada tiga poin yang saya ambil dari jawaban mereka, pertama menulis bisa dilakukan oleh siapa saja, kedua saat mulai menulis jangan pikirkan permasalahan stuktur,sistematika, bagus atau tidaknya tulisan. Intinya tulis apa saja yang ada dipikiran saat itu juga, tidak masalah kalau hasilnya acak-acakan toh nanti bisa diperbaiki dan yang ketiga latih kepekaan dengan banyak mengamati hal-hal yang terjadi disekitar dan banyak membaca. Nah tiga itulah yang selama ini memandu saya untuk tetap menulis.
Dari cerita diatas dapat ditarik kesimpulan bahawa ada beberapa hal yang merupakan dasar dalam menulis atau bisa disebut juga kiat-kiat praktis untuk memulai menulis, apapun jenis tulisannya.
Pertama, gumpalkan motivasi untuk menulis. Motivasi merupakan syarat utama yang harus dipenuhi seseorang untuk melakukan apapun itu. Motivasi menulis bisa karena memang hobbi, ingin dapat tambahan uang saku, atau masalah pemikiran seseoang yang ingin pemikirannya diikuti oleh publik, ingin terkenal atau menulis untuk berdakwah misalnya, itu semua bisa menjadi motivasi untuk menulis. Ya, motivasi apapun itu sah-sah saja, yang pasti setelah menulis akan banyak hal-hal positif yang bisa diraih.
Kedua,mengamati peristiwa dan menggali informasi. Seorang penulis atau orang yang ingin menulis tentu harus bisa menentukan apa yang hendak ditulisnya. Amati peristiwa yang menarik perhatian dan cari informasi sebanyak-banyaknya terkait dengan masalah tersebut. Spesialisasi juga bisa menjadi salah satu alternatif dalam penulisan suatu gagasan. Ada penulis yang spesialis tentang kesehatan, jadi hanya khusus menulis pemasalahan kesehatan saja ada juga yang spesialis menulis permasalahan ekonomi dan sebagainya. Artinya kita bisa menjadi penulis seperti apapun yang kita mau.
Ketiga, mulailah menulis dari mana saja. Jangan tunda-tunda unuk menulis, jangan tunggu sampai motivasi itu luntur. Jangan permasalahkan tentang struktur dan sistematika penulisan dulu. Langsung saja tulis apa yang ada di otak , terus untuk berimajinasi sampai apa yang ada di otak tertuliskan semua. Setelah itu baru deh cari data-data tambahan yang relevan dengan apa yang kita tulis.
Keempat, editing,suat proses yang wajib tapi sering dilupakan oleh seorang penulis. Editing disini bisa berupa editing tata bahasa atau struktur kalimat dan juga editing kerunutan atau keterurutan pemikiran kita. Kadang pada saat tahap sebelumnya, kita menuliskan gagasan kita dengan liar tanpa mengindahkan struktur atau alur pemikiran, nah di tahap editing ini kita bisa mengaturnya sedemikian sehingga tulisan yang kita buat memiliki alur yang bisa dipahami oleh semua orang. Proses editing juga sangat bermakna jika kita hendak mengirimkan tulisan kita ke media, editor biasanya akan memilih tulisan yang kondisinya sudah fixed (sempurna). Proses editing sebaiknya tidak langsung dilakukan setelah kita selesai menuliskan tulisan kita tapi dilakukan setelah otak kita segar kembali. Istirahat kemudian lakukan editing akan lebih baik dan membuat kita bisa berpikir lebih jernih dan sistematis. Perhatikan hal-hal detail yang mungkin bisa merusak keindahan tulisan kita.
Nah itulah tips-tips sederhana dan mendasar tentang teknik untuk memulai menulis. Tidak ada alasan untuk tidak menulis dan sekali lagi ingat bahwa menulis bukan soal bakat tapi soal kemauan untuk terus berusaha menjadi penulis yang lebih baik. Selamat menulis karena tidak ada seorangpun yang menghalangi anda untuk menjadi penulis.(MFK)
Cerita-cerita tentang pengalaman dan tumpahan pikiran yang mungkin berguna. Sengaja tidak dipublikasikan, tapi kalau ada yang nyasar ya, salam kenal ^^..semoga bermanfaat. (since 25 Juli 2010)
Minggu, 01 Agustus 2010
Niatkan Untuk Ibadah dan Jangan Setengah-Setengah (Wawancara dengan Menteri Kesehatan Ibu Siti Fadhilah Supari,Agustus 2009)
Solo adalah kota penuh cerita. Dari kisah tertangkapnya seorang teroris kelas kakap , walikotanya yang pro rakyat, sampai sosok yang bisa dijadikan teladan bagi siapa saja. Tentu tulisan ini tidak akan membahas si Noordin yang terkenal karena kekejamannya menghilangkan nyawa ratusan orang tapi disini akan menceritakan sosok ibu yang cerdas, pemberani dan memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap siapapun terutama rakyat miskin yang sangat beliau sayangi. Ya, beliau adalah Dr.dr. Siti Fadilah Supari,Sp.JP (K), putri Solo yang saat ini membaktikan hidupnya untuk Departemen Kesehatan demi menyehatkan rakyat Indonesia.
Ditemui disela-sela kesibukannya yang luar biasa, kami melihat sosok ibu yang murah senyum walaupun saya yakin dipikirannya sedang bergelut permasalahan-permasalahan rakyat yang sesegera mungkin memerlukan penyelesaian. Ditemui di ruang tamunya yang cukup besar kami, delegasi Efkagama bersama dengan delegasi Humas UGM, memulai wawancara ini dengan menanyakan kabar beliau. Alhamdulillah, beliau masih sangat bersemangat untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.
Apa sih motivasi ibu untuk menjadi seorang dokter dan masuk FK UGM dulu? Itulah pertanyaan pertama yang terlontar dari kami. Sungguh jawaban yang kami dapatkan di luar dugaan dari pengakuan seorang Menteri Kesehatan. Ibu hanya menjawab waktu itu beliau diminta orang tuanya terutama ayah beliau untuk menjadi seorang dokter. Beliau ingin memiliki anak seorang dokter. Awalnya Bu menteri menolak permintaan ayahnya karena beliau sangat tertarik pada teknik ITB. Selain itu beliau juga beralasan bahwa materi yang paling dibenci ketika sekolah adalah Biologi sedangkan di kedokteran ilmu biologilah yang banyak dipakai.
Karena rasa ingin berbakti pada ayah kemudian akhirnya beliau menerima, asalkan nanti kalau misalnya tidak diterima beliau diizinkan masuk ke ITB. Walaupun begitu Bu Menteri kecil tetap berlaku professional dengan belajar sungguh-sungguh menghadapi ujian seleksi mahasiswa di FK UGM sambil terus berdoa agar diberikan yang terbaik.
Nah disini ada cerita luar biasa buah dari ridho orang tua, begitu kata beliau. Pada saat hari ujian beliau menginap di rumah saudara di Jogja. Kebetulan juga saudaranya juga ikut seleksi mahasiswa baru. Beliau sudah mempersiapkan materi dengan baik sejak jauh-jauh hari tapi khusus untuk biologi ibu Menkes sudah pasrah. Pada saat berangkat, ya biasalah sambil jalan sambil screening materi. Tiba-tiba ada lembaran kertas pelajaran kepunyaan saudaranya yang jatuh dan beliau mengambilnya. Ketika akan dikembalikan saudaranya bilang, sudah nanti saja setelah selesai. Iseng-iseng ibu menkes muda membaca kertas tersebut yang ternyata isinya adalah materi biologi tentang tumbuhan dan komponen-komponennya. Dan anehnya pada saat ujian materi tersebut keluar dan beliau bisa menjawab soal-soal biologi yang sebelumnya sudah pasrah. Dan atas rahmat Alloh dan ridho orang tua akhirnya beliau bisa menjadi mahasiswa FK UGM angkatan 1968.
Semasa di FK UGM merupakan masa dimana beliau dengan tekun belajar menjadi dokter sesuai dengan keinginan sang ayah. Walaupun awalnya tidak terlalu suka karena kedokteran biologi banget akhirnya beliau lulus dengan baik dari FK UGM pada tahun 1976.
Salah satu nasihat ayah yang selalu diingat oleh beliau adalah bahwa niatkanlah segala apa yang kita kerjakan semata-mata hanya untuk ibadah kepada-Nya. Dokter yang memiliki tugas yang sangat dekat dengan manusia menjadi salah satu sarana ibadah untuk mendekatkan diri kepadaNya.
Ketika mengabdi menjadi dokter di Puskesmas beliau memberikan perhatian khusus pada kasus hipertensi. Hal inilah yang menuntun beliau untuk mendata semua kasus hipertensi dan segala hal yang berkaitan dengan hipertensi ditempat beliau bekerja, Pada suatu waktu beliau diminta presentasi tentang hipertensi dan mempesona seorang professor yang menawarinya beasiswa masuk bagian cardiovaskuler dan mengambil spesialisasi Jantung dan Pembuluh Darah.
Sebagai seorang yang memberikan perhatian lebih dalam kegiatan penelitian ,beliau tidak henti-hentinya untuk melakukan berbagai penelitian. Salah satu penelitian beliau yang sangat penting adalah ketika beliau melakukan penelitian terhadap ikan Lemuru sebagai sumber omega 3 yang digunakan untuk terapi penyakit pembuluh darah karena sumbatan lemak. Penelitian yang hanya berawal dari keprihatinan semakin meningkatnya kejadian penyakit karena penyumbatan pembuluh darah, tidak peduli dia kaya atau miskin. Inspirasi yang berawal dari suatu yang sederhana bahwa orang eskimo tidak pernah kena stroke akibat penyumbatan pembuluh darah karena setiap hari makan ikan. Penelitian inilah yang kemudian membawanya menjadi The Best Investigator Award pada Konferensi Ilmiah tentang Omega 3 di Texas, Amerika Serikat di tahun 1994 dan meraih gelar S3 di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia pada tahun 1996.
Mantan Kepala Unit Penelitian Yayasan Jantung Indonesia dan Kepala Pusat Penelitian Rumah Sakit Jantung Harapan Kita ini semula tidak pernah terpikir untuk masuk kedalam kabinet Indonesia Bersatu dan memimpin Departemen Kesehatan RI. Karena selama 25 tahun beliau bekerja secara professional sebagai Periset dan Staff pengajar di Fakultas kedokteran Universitas Indonesia dan tidak sekalipun berkecimpung dalam ranah perpolitikan. Awalnya pada malam tanggal 20 Oktober 2004 beliau hanya memperoleh telepon dari seorang yang beliau juga tidak tahu identitasnya yang meminta beliau untuk datang ke ke Istana untuk menghadap SBY, yang baru saja dilantik pagi hari itu. Beliau diminta untuk memimpin Departemen Kesehatan RI dan menjadi Menteri Kesehatan dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Ketika ditanya alasannya, SBY hanya menjawab butuh seorang yang “galak” untuk memimpin Departemen Kesehatan.
Rupanya harapan Presiden SBY terwujud, Departemen Kesehatan di bawah pimpinan Ibu Fadhilah Supari ini menjadi departemen yang cukup galak dan tegas dalam mewujudkan kesehatan rakyat Indonesia. Menteri yang rajin melakukan Sidak (Inspeksi Mendadak) ini tidak segan untuk bersuara lantang jika hak-hak rakyat ditindas. Yang paling fenomenal tentu ketika beliau mengkritik habis-habisan WHO dalam kaitannya dengan vaksin virus H5N1. Beliau dengan segala keteguhan hati dan kerasnya pendirian mampu mengajak negara-negara lain untuk merevisi regulasi WHO tentang pengiriman vaksin yang sudah 50 tahun tidak ada yang berani mengusiknya dan tentu masih banyak lagi prestasi Departemen Kesehatan dibawah pimpinan Ibu tiga anak ini.
Ditengah kesibukannya yang luar biasa melayani masyarakat, Ibu Fadhilah Supari tetaptidak melupakan hak-hak keluarganya. Beliau masih menyempatkan diri untuk makan malam bersama ketika weekend bersama keluarga. Beliau pada akhir pembicaraannya menasihatkan bahwa kita dalam menjalankan aktivitas apapun itu asala baik harus diniatkan sebagai ibadah dan jangan setengah-setengah dalam menjalankan apapun yang kita yakini benar. Dan bagi mahasiswa agar selalu kritis menyikapi semua kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sehingga tercipta hubungan yang saling mengoreksi antara pemerintah dengan kaum intelektual.
Ditemui disela-sela kesibukannya yang luar biasa, kami melihat sosok ibu yang murah senyum walaupun saya yakin dipikirannya sedang bergelut permasalahan-permasalahan rakyat yang sesegera mungkin memerlukan penyelesaian. Ditemui di ruang tamunya yang cukup besar kami, delegasi Efkagama bersama dengan delegasi Humas UGM, memulai wawancara ini dengan menanyakan kabar beliau. Alhamdulillah, beliau masih sangat bersemangat untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.
Apa sih motivasi ibu untuk menjadi seorang dokter dan masuk FK UGM dulu? Itulah pertanyaan pertama yang terlontar dari kami. Sungguh jawaban yang kami dapatkan di luar dugaan dari pengakuan seorang Menteri Kesehatan. Ibu hanya menjawab waktu itu beliau diminta orang tuanya terutama ayah beliau untuk menjadi seorang dokter. Beliau ingin memiliki anak seorang dokter. Awalnya Bu menteri menolak permintaan ayahnya karena beliau sangat tertarik pada teknik ITB. Selain itu beliau juga beralasan bahwa materi yang paling dibenci ketika sekolah adalah Biologi sedangkan di kedokteran ilmu biologilah yang banyak dipakai.
Karena rasa ingin berbakti pada ayah kemudian akhirnya beliau menerima, asalkan nanti kalau misalnya tidak diterima beliau diizinkan masuk ke ITB. Walaupun begitu Bu Menteri kecil tetap berlaku professional dengan belajar sungguh-sungguh menghadapi ujian seleksi mahasiswa di FK UGM sambil terus berdoa agar diberikan yang terbaik.
Nah disini ada cerita luar biasa buah dari ridho orang tua, begitu kata beliau. Pada saat hari ujian beliau menginap di rumah saudara di Jogja. Kebetulan juga saudaranya juga ikut seleksi mahasiswa baru. Beliau sudah mempersiapkan materi dengan baik sejak jauh-jauh hari tapi khusus untuk biologi ibu Menkes sudah pasrah. Pada saat berangkat, ya biasalah sambil jalan sambil screening materi. Tiba-tiba ada lembaran kertas pelajaran kepunyaan saudaranya yang jatuh dan beliau mengambilnya. Ketika akan dikembalikan saudaranya bilang, sudah nanti saja setelah selesai. Iseng-iseng ibu menkes muda membaca kertas tersebut yang ternyata isinya adalah materi biologi tentang tumbuhan dan komponen-komponennya. Dan anehnya pada saat ujian materi tersebut keluar dan beliau bisa menjawab soal-soal biologi yang sebelumnya sudah pasrah. Dan atas rahmat Alloh dan ridho orang tua akhirnya beliau bisa menjadi mahasiswa FK UGM angkatan 1968.
Semasa di FK UGM merupakan masa dimana beliau dengan tekun belajar menjadi dokter sesuai dengan keinginan sang ayah. Walaupun awalnya tidak terlalu suka karena kedokteran biologi banget akhirnya beliau lulus dengan baik dari FK UGM pada tahun 1976.
Salah satu nasihat ayah yang selalu diingat oleh beliau adalah bahwa niatkanlah segala apa yang kita kerjakan semata-mata hanya untuk ibadah kepada-Nya. Dokter yang memiliki tugas yang sangat dekat dengan manusia menjadi salah satu sarana ibadah untuk mendekatkan diri kepadaNya.
Ketika mengabdi menjadi dokter di Puskesmas beliau memberikan perhatian khusus pada kasus hipertensi. Hal inilah yang menuntun beliau untuk mendata semua kasus hipertensi dan segala hal yang berkaitan dengan hipertensi ditempat beliau bekerja, Pada suatu waktu beliau diminta presentasi tentang hipertensi dan mempesona seorang professor yang menawarinya beasiswa masuk bagian cardiovaskuler dan mengambil spesialisasi Jantung dan Pembuluh Darah.
Sebagai seorang yang memberikan perhatian lebih dalam kegiatan penelitian ,beliau tidak henti-hentinya untuk melakukan berbagai penelitian. Salah satu penelitian beliau yang sangat penting adalah ketika beliau melakukan penelitian terhadap ikan Lemuru sebagai sumber omega 3 yang digunakan untuk terapi penyakit pembuluh darah karena sumbatan lemak. Penelitian yang hanya berawal dari keprihatinan semakin meningkatnya kejadian penyakit karena penyumbatan pembuluh darah, tidak peduli dia kaya atau miskin. Inspirasi yang berawal dari suatu yang sederhana bahwa orang eskimo tidak pernah kena stroke akibat penyumbatan pembuluh darah karena setiap hari makan ikan. Penelitian inilah yang kemudian membawanya menjadi The Best Investigator Award pada Konferensi Ilmiah tentang Omega 3 di Texas, Amerika Serikat di tahun 1994 dan meraih gelar S3 di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia pada tahun 1996.
Mantan Kepala Unit Penelitian Yayasan Jantung Indonesia dan Kepala Pusat Penelitian Rumah Sakit Jantung Harapan Kita ini semula tidak pernah terpikir untuk masuk kedalam kabinet Indonesia Bersatu dan memimpin Departemen Kesehatan RI. Karena selama 25 tahun beliau bekerja secara professional sebagai Periset dan Staff pengajar di Fakultas kedokteran Universitas Indonesia dan tidak sekalipun berkecimpung dalam ranah perpolitikan. Awalnya pada malam tanggal 20 Oktober 2004 beliau hanya memperoleh telepon dari seorang yang beliau juga tidak tahu identitasnya yang meminta beliau untuk datang ke ke Istana untuk menghadap SBY, yang baru saja dilantik pagi hari itu. Beliau diminta untuk memimpin Departemen Kesehatan RI dan menjadi Menteri Kesehatan dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Ketika ditanya alasannya, SBY hanya menjawab butuh seorang yang “galak” untuk memimpin Departemen Kesehatan.
Rupanya harapan Presiden SBY terwujud, Departemen Kesehatan di bawah pimpinan Ibu Fadhilah Supari ini menjadi departemen yang cukup galak dan tegas dalam mewujudkan kesehatan rakyat Indonesia. Menteri yang rajin melakukan Sidak (Inspeksi Mendadak) ini tidak segan untuk bersuara lantang jika hak-hak rakyat ditindas. Yang paling fenomenal tentu ketika beliau mengkritik habis-habisan WHO dalam kaitannya dengan vaksin virus H5N1. Beliau dengan segala keteguhan hati dan kerasnya pendirian mampu mengajak negara-negara lain untuk merevisi regulasi WHO tentang pengiriman vaksin yang sudah 50 tahun tidak ada yang berani mengusiknya dan tentu masih banyak lagi prestasi Departemen Kesehatan dibawah pimpinan Ibu tiga anak ini.
Ditengah kesibukannya yang luar biasa melayani masyarakat, Ibu Fadhilah Supari tetaptidak melupakan hak-hak keluarganya. Beliau masih menyempatkan diri untuk makan malam bersama ketika weekend bersama keluarga. Beliau pada akhir pembicaraannya menasihatkan bahwa kita dalam menjalankan aktivitas apapun itu asala baik harus diniatkan sebagai ibadah dan jangan setengah-setengah dalam menjalankan apapun yang kita yakini benar. Dan bagi mahasiswa agar selalu kritis menyikapi semua kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sehingga tercipta hubungan yang saling mengoreksi antara pemerintah dengan kaum intelektual.
Pentingnya Pendidikan Dokter Pancasilais
Sebagai sebuah perguruan tinggi yang lahir dari rahim ibu pertiwi yang masih muda, Universitas Gadjah Mada melekatkan jati dirinya ke dalam lima wajah, yaitu sebagai sebuah universitas pancasila, universitas perjuangan, universitas nasional, universitas kerakyatan, dan universita kebudayaan. Dan kelima jati diri tersebut telah terpatri dan melekat secara resmi di dalam tubuh universitas tertua di negeri ini. UGM sebagai universitas pancasila karena pancasila sebagai sebuah dasar negara, pandangan, falsafah, dan way of life bagi segenap warga negara, dan UGM hadir untuk membentuk pion-pion warga negera yang unggul berlandaskan pancasila.
Lebih lanjut kepribadian bangsa ini sebenarnya sudah mencerminkan pancasila karena diambil dari khasanah kepribadian bangsa kita sendiri. Sebagaimana kata Bung Karno bahwa pancasila bukanlah temuan atau hadiah dari langit tetapi dia adalah galian dan cerminan bangsa Indonesia. Sehingga di titik inilah bahwa setiap jiwa dokter itu pada dasarnya adalah pancasilais. Yaitu jiwa yang memiliki nilai berkeTuhan-an, berdemokrasi, berkemanusiaan,dan akhirnya bermuara pada kebaikan pasien. Sehingga hal ini mengingatkan kembali bahwa pendidikan kedokteran itu tidak sekedar perihal intelektual yang selama ini mempunyai kelemahan dalam aspek kulturalnya, tetapi juga seharusnya berbicara pada ranah moral, mental, dan sosial.
Jika kita mengandaikan bahwa kebudayaan itu adalah otak, maka dari otak inilah menciptakan produk otak yang bermacam-macam seperti filsafat, seni, rasa, dan karsa, yang pada akhirnya membentuk sebuah bangunan utuh. Sehingga pendidikan di sini hadir untuk menghidupkan aspek-aspek tersebut yang pada akhirnya memunculkan orang yang berbudi luhur. Karena bisa jadi pendidikan dokter sekarang hanya menjadi pendidikan saja, dan tidak merangkakum entitas rasa dan karsa. Sebagai contoh kecil adalah dokter anak hanya tahu bagaiman cara mengobati anak tetapi tidak tahu apa yang terjadi dengan negara dan lingkungannya. Hal ini berbeda dengan yang ada di Singapura, Amerika, dan China yang memang tidak sejak awal tidak ada pendidikan kewarganegaraan sehingga mereka enak saja bekerja di luar tanpa harus memperhatikan negaranya sendiri.
Sehingga menjadi sebuah keniscayaan bagi dokter Indonesia khususnya dokter lulusan Universitas Gadjah Mada untuk mengutamakan bangsa dan negaranya sendiri, kalaupun mempunyai fellowship atau kerja ke luar negeri harus didasarkan pada visi kebangsaan. Jadi dokter Indonesia melihat Indonesia adalah bagaimana dia mengabdikan dirinya bagi bangsanya, melihat realitas untuk memperbaiki bukan melihat realitas untuk ditinggalkan. Berangkat dari sini, unsure intelektual bagi seorang dokter tidaklah cukup jika belum diimbangi dengan unsur humaniora. Sebagai misal, sudah seyogyanya jika dokter UGM ditugaskan ke Gunung Kidul atau daerah terpencil lain di negeri ini maka tidak akan ada kata keluhan ataupun penolakan yang keluar dari mulutnya.
Kekhawatiran kini muncul ketika sekarang persebaran dokter berkumpul pada titik-titik daerah tertentu. Padalah dulu dokter-dokter UGM terkenal karena mampu mengisi daerah-daerah terpencil di Indonesia dan sekarang lebih banyak berkumpul di wilayah Jawa lebih spesifik lagi di Jogja. Akhirnya dokter kita mengabdi kepada uang atau material dimana dalam hal ini tidak jauh berbeda seperti dulu yang mengabdi pada Belanda. Namun tidak bisa kita pungkiri juga bahwa sampai kemudian dr.Sutomo menjadi aktor penting yang menyulut semangat nasionalisme dengan mengilhami terbentuknya Boedi Oetomo hingga akhirnya hadiah kemerdekaan dapat kita dapatkan.
Jika dulu dokter UGM mampu mandiri dimana-mana, bagi dokter sekarang uang adalah orientasi yang didahulukan pertama kali. Dengan kata lain saat ini pengabdian dokter beralih pada pasar—bukan lagi segenap entitas rakyat Indonesia. Logika dan pergesaran orientasi ini kemudian menempatkan kesehatan sebagai sebuah komoditas, rumah kesehatan sebagai sebuah perusahaan industri, dan dokter menempatkan dirinya sebagai seorang buruh. Ideologi pasar yang kapitalistik berada memayungi mentalitasnya. Realitas tersebut berbeda dengan Iran yang mempunyai pendidikan dokter bagus dan murah karena untuk dibangun dan dikembangkan untuk kemaslahatan orang banyak. Berbeda dengan kita yang sudah menjadi komoditas sehingga menjadikannya mahal melangit
Oleh karena itu hal ini memberikan isyarat pada mahasiswa supaya tidak hanya intelektual yang diasah tapi juga aspek humaniora dengan tidak tercerabut dari akar ke-Indonesia-an. Berdasarkan hal tersebut, hal yang paling mudah kita lihat adalah jika mahasiswa kedokteran yang tidak berintraksi dengan lingkungannya, maka mahasiswa tersebut menjadi sangat individualistis, padahal kedokteranyang kita dirikan adalah untuk masyarkat luas.
Di titik inilah pendidkan pancasila itu menemukan urgensinya untuk dimasukkan dalam pembahasan ke-UGM-an karena dari sinilah para guru pendiri bangsa mempunyai pesan bagi pendidikan dokter untuk menciptkan manusia berbudi luhur dan mempunayi kematangan secara intelektual, moral, mental, dan etik. Kedoktean transaksional harus kita hindarkan, karena hanya mau beerja jika ada uang. Yaitu dengan adanya pendidikan humaniora yang salah satunya dengan pancasila karena akan mengurang sifat dan sikap individualistis tersebut. Pendidkan intelektual itu menjadi berbahaya ketika tercerabut dari masyarakat sekitarnya dan akar kebudayaan bangsanya, bangsa Indonesia.
Lebih lanjut kepribadian bangsa ini sebenarnya sudah mencerminkan pancasila karena diambil dari khasanah kepribadian bangsa kita sendiri. Sebagaimana kata Bung Karno bahwa pancasila bukanlah temuan atau hadiah dari langit tetapi dia adalah galian dan cerminan bangsa Indonesia. Sehingga di titik inilah bahwa setiap jiwa dokter itu pada dasarnya adalah pancasilais. Yaitu jiwa yang memiliki nilai berkeTuhan-an, berdemokrasi, berkemanusiaan,dan akhirnya bermuara pada kebaikan pasien. Sehingga hal ini mengingatkan kembali bahwa pendidikan kedokteran itu tidak sekedar perihal intelektual yang selama ini mempunyai kelemahan dalam aspek kulturalnya, tetapi juga seharusnya berbicara pada ranah moral, mental, dan sosial.
Jika kita mengandaikan bahwa kebudayaan itu adalah otak, maka dari otak inilah menciptakan produk otak yang bermacam-macam seperti filsafat, seni, rasa, dan karsa, yang pada akhirnya membentuk sebuah bangunan utuh. Sehingga pendidikan di sini hadir untuk menghidupkan aspek-aspek tersebut yang pada akhirnya memunculkan orang yang berbudi luhur. Karena bisa jadi pendidikan dokter sekarang hanya menjadi pendidikan saja, dan tidak merangkakum entitas rasa dan karsa. Sebagai contoh kecil adalah dokter anak hanya tahu bagaiman cara mengobati anak tetapi tidak tahu apa yang terjadi dengan negara dan lingkungannya. Hal ini berbeda dengan yang ada di Singapura, Amerika, dan China yang memang tidak sejak awal tidak ada pendidikan kewarganegaraan sehingga mereka enak saja bekerja di luar tanpa harus memperhatikan negaranya sendiri.
Sehingga menjadi sebuah keniscayaan bagi dokter Indonesia khususnya dokter lulusan Universitas Gadjah Mada untuk mengutamakan bangsa dan negaranya sendiri, kalaupun mempunyai fellowship atau kerja ke luar negeri harus didasarkan pada visi kebangsaan. Jadi dokter Indonesia melihat Indonesia adalah bagaimana dia mengabdikan dirinya bagi bangsanya, melihat realitas untuk memperbaiki bukan melihat realitas untuk ditinggalkan. Berangkat dari sini, unsure intelektual bagi seorang dokter tidaklah cukup jika belum diimbangi dengan unsur humaniora. Sebagai misal, sudah seyogyanya jika dokter UGM ditugaskan ke Gunung Kidul atau daerah terpencil lain di negeri ini maka tidak akan ada kata keluhan ataupun penolakan yang keluar dari mulutnya.
Kekhawatiran kini muncul ketika sekarang persebaran dokter berkumpul pada titik-titik daerah tertentu. Padalah dulu dokter-dokter UGM terkenal karena mampu mengisi daerah-daerah terpencil di Indonesia dan sekarang lebih banyak berkumpul di wilayah Jawa lebih spesifik lagi di Jogja. Akhirnya dokter kita mengabdi kepada uang atau material dimana dalam hal ini tidak jauh berbeda seperti dulu yang mengabdi pada Belanda. Namun tidak bisa kita pungkiri juga bahwa sampai kemudian dr.Sutomo menjadi aktor penting yang menyulut semangat nasionalisme dengan mengilhami terbentuknya Boedi Oetomo hingga akhirnya hadiah kemerdekaan dapat kita dapatkan.
Jika dulu dokter UGM mampu mandiri dimana-mana, bagi dokter sekarang uang adalah orientasi yang didahulukan pertama kali. Dengan kata lain saat ini pengabdian dokter beralih pada pasar—bukan lagi segenap entitas rakyat Indonesia. Logika dan pergesaran orientasi ini kemudian menempatkan kesehatan sebagai sebuah komoditas, rumah kesehatan sebagai sebuah perusahaan industri, dan dokter menempatkan dirinya sebagai seorang buruh. Ideologi pasar yang kapitalistik berada memayungi mentalitasnya. Realitas tersebut berbeda dengan Iran yang mempunyai pendidikan dokter bagus dan murah karena untuk dibangun dan dikembangkan untuk kemaslahatan orang banyak. Berbeda dengan kita yang sudah menjadi komoditas sehingga menjadikannya mahal melangit
Oleh karena itu hal ini memberikan isyarat pada mahasiswa supaya tidak hanya intelektual yang diasah tapi juga aspek humaniora dengan tidak tercerabut dari akar ke-Indonesia-an. Berdasarkan hal tersebut, hal yang paling mudah kita lihat adalah jika mahasiswa kedokteran yang tidak berintraksi dengan lingkungannya, maka mahasiswa tersebut menjadi sangat individualistis, padahal kedokteranyang kita dirikan adalah untuk masyarkat luas.
Di titik inilah pendidkan pancasila itu menemukan urgensinya untuk dimasukkan dalam pembahasan ke-UGM-an karena dari sinilah para guru pendiri bangsa mempunyai pesan bagi pendidikan dokter untuk menciptkan manusia berbudi luhur dan mempunayi kematangan secara intelektual, moral, mental, dan etik. Kedoktean transaksional harus kita hindarkan, karena hanya mau beerja jika ada uang. Yaitu dengan adanya pendidikan humaniora yang salah satunya dengan pancasila karena akan mengurang sifat dan sikap individualistis tersebut. Pendidkan intelektual itu menjadi berbahaya ketika tercerabut dari masyarakat sekitarnya dan akar kebudayaan bangsanya, bangsa Indonesia.
Millenium Development Goals: Think Big, Start Small, and Act Now ..the most important,they are achievable.. Kofi Annan,2000
United Nations Millenium Summit 2000 menjadi saksi dideklarasikannya roadmap tentang hal-hal yang harus dicapai oleh dunia Internasional di tahun 2015 yang disebut sebagai Millenium Development Goals (MDGs). Ada 189 negara yang menandatangani kesepakatan ini. Walaupun tidak semua negara menandatangani roadmap ini tapi cakupan MDGs ini meliputi semua negara di dunia ini.
Ada delapan komitmen yang disepakati dan diusahakan realisasinya di tahun 2015 nanti yaitu penanggulangan kelaparan dan kemiskinan, tercapainya pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV, malaria dan penyakit menular lainnya, memastikan kelestarian lingkungan dan mengembangkan kemitraan internasional untuk pembangunan.
Tiga dari delapan komitmen MDGs secara langsung berkaitan dengan kesehatan. Karena memang tidak ada seorang pun yang berani membantah bahwa kesehatan menjadi modal penting dalam pembangunan,apapun bidangnya. Walaupun tidak secara langsung komitmen-komitmen lain yang tercantum dalam MDGs ini juga sangat terkait dengan dunia kesehatan.
Komitmen MDGs pertama adalah pengentasan kemiskinan dan kelaparan. Kemiskinan masih menjadi penyebab dari hampir semua permasalahan yang terjadi di dunia ini. Kesehatan, kependudukan, kriminalitas dan lain-lain mengekor dibelakang permasalahan kemiskinan. Pada tahun 2003, sekitar 1,2 miliar penduduk hidupdalam kemiskinan dengan pendapatan kurang dari 1 dolar perhari . Gizi buruk sebagai salah satu dampak dari kemiskinan melanda lebih dari 800 juta penduduk. Kekurangan gizi inilah yang menyebabkan setengah dari kematian anak-anak di dunia ini. Di tahun 2015, MDGs menargetkan terjadinya penurunan setengah dari jumlah penduduk yang hidup dengan pendapatan kurang dari satu dolar perhari dan penduduk yang menderita kelaparan. Pemberian BLT, Jamkesmas, dan peminjaman modal seperti PNPM Mandiri menjadi contoh usaha yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk mewujudkan target tersebut.
Komitmen kedua adalah memastikan bahwa semua anak-anak baik laki-laki maupun perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar. Pada tahun 2003 tercatat masih ada sekitar 115 juta anak-anak yang tidak bisa menyelesaikan sekolahnya dan tiga-perempat dari jumlah tersebut adalah anak perempuan. Indonesia sendiri sudah menerapkan wajib belajar sembilan tahun bagi penduduknya dengan memberikan berbagai bantuan dan beasiswa termasukdi antaranya BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Saat ini Laju Pengentasan Buta Huruf (Youth Literacy Rate) penduduk usia 15 sampai 24 tahun sudah mencapai 85%di negara berkembang.
Komitmen ketiga adalah mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Mengusahakan tercapainya akses pendidikan primerdan sekunder untuk laki-laki dan perempuan pada tahun 2005 dan pada semua level di tahun 2015. Pemberdayaan perempuan dalam hal ini peningkatan kapasitas perempuan untuk bisa produktif dan punya daya saing. Hal ini berdasarkan fakta bahwa saat ini ada 876 juta penduduk dewasa yang buta huruf dan duapertiga dari jumlah itu adalah penduduk perempuan. Bahkan di negara-negara sub-Sahara Afrika rasio laki-laki dibanding dengan perempuan yang bisa belajar di sekolah primer maupun sekunder delapan berbanding satu.
Komitmen keempat adalah menurunkan angka kematian anak. Targetnya adalah menurunkan dua pertiga angka kematian anak dibawah lima tahun. Data menyebutkan bahwa sebelas juta anak-anak mati setiap tahunnya sebelum mencapai usia limatahun dan sebagian besar disebabkan oleh penyakit yang mudah ditangani serta sekitar 20% kematian anak dinegara-negara berkembang adalah karena infeksi terutama infeksi saluran pernafasan aku yang sebenarnya bisa dan mudah untuk dicegah. Walaupun angka ini sudah turun sejak tahun 1999 sejak dideklarasikannya MDGs tapi jika tidak segera ditangani dan diakselerasi kemajuannya terutama di negara-negara sub-sahara target MDGs ini baru dicapai mungkin ditahun 2165.
Kesehatan Ibu menjadi target kelima dari MDGs. Di tahun 2015 direncanakan dapat menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga-perempat dari data tahun 1999. Di tahun 2000 ada sekitar 500.000 wanita meninggal selama persalinan dan 99%-nya ada di negara-negara berkembang. Persentase penggunaan jasa dokter dalam persalinan pun hanya 58% di negara-negara berkembang dan ini punya andil yang cukup besar pada kematian ibu selama persalinan. Jika dibandingk maka risiko kematian selama persalinan di negara-negara subSahara Afrika mencapai 175 kali lipat dari negara-negara maju. Indonesia sebagai dalam setiapperiode pemerintahannya selalu menjadikan program ini sebagai prioritas program departemen kesehatan. Dan pencapaiannya sudah menunjukkan adanya hasil positif .
“Perang” melawan HIV/AIDS, insidensi malaria dan penyakit-penyakit menular lainya menjadi target keenam dari MDGs 2015. Di tahun 2002, 42 juta penduduk dewasa dan 5 juta anak-anak terinfeksi HIV/AIDS dan lebih dari 95%ada di negara-negara berkembang (70% di negara sub-sahara Afrika). Di tahun 2003 , tiga juta orang meninggal akibat AIDS dan sejak tahun 1996 sudah lebih dari 20 juta orang meninggal karena AIDS. Masalah klasik yang belum terselesaikan seperti tuberkulosis masih menjadi penyakit infeksi paling mematikan pada orang dewasa dan sudah membunuh hampir dua juta penduduk setiap tahunnya. Malaria juga telah membunuh lebih dari1 juta orang per- tahun. Usaha-usaha kuratif dan preventif sudah dilakukan oleh pemerintah terkait penyakit yang preventable ini seperti pengusahaan imunisasi, edukasi dan juga modifikasi lingkungan yang mencegah bertambahnya insidensi penyakit tersebut. Khusus untuk HIV/AIDS memang belum ditemukan obat untuk menyembuhkan hanya terbatas antivirus untuk menekan replikasi virus dan yang paling penting untuk penanggulangan HIV/AIDS adalah mencegah penyebaran dan usaha untuk menangani dampak lain dari HIV/AIDS yang kita tahu sangat kompleks.
Lingkungan hidup adalah hal yang tak mungkin terpisahkan dari kehidupan kita. Didasari pada fakta bahwa pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia saat ini mengancam kelestarian lingkungan maka kelestarian lingkungan menjadi target ketujuh dari MDGs. Integrasi prinsip Sustainable Development (Pembangunan berkelanjutan) dalam setiap aktivitas kehidupan manusia menjadi penting terutama pada kebijakan-kebijakan pembangunan dari pemerintah setiap negara . Ketersediaan air bersih menjadi isu utama dalam pencapaian target MDGs bidang lingkungan hidup ini. Di tahun 2000 lebih dari 1,1 milyar penduduk kekurangan akses air yang aman dan bersih. Dan setengah dari pasien rawat inap di rumah sakit diseluruhdunia adalah pasien karena penyakit yang disebarkan lewat air. Bahkan baru-baru ini WHO memberitakan bahwa kematian akibat ketidaktersediaan air bersih melebihi kematian akibat perang.
Kesadaran bahwa target-target tersebut tidak akan tercapai tanpa adanya kerjasama antar negara di dunia ini, maka hal ini menjadi target terakhir dalam MDGs 2015. Kerjasama dalam peningkatan mutu kesehatan, pelestarian lingkungan, ilmu pengetahuan dan pendidikan, peningkatan kesejahteraan dan semua aspek kehidupan lainnya. Ada kewajiban moral dari negara-negara maju untuk membantu negara-negara berkembang untuk bisa mengatasi permasalahannya.
Memang tidak semudah membalik telapak tangan untuk mencapai semua target tersebut. Perlu keseriusan dan komitmen yang tinggi terutama dari para stake holder untuk mewujudkannya. Dan seperti yang dikatakan oleh Kofi Annan, Sekretaris Jenderal PBB di tahun 2000,”These eight commitments...are simple but powerful objectives that every man and woman can easily understand and support. They are also different from other bold pledges that become broken promises over the past 50 years: first, because they have unprecedented political support; second,because they are measurable and time-bound, with mostof this agenda meant to be attained by the year 2015; and third,the most important, because they are achievable”. Ya,target-target tersebut achievable. Think Big, Start Small, and Act Now.(MFK)
Ada delapan komitmen yang disepakati dan diusahakan realisasinya di tahun 2015 nanti yaitu penanggulangan kelaparan dan kemiskinan, tercapainya pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV, malaria dan penyakit menular lainnya, memastikan kelestarian lingkungan dan mengembangkan kemitraan internasional untuk pembangunan.
Tiga dari delapan komitmen MDGs secara langsung berkaitan dengan kesehatan. Karena memang tidak ada seorang pun yang berani membantah bahwa kesehatan menjadi modal penting dalam pembangunan,apapun bidangnya. Walaupun tidak secara langsung komitmen-komitmen lain yang tercantum dalam MDGs ini juga sangat terkait dengan dunia kesehatan.
Komitmen MDGs pertama adalah pengentasan kemiskinan dan kelaparan. Kemiskinan masih menjadi penyebab dari hampir semua permasalahan yang terjadi di dunia ini. Kesehatan, kependudukan, kriminalitas dan lain-lain mengekor dibelakang permasalahan kemiskinan. Pada tahun 2003, sekitar 1,2 miliar penduduk hidupdalam kemiskinan dengan pendapatan kurang dari 1 dolar perhari . Gizi buruk sebagai salah satu dampak dari kemiskinan melanda lebih dari 800 juta penduduk. Kekurangan gizi inilah yang menyebabkan setengah dari kematian anak-anak di dunia ini. Di tahun 2015, MDGs menargetkan terjadinya penurunan setengah dari jumlah penduduk yang hidup dengan pendapatan kurang dari satu dolar perhari dan penduduk yang menderita kelaparan. Pemberian BLT, Jamkesmas, dan peminjaman modal seperti PNPM Mandiri menjadi contoh usaha yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk mewujudkan target tersebut.
Komitmen kedua adalah memastikan bahwa semua anak-anak baik laki-laki maupun perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar. Pada tahun 2003 tercatat masih ada sekitar 115 juta anak-anak yang tidak bisa menyelesaikan sekolahnya dan tiga-perempat dari jumlah tersebut adalah anak perempuan. Indonesia sendiri sudah menerapkan wajib belajar sembilan tahun bagi penduduknya dengan memberikan berbagai bantuan dan beasiswa termasukdi antaranya BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Saat ini Laju Pengentasan Buta Huruf (Youth Literacy Rate) penduduk usia 15 sampai 24 tahun sudah mencapai 85%di negara berkembang.
Komitmen ketiga adalah mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Mengusahakan tercapainya akses pendidikan primerdan sekunder untuk laki-laki dan perempuan pada tahun 2005 dan pada semua level di tahun 2015. Pemberdayaan perempuan dalam hal ini peningkatan kapasitas perempuan untuk bisa produktif dan punya daya saing. Hal ini berdasarkan fakta bahwa saat ini ada 876 juta penduduk dewasa yang buta huruf dan duapertiga dari jumlah itu adalah penduduk perempuan. Bahkan di negara-negara sub-Sahara Afrika rasio laki-laki dibanding dengan perempuan yang bisa belajar di sekolah primer maupun sekunder delapan berbanding satu.
Komitmen keempat adalah menurunkan angka kematian anak. Targetnya adalah menurunkan dua pertiga angka kematian anak dibawah lima tahun. Data menyebutkan bahwa sebelas juta anak-anak mati setiap tahunnya sebelum mencapai usia limatahun dan sebagian besar disebabkan oleh penyakit yang mudah ditangani serta sekitar 20% kematian anak dinegara-negara berkembang adalah karena infeksi terutama infeksi saluran pernafasan aku yang sebenarnya bisa dan mudah untuk dicegah. Walaupun angka ini sudah turun sejak tahun 1999 sejak dideklarasikannya MDGs tapi jika tidak segera ditangani dan diakselerasi kemajuannya terutama di negara-negara sub-sahara target MDGs ini baru dicapai mungkin ditahun 2165.
Kesehatan Ibu menjadi target kelima dari MDGs. Di tahun 2015 direncanakan dapat menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga-perempat dari data tahun 1999. Di tahun 2000 ada sekitar 500.000 wanita meninggal selama persalinan dan 99%-nya ada di negara-negara berkembang. Persentase penggunaan jasa dokter dalam persalinan pun hanya 58% di negara-negara berkembang dan ini punya andil yang cukup besar pada kematian ibu selama persalinan. Jika dibandingk maka risiko kematian selama persalinan di negara-negara subSahara Afrika mencapai 175 kali lipat dari negara-negara maju. Indonesia sebagai dalam setiapperiode pemerintahannya selalu menjadikan program ini sebagai prioritas program departemen kesehatan. Dan pencapaiannya sudah menunjukkan adanya hasil positif .
“Perang” melawan HIV/AIDS, insidensi malaria dan penyakit-penyakit menular lainya menjadi target keenam dari MDGs 2015. Di tahun 2002, 42 juta penduduk dewasa dan 5 juta anak-anak terinfeksi HIV/AIDS dan lebih dari 95%ada di negara-negara berkembang (70% di negara sub-sahara Afrika). Di tahun 2003 , tiga juta orang meninggal akibat AIDS dan sejak tahun 1996 sudah lebih dari 20 juta orang meninggal karena AIDS. Masalah klasik yang belum terselesaikan seperti tuberkulosis masih menjadi penyakit infeksi paling mematikan pada orang dewasa dan sudah membunuh hampir dua juta penduduk setiap tahunnya. Malaria juga telah membunuh lebih dari1 juta orang per- tahun. Usaha-usaha kuratif dan preventif sudah dilakukan oleh pemerintah terkait penyakit yang preventable ini seperti pengusahaan imunisasi, edukasi dan juga modifikasi lingkungan yang mencegah bertambahnya insidensi penyakit tersebut. Khusus untuk HIV/AIDS memang belum ditemukan obat untuk menyembuhkan hanya terbatas antivirus untuk menekan replikasi virus dan yang paling penting untuk penanggulangan HIV/AIDS adalah mencegah penyebaran dan usaha untuk menangani dampak lain dari HIV/AIDS yang kita tahu sangat kompleks.
Lingkungan hidup adalah hal yang tak mungkin terpisahkan dari kehidupan kita. Didasari pada fakta bahwa pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia saat ini mengancam kelestarian lingkungan maka kelestarian lingkungan menjadi target ketujuh dari MDGs. Integrasi prinsip Sustainable Development (Pembangunan berkelanjutan) dalam setiap aktivitas kehidupan manusia menjadi penting terutama pada kebijakan-kebijakan pembangunan dari pemerintah setiap negara . Ketersediaan air bersih menjadi isu utama dalam pencapaian target MDGs bidang lingkungan hidup ini. Di tahun 2000 lebih dari 1,1 milyar penduduk kekurangan akses air yang aman dan bersih. Dan setengah dari pasien rawat inap di rumah sakit diseluruhdunia adalah pasien karena penyakit yang disebarkan lewat air. Bahkan baru-baru ini WHO memberitakan bahwa kematian akibat ketidaktersediaan air bersih melebihi kematian akibat perang.
Kesadaran bahwa target-target tersebut tidak akan tercapai tanpa adanya kerjasama antar negara di dunia ini, maka hal ini menjadi target terakhir dalam MDGs 2015. Kerjasama dalam peningkatan mutu kesehatan, pelestarian lingkungan, ilmu pengetahuan dan pendidikan, peningkatan kesejahteraan dan semua aspek kehidupan lainnya. Ada kewajiban moral dari negara-negara maju untuk membantu negara-negara berkembang untuk bisa mengatasi permasalahannya.
Memang tidak semudah membalik telapak tangan untuk mencapai semua target tersebut. Perlu keseriusan dan komitmen yang tinggi terutama dari para stake holder untuk mewujudkannya. Dan seperti yang dikatakan oleh Kofi Annan, Sekretaris Jenderal PBB di tahun 2000,”These eight commitments...are simple but powerful objectives that every man and woman can easily understand and support. They are also different from other bold pledges that become broken promises over the past 50 years: first, because they have unprecedented political support; second,because they are measurable and time-bound, with mostof this agenda meant to be attained by the year 2015; and third,the most important, because they are achievable”. Ya,target-target tersebut achievable. Think Big, Start Small, and Act Now.(MFK)
Memori Desember 2009: BEM, Evaluasi Diri untuk Melanjutkan Kontribusi
Total Sembilan bulan kami menghuni ruangan 5 X 6 meter persegi ini. Waktu yang terlihat cukup singkat untuk sebuah kepengurusan suatu organisasi. Sembilan bulan yang diwarnai dengan suka dan duka dalam perjalanannya.
Badan Eksekutif Mahasiswa 2009 berada diujung kepengurusannya. Cita-cita menjadi pelayan mahasiswa dan memfasilitasi kepentingan mahasiswa yang ter-ejawantahkan dalam program-program kerja sudah semua dilaksanakan. Namun bukan berarti kita berhenti untuk bisa bermanfaat dan berkontribusi bagi semuanya.
Itulah mungkin curahan hati yang cukup “lebay” setelah Sembilan bulan menjabat. Dari ke-delapan departemen ditambah dengan kementrian internal dan eksternal sudah terlaksana banyak program kerja.
Cerita berawal ketika berakhirnya kongres awal tahun pada akhir bulan Februari 2009. Dimana semua organisasi termasuk BEM memulai untuk berkegiatan. Bulan Maret diawali dengan diadakannya Saresehan Karyawan FK UGM, kemudian diikuti oleh Medical Futsal League,Blog 3 in 1, Komunitas Enterpreneur FK UGM, Up Grading dan ditutup tengah tahun dengan diadakannya Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru 2009. Seminar Kebangsaan, Olimpiart, Medical Action Week, Training SPSS, Schoolarship Fair, Kompetisi Proposal Enterpreneur, Latihan Dasar Kepemimpinan dan Seminar Tenaga Kesehatan menyusul berikutnya.
Program-program diatas mungkin hanya sebagian dari banyak program yang sudah dilaksanakan. Masih ada banyak program lain yang sifatnya pengembangan organisasi, mempererat hubungan yang sinergis dengan Fakultas, BSO, Himaprodi dan lembaga eksternal serta menjalin kerjasama dengan berbagai instansi terkait baik yang sifatnya regional, nasional maupun internasional.
Menjadi organisasi yang bisa memfasilitasi mahasiswa dalam pengembangan diri sebagai persiapan menjadi tenaga kesehatan yang komplit dimasyarakat merupakan salah satu misi BEM yang mengilhami diselenggarakannya program-program kerja tersebut. Bukan program kerja warisan ataupun titipan tapi merupakan perwujudan keinginan dari mahasiswa. Sehingga survey atau jajak pendapat pada awal kepengurusan sangatlah penting untuk bisa menjaring aspirasi sebanyak-banyaknya dari warga Fakultas Kedokterean UGM. Dimana hal tersebut menjadi patokan dalam penyusunan program kerja.
Partisipasi dalam organisasi mahasiswa mungkin bisa dianalogikan sebagai latihan untuk menjadi pejabat publik. Amanah yang telah diberikan sebisa mungkin dijalankan dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Karena tentu saja semua amanah akan dipertanggungjawabkan tidak terkecuali di organisasi kemahasiswaan. BEM sebagai lembaga eksekutif tertinggi hendaknya bisa menjadi panutan bagai organisasi-organisasi dibawahnya untuk mewujudkan good governance, dimulai dari perencanaan konsep kepengurusan diawal tahun sampai pada proses pertanggungjawaban. BEM harus juga memiliki hubungan yang baik dan saling membangun secara vertical dengan pihak fakultas dan secara horizontal dengan mahasiswa secara umum.
Dengan adanya hubungan yang sinergis antara BEM, Mahasiswa, Dekanat maupun lembaga-lembaga terkait lainnya diharapakan masa-masa menjadi mahasiswa bisa dijadikan masa pembelajaran bukan hanya core competence kita sebagai tenaga kesehatan tetapi juga soft skills lainnya yang sangat dibuthkan ketika memasuki dunia pasca kampus. Generasi muda yang sering disebut-sebut sebagai agent of change, iron stock dan sebutan-sebutan lain yang menunjukkan harapan yang besar dari masyarakat akan adanya generasi yang mampu memperbaiki kehidupan negara ini akan lebih cepat terwujud jika prasyarat utama yaitu kompetensi dan kepedulian tertanam pada diri mahasiswa. Dan itu bisa diwujudkan sejak dini dengan berpartisipasi aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Jangan berhenti untuk berkontribusi, karena kita memang hidup untuk berkontribusi. Khairunnas an fa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi manusia lainnya).
(memuat kembali memori Desember 2009)
Badan Eksekutif Mahasiswa 2009 berada diujung kepengurusannya. Cita-cita menjadi pelayan mahasiswa dan memfasilitasi kepentingan mahasiswa yang ter-ejawantahkan dalam program-program kerja sudah semua dilaksanakan. Namun bukan berarti kita berhenti untuk bisa bermanfaat dan berkontribusi bagi semuanya.
Itulah mungkin curahan hati yang cukup “lebay” setelah Sembilan bulan menjabat. Dari ke-delapan departemen ditambah dengan kementrian internal dan eksternal sudah terlaksana banyak program kerja.
Cerita berawal ketika berakhirnya kongres awal tahun pada akhir bulan Februari 2009. Dimana semua organisasi termasuk BEM memulai untuk berkegiatan. Bulan Maret diawali dengan diadakannya Saresehan Karyawan FK UGM, kemudian diikuti oleh Medical Futsal League,Blog 3 in 1, Komunitas Enterpreneur FK UGM, Up Grading dan ditutup tengah tahun dengan diadakannya Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru 2009. Seminar Kebangsaan, Olimpiart, Medical Action Week, Training SPSS, Schoolarship Fair, Kompetisi Proposal Enterpreneur, Latihan Dasar Kepemimpinan dan Seminar Tenaga Kesehatan menyusul berikutnya.
Program-program diatas mungkin hanya sebagian dari banyak program yang sudah dilaksanakan. Masih ada banyak program lain yang sifatnya pengembangan organisasi, mempererat hubungan yang sinergis dengan Fakultas, BSO, Himaprodi dan lembaga eksternal serta menjalin kerjasama dengan berbagai instansi terkait baik yang sifatnya regional, nasional maupun internasional.
Menjadi organisasi yang bisa memfasilitasi mahasiswa dalam pengembangan diri sebagai persiapan menjadi tenaga kesehatan yang komplit dimasyarakat merupakan salah satu misi BEM yang mengilhami diselenggarakannya program-program kerja tersebut. Bukan program kerja warisan ataupun titipan tapi merupakan perwujudan keinginan dari mahasiswa. Sehingga survey atau jajak pendapat pada awal kepengurusan sangatlah penting untuk bisa menjaring aspirasi sebanyak-banyaknya dari warga Fakultas Kedokterean UGM. Dimana hal tersebut menjadi patokan dalam penyusunan program kerja.
Partisipasi dalam organisasi mahasiswa mungkin bisa dianalogikan sebagai latihan untuk menjadi pejabat publik. Amanah yang telah diberikan sebisa mungkin dijalankan dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Karena tentu saja semua amanah akan dipertanggungjawabkan tidak terkecuali di organisasi kemahasiswaan. BEM sebagai lembaga eksekutif tertinggi hendaknya bisa menjadi panutan bagai organisasi-organisasi dibawahnya untuk mewujudkan good governance, dimulai dari perencanaan konsep kepengurusan diawal tahun sampai pada proses pertanggungjawaban. BEM harus juga memiliki hubungan yang baik dan saling membangun secara vertical dengan pihak fakultas dan secara horizontal dengan mahasiswa secara umum.
Dengan adanya hubungan yang sinergis antara BEM, Mahasiswa, Dekanat maupun lembaga-lembaga terkait lainnya diharapakan masa-masa menjadi mahasiswa bisa dijadikan masa pembelajaran bukan hanya core competence kita sebagai tenaga kesehatan tetapi juga soft skills lainnya yang sangat dibuthkan ketika memasuki dunia pasca kampus. Generasi muda yang sering disebut-sebut sebagai agent of change, iron stock dan sebutan-sebutan lain yang menunjukkan harapan yang besar dari masyarakat akan adanya generasi yang mampu memperbaiki kehidupan negara ini akan lebih cepat terwujud jika prasyarat utama yaitu kompetensi dan kepedulian tertanam pada diri mahasiswa. Dan itu bisa diwujudkan sejak dini dengan berpartisipasi aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Jangan berhenti untuk berkontribusi, karena kita memang hidup untuk berkontribusi. Khairunnas an fa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi manusia lainnya).
(memuat kembali memori Desember 2009)
TENAGA KESEHATAN BERWAWASAN LINGKUNGAN
Lingkungan merupakan salah satu komponen dalam hidup kita yang tidak terpisahkan. Namun bukannya dipelihara dan dirawat dengan baik ,lingkungan malah sering kita lupakan dan kita acuhkan. Fenomena-fenomena alam akhir-akhir ini menunjukkan se-kelumit akibat yang ditimbulkan karena keacuhan kita pada lingkungan.
Dalam konteks dunia kesehatan, lingkungan berperan penting pada hampir semua permasalahan kesehatan yang terjadi di masyarakat. Sanitasi yang buruk, sistem pengolahan limbah yang tidak sesuai prosedur, pengolahan pangan yang tidak aman merupakan beberapa contoh dari banyak contoh penyebab dari munculnya berbagai macam penyakit yang terjadi di masyarakat.
Fenomena-fenomena kesehatan tersebut seakan menuntut dimunculkannya istilah baru dalam dunia kesehatan yaitu Tenaga Kesehatan Berwawasan Lingkungan. Wacana ini dimaksudkan untuk bisa memaksimalkan tenaga kesehatan bukan hanya sebagai “pemadam kebakaran” tetapi juga berperan dalam mencegah “kebakaran” itu terjadi. Menggalakan kegiatan yang bersifat preventif untuk bisa mewujudkan kesehatan masyarakat secara menyeluruh bukan dengan menunggu dan kemudian mengobati korban yang berjatuhan atau tindakan kuratif.
Sebenarnya seberapa pentingkah peran tenaga kesehatan berwawasan lingkungan itu? Bisa dikatakan sangat penting tapi sering kali dilupakan. Itulah realitanya. Epidemi beberapa penyakit menular yang setiap tahun selalu berulang merupakan wujud pengesampingan lingkungan sebagai salah satu aktor dalam usaha penyehatan masyarkat. Demam berdarah tidak akan mewabah jika dokter di lingkungan tersebut tidak hanya sebagai pemadam kebakaran alias hanya mengobati orang yang sakit tapi juga memberikan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat untuk peduli lingkungan. Limbah-limbah medis jika tidak ditangani dengan baik terutama untuk dokter-dokter praktik pribadi justru akan semakin memperburuk keadaan kesehatan masyarakat. Penyakit menular banyak yang ditularkan melalui limbah medik yang sering kita lupakan manajemen pengelolaannya. Dan masih banyak contoh-contoh fakta lain yang menunjukkan betapa pentingnya tenaga kesehatan yang berwawasan lingkungan itu.
Kesadaran bagi para pekerja di dunia kesehatan entah itu dokter,ahli gizi,atau perawat, dan semua orang yang terlibat dalam aktivitas kontak dengan pasien harus ditanamkan sejak dini. Pendidikan memegang peran kunci dalam terwujudnya tenaga kesehatan berwawasan lingkungan. Pendidikan yang dimaksudkan disini bukanlah dengan menambahkan suatu materi khusus dalam kegiatan perkuliahan. Namun, dikurikulumnya untuk semua mata pelajaran hendaknya include tentang materi lingkungan. Di setiap mata kuliah hendaknya dikaitkan dengan education for sustainable development. Contoh cara menyuntik, bagaimana jarum suntik ini harus dibuang setelah dipakai atau perban yang sudah terpakai dimana harus dibuang atau yang lebih sederhana yaitu makanan bekas pasien rawat inap bagaimana mengelolanya itu penting untuk diajarkan oleh para instruktur.
Solusi pendidikan tersebut merupakan salah satu perwujudan program Education for Sustainable Development. Suatu program dari UNESCO yang mencoba untuk mengintegrasikan antara pendidikan dengan usaha untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Lingkungan sebagai salah satu tergetnya menjadi hal yang harus juga dipelihara untuk generasi mendatang.
Dalam konteks pelayanan kesehatan,lingkungan sekali lagi menjadi hal yang tidak boleh dikesampingkan. Karena walaupun tempat pelayanan kesehatan yang di satu sisi dibutuhkan oleh masyarakat tapi dalam aktivitasnya juga menghasilkan limbah atau bahan sisa yang jika tidak menjadi perhatian dan dikelola secara asal-asalan akan tercampur dengan limbah domestik yang tentunya berbahaya bagi penduduk sipil maupun tenaga kesehatan itu sendiri.
Mahasiswa sebagai agen-agen perubahan hendaknya memiliki kesadaran untuk peduli pada lingkungan. Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan mulai dari diri sendiri kemudian disebarkan ke komunitasnya dan begitu seterusnya terutama mahasiswa calon tenaga kesehatan harus bisa menjadi pioneer di lingkungannya sendiri. Kemudian karena masyarakat Indonesia itu paternalis,yang berarti apa yang dilakukan seniornya maka akan ditiru oleh juniornya. Maka dosen, pegawai dan dekanat harusnya bisa menjadi contoh yang baik bagi mahasiswa untuk bersikap ramah dan peduli terhadap lingkungan. Saling mengingatkan dengan bahasa yang mudah dipahami dan memberikan sarana untuk peduli terhadap lingkungan.
Mungkin sebagai sebuah gerakan kecil yang bisa kita mulai adalah dengan tidak memakai minuman dalam kemasan gelas plastik pada acara-acara rapat ataupun yang lainnya. Bisa pakai gelas kaca yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Supaya tidak membeban lingkungan tentunya. Save the Earth for the Next Generation.
Wawancara dengan Dr. Eko Sugiharto,Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM
dimuat di majalah efkagama FK UGM,
Dalam konteks dunia kesehatan, lingkungan berperan penting pada hampir semua permasalahan kesehatan yang terjadi di masyarakat. Sanitasi yang buruk, sistem pengolahan limbah yang tidak sesuai prosedur, pengolahan pangan yang tidak aman merupakan beberapa contoh dari banyak contoh penyebab dari munculnya berbagai macam penyakit yang terjadi di masyarakat.
Fenomena-fenomena kesehatan tersebut seakan menuntut dimunculkannya istilah baru dalam dunia kesehatan yaitu Tenaga Kesehatan Berwawasan Lingkungan. Wacana ini dimaksudkan untuk bisa memaksimalkan tenaga kesehatan bukan hanya sebagai “pemadam kebakaran” tetapi juga berperan dalam mencegah “kebakaran” itu terjadi. Menggalakan kegiatan yang bersifat preventif untuk bisa mewujudkan kesehatan masyarakat secara menyeluruh bukan dengan menunggu dan kemudian mengobati korban yang berjatuhan atau tindakan kuratif.
Sebenarnya seberapa pentingkah peran tenaga kesehatan berwawasan lingkungan itu? Bisa dikatakan sangat penting tapi sering kali dilupakan. Itulah realitanya. Epidemi beberapa penyakit menular yang setiap tahun selalu berulang merupakan wujud pengesampingan lingkungan sebagai salah satu aktor dalam usaha penyehatan masyarkat. Demam berdarah tidak akan mewabah jika dokter di lingkungan tersebut tidak hanya sebagai pemadam kebakaran alias hanya mengobati orang yang sakit tapi juga memberikan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat untuk peduli lingkungan. Limbah-limbah medis jika tidak ditangani dengan baik terutama untuk dokter-dokter praktik pribadi justru akan semakin memperburuk keadaan kesehatan masyarakat. Penyakit menular banyak yang ditularkan melalui limbah medik yang sering kita lupakan manajemen pengelolaannya. Dan masih banyak contoh-contoh fakta lain yang menunjukkan betapa pentingnya tenaga kesehatan yang berwawasan lingkungan itu.
Kesadaran bagi para pekerja di dunia kesehatan entah itu dokter,ahli gizi,atau perawat, dan semua orang yang terlibat dalam aktivitas kontak dengan pasien harus ditanamkan sejak dini. Pendidikan memegang peran kunci dalam terwujudnya tenaga kesehatan berwawasan lingkungan. Pendidikan yang dimaksudkan disini bukanlah dengan menambahkan suatu materi khusus dalam kegiatan perkuliahan. Namun, dikurikulumnya untuk semua mata pelajaran hendaknya include tentang materi lingkungan. Di setiap mata kuliah hendaknya dikaitkan dengan education for sustainable development. Contoh cara menyuntik, bagaimana jarum suntik ini harus dibuang setelah dipakai atau perban yang sudah terpakai dimana harus dibuang atau yang lebih sederhana yaitu makanan bekas pasien rawat inap bagaimana mengelolanya itu penting untuk diajarkan oleh para instruktur.
Solusi pendidikan tersebut merupakan salah satu perwujudan program Education for Sustainable Development. Suatu program dari UNESCO yang mencoba untuk mengintegrasikan antara pendidikan dengan usaha untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Lingkungan sebagai salah satu tergetnya menjadi hal yang harus juga dipelihara untuk generasi mendatang.
Dalam konteks pelayanan kesehatan,lingkungan sekali lagi menjadi hal yang tidak boleh dikesampingkan. Karena walaupun tempat pelayanan kesehatan yang di satu sisi dibutuhkan oleh masyarakat tapi dalam aktivitasnya juga menghasilkan limbah atau bahan sisa yang jika tidak menjadi perhatian dan dikelola secara asal-asalan akan tercampur dengan limbah domestik yang tentunya berbahaya bagi penduduk sipil maupun tenaga kesehatan itu sendiri.
Mahasiswa sebagai agen-agen perubahan hendaknya memiliki kesadaran untuk peduli pada lingkungan. Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan mulai dari diri sendiri kemudian disebarkan ke komunitasnya dan begitu seterusnya terutama mahasiswa calon tenaga kesehatan harus bisa menjadi pioneer di lingkungannya sendiri. Kemudian karena masyarakat Indonesia itu paternalis,yang berarti apa yang dilakukan seniornya maka akan ditiru oleh juniornya. Maka dosen, pegawai dan dekanat harusnya bisa menjadi contoh yang baik bagi mahasiswa untuk bersikap ramah dan peduli terhadap lingkungan. Saling mengingatkan dengan bahasa yang mudah dipahami dan memberikan sarana untuk peduli terhadap lingkungan.
Mungkin sebagai sebuah gerakan kecil yang bisa kita mulai adalah dengan tidak memakai minuman dalam kemasan gelas plastik pada acara-acara rapat ataupun yang lainnya. Bisa pakai gelas kaca yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Supaya tidak membeban lingkungan tentunya. Save the Earth for the Next Generation.
Wawancara dengan Dr. Eko Sugiharto,Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM
dimuat di majalah efkagama FK UGM,
Tak Perlu Menunggu Wisuda untuk Bisa Berkarya
Menjadi mahasiswa bukan berarti menunda untuk berkarya. Masa-masa perkuliahan tidak berarti menunggu untuk diwisuda baru bisa mengabdi kepada bangsa. Pola pikir tersebut seharusnya tertanam dalam setiap jiwa mahasiswa.
Terlalu banyak masalah yang harus diselesaikan dan ingin segera diselesaikan. Rendahnya pendapatan masyarakat, tingginya angka kematian ibu dan anak, perusakan hutan, kemacetan, penambangan liar adalah contoh kecil dari pekerjaan rumah bangsa ini. Permasalahan-permasalahan bangsa ini tidak bisa kita hanya bergantung pada pemerintah untuk menyelesaikannya.
Mahasiswa sebagai iron stock dan generasi pemimpin bangsa harus peka terhadap permasalahan ini. Mahasiswa harus mampu membalikkan persepsi orang tentang mahasiswa yang sering diidentikkan dengan demonstrasi dan kerusuhan. Terjun ke masyarakat, mendengarkan keluhan mereka dan memfasilitasi untuk bisa memecahkan permasalahan bersama-sama. Hal itulah yang harus di lakukan oleh seorang calon pemimpin bangsa, yaitu mahasiswa.
Banyak contoh yang bisa kita jadikan teladan bagaimana mahasiswa mampu membangun masyarakat. Kita bisa melihat bagaimana mahasiswa dari Universitas Negeri Jambi mengajari masyarakat suku Anak Dalam membuat kerajinan yang meningkatkan penghasilan mereka. Mahasiswa dari Intitut Pertanian Bogor yang mengenalkan jenis ubi baru berkualitas tinggi kepada petani. Atau ketika mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada membantu mengurangi ilegal logging dengan membuat energi alternatif biogas. Mahasiswa sebagai makhluk intelektual harus bisa menjadi pelopor terbentuknya masyarakat yang mandiri. Terlalu lama bagi kita untuk menunggu uluran dari pemerintah yang sudah terlalu sibuk dengan permasalahan bangsa yang ruwet ini.
Mahasiswa selalu memainkan peran dalam sejarah bangsa ini. Masa sebelum kemerdekaan, perjuangan kemerdekaan, tergulingnya orde lama dan orde baru menunjukkan bahwa mahasiswa adalah suatu kekuatan yang sangat potensial untuk menggerakkan bangsa ini.
Dua kekuatan besar yang dimiliki mahasiswa adalah idealisme dan kreativitas yang tinggi. Idealisme untuk mengabdi kepada masyarakat tanpa ada kepentingan apapun selain menginginkan hal yang terbaik bagi bangsa ini. Kreativitas tanpa batas yang mampu mengkonsep dan menciptakan ide-ide kreatif untuk membantu masyarakat menyelesaikan permasalahannya. Dua kekuatan inilah yang harus dimiliki dan dipertahankan oleh semua mahasiswa. Ingat bahwa di pundak 356.458 mahasiswa terdapat amanah dari 270 juta lebih penduduk Indonesia yang menanti karya-karya mahasiswa.
Manfaatkan kesempatan untuk menjadi mahasiswa yang prestatif kontributif dambaan bangsa ini. Jadi, tidak perlu menunggu yudisium untuk bisa berperan dalam membangun masyarakat Indonesia.
Terlalu banyak masalah yang harus diselesaikan dan ingin segera diselesaikan. Rendahnya pendapatan masyarakat, tingginya angka kematian ibu dan anak, perusakan hutan, kemacetan, penambangan liar adalah contoh kecil dari pekerjaan rumah bangsa ini. Permasalahan-permasalahan bangsa ini tidak bisa kita hanya bergantung pada pemerintah untuk menyelesaikannya.
Mahasiswa sebagai iron stock dan generasi pemimpin bangsa harus peka terhadap permasalahan ini. Mahasiswa harus mampu membalikkan persepsi orang tentang mahasiswa yang sering diidentikkan dengan demonstrasi dan kerusuhan. Terjun ke masyarakat, mendengarkan keluhan mereka dan memfasilitasi untuk bisa memecahkan permasalahan bersama-sama. Hal itulah yang harus di lakukan oleh seorang calon pemimpin bangsa, yaitu mahasiswa.
Banyak contoh yang bisa kita jadikan teladan bagaimana mahasiswa mampu membangun masyarakat. Kita bisa melihat bagaimana mahasiswa dari Universitas Negeri Jambi mengajari masyarakat suku Anak Dalam membuat kerajinan yang meningkatkan penghasilan mereka. Mahasiswa dari Intitut Pertanian Bogor yang mengenalkan jenis ubi baru berkualitas tinggi kepada petani. Atau ketika mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada membantu mengurangi ilegal logging dengan membuat energi alternatif biogas. Mahasiswa sebagai makhluk intelektual harus bisa menjadi pelopor terbentuknya masyarakat yang mandiri. Terlalu lama bagi kita untuk menunggu uluran dari pemerintah yang sudah terlalu sibuk dengan permasalahan bangsa yang ruwet ini.
Mahasiswa selalu memainkan peran dalam sejarah bangsa ini. Masa sebelum kemerdekaan, perjuangan kemerdekaan, tergulingnya orde lama dan orde baru menunjukkan bahwa mahasiswa adalah suatu kekuatan yang sangat potensial untuk menggerakkan bangsa ini.
Dua kekuatan besar yang dimiliki mahasiswa adalah idealisme dan kreativitas yang tinggi. Idealisme untuk mengabdi kepada masyarakat tanpa ada kepentingan apapun selain menginginkan hal yang terbaik bagi bangsa ini. Kreativitas tanpa batas yang mampu mengkonsep dan menciptakan ide-ide kreatif untuk membantu masyarakat menyelesaikan permasalahannya. Dua kekuatan inilah yang harus dimiliki dan dipertahankan oleh semua mahasiswa. Ingat bahwa di pundak 356.458 mahasiswa terdapat amanah dari 270 juta lebih penduduk Indonesia yang menanti karya-karya mahasiswa.
Manfaatkan kesempatan untuk menjadi mahasiswa yang prestatif kontributif dambaan bangsa ini. Jadi, tidak perlu menunggu yudisium untuk bisa berperan dalam membangun masyarakat Indonesia.
Langganan:
Komentar (Atom)