Minggu, 04 Maret 2012

Menulis lagi...
Lagi cukup seneng dengerin lagu Someone like you-nya Adele tapi pake yang versi Javier Colon. Bukan bermaksud ikut-ikutan nge-galau sih, cuma memang lagunya cukup enak di dengar.
Cerita lagi ajalah ya, minggu kemarin, hari Selasa kalo nggak salah termasuk hari paling hectic. Bukan apa-apa, tapi hari Senin, hari pertama masuk saraf dan malamnya langsung jaga unit stroke, trus paginya masuk seperti biasa, dan sorenya ada 2 agenda sekaligus, yaitu ngisi training di Ukesma UGM sama ada rapat website pendidikan kedokteran setelahnya (rapat dadakan ini).
Haha, biasalah, hari pertama belum ngerti apa-apa (sampe sekarang sih, :P), nah waktu itu dah bilang aku ga bisa jaga malem karena harus buat presentasi untuk besoknya, tapi apa daya, yang lain pada ga bisa juga, dan dengan agak kesel, akhirnya maulah diriku jaga (kesel karena yang lain alasannya pada nggak jelas). Akhirnya jaga unit stroke, harapannya sih malam ini bakal tenang dan bisa tidur nyenyak, tapi ternyata.....yasudahlah. Pertama ada pasien HHS (kenapa masuk bangsal stroke??), monitor 2 jam (KU dan GDS), okelah ya...enaknya disini kita boleh ngambil keputusan soal terapi dan perawatnya juga enak, sangat kooperatif, jadi malam ketika rresiden sudah tidur. Ikut aja algoritma I pikirku, dan sukses, lumayanlah ya. Eh dini hari masuk pasien baru lagi , oh God, monitor juga ni pasien. Eh ada juga pasien yang produktif sekali mukusnya, bolak balik harus suction. Disela-sela kesibukan itu, aku sempetin deh buat presentasi, yah semaksimal yang aku bisa buat dalam kondisi sperti itu. Akhirnya 90% lah jadi, nanti disempurnakan dibangsal ajalah.
*Tri mempersiapkan presentasi :
1.Jika waktunya cukup, maka buatlah sebaik-baiknya, penuh gambar-gambar interaktif, biar audience ga bosen.
2. Jika waktunya ga cukup, buatlah sebisanya, dan perbanyak diskusi,hohoooo,,,,
(kekacauan dalam presentasi Anda bukan tanggung jawab penulis pokoknya..)
Akhirnya jam setengah empat kurang izin buat absen sore, alhmdllh dapat izin, dan gooo...
(lanjut ntar deh..)

Rabu, 15 Februari 2012

Share lagi : Yok Bermanfaat Bagi Orang Lain ^^


Di suatu sore, di perpustakaan, tiba-tiba telepon genggam-ku bergetar. Oh, ada sms dari mbak pengurus klinik masjid di Jogja. Ku sentuh notifikasinya (touch screen ceritanya), dan muncul pesan ini...
“Assalamualaikum. Dok, mau ngasih tau aja kalau sekarang klinik masjid sudah ada alat untuk tes darah (gula darah, asam urat, dan kolesterol”
                Alhamdulillah, batinku. Alat yang sekian lama direncanakan untuk diadakan sebagai salah satu pelengkap pelayanan kesehatan di klinik. Tak henti-hentinya aku tersenyum dan mengucap syukur atas nikmat itu. Akhirnya masyarakat sekitar tidak harus membayar mahal untuk periksa macem-macem itu.
                Cerita berawal pada bulan Desember 2011 yang lalu, ketika ada pesan dari salah satu kakak angkatanku yang meminta tolong menggantikannya di salah satu klinik masjid di Jogja. Pada waktu itu dibeberkan latar belakang klinik, kenapa kita harus ngisi disana dan macem-macemnya lagi. “Tapi ini klinik sosial dek, gimana?”, katanya. Tanpa banyak alasan, langsung kuterima saja tawaran tersebut. InsyaAlloh berkah, pikirku. Bukannya sombong atau sejenisnya (naudzubillah, semoga Alloh menghindarkanku dari hal demikian), aku memang telah sangat terbiasa dengan kegiatan-kegiatan yang memang berbau pengabdian masyarakat. Bukan apa-apa, hanya mengamalkan salah satu pesan dari Nabi SAW, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.Sederhana tapi memang seperti itulah kenyataannya.
                Klinik ini memang sudah berdiri cukup lama dengan segala jatuh bangunnya. Semangat para pengurusnya hanya sederhana, yaitu selain mengharap ridho Alloh tentunya, mereka bersemangat karena tidak rela masyarakat muslim disana, yang tinggal di sekitar masjid, ketika periksa kesehatan dll harus ke klinik non-muslim (maaf bukan bermaksud untuk musuh-memusuhi) yang memang telah lebih dulu disana. Mereka pikir, kita harus bisa memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat sini, memberikan yang lebih baik dan tentunya tidak harus bergantung pada orang lain. Mereka berpikir, “masak kita tidak bisa, jangan sampai mereka berpikir orang muslim tidak ada dokter”, perkiraanku seperti itu. Sekali lagi ini bukan bermaksud untuk benci-membenci.
                Alhamdulillah, ketika aku masuk, klinik ini sudah cukup established dan salah satu tanggung jawabku tentu untuk membuatnya lebih baik lagi. Sekali lagi, Alhamdulillah, pengurus-pengurus beserta takmir masjid sangat bersemangat juga untuk mengembangkan klinik ini. Apalagi pengurusnya masih muda-muda,(hehehe, jangan berpikir yang tidak-tidak ya !), jadi semakin bersemangat saja. Ibu-ibu pengasuh juga meskipun sudah cukup sepuh, tapi semangatnya luar biasa.
                Klinik ini hanya buka seminggu sekali, yaitu pada hari Minggu pagi, setelah kajian pagi di masjid. Hari Minggu,actually  the only holiday I have but for me it doesn’t matter as long as I can give all I have to help others. Most of patients are geriatrics, as you know they’re very complicated. May be sometime I will write those complicatedness in an article. (lho kok jadi Inggris,:P). Back..back..back...
                Kadang aku ngajak beberapa temen yang bisa bantu disana. Kadang mereka bisa seringnya gak bisa (curcol), ya sudah berarti sendiri lagi, as usual. Malas kadang dan sering muncul, tapi ketika akan bilang “dek, besok libur ya”, itu terasa tak sampai, ketika ingat wajah-wajah pasien disana. Pernah pas lagi pulang ke rumah,sesuatu yang jarang akulakukan, parah, bilang ke ibu, “buk, aku besok harus ke klinik mruput (pagi sekali.red), tapi aku males,capek banget buk tapi nggak tegel (tega.red) je  ”, ibuku dengan tenang menjawab “yasudah nggak apa-apa, insyaAlloh kalo diniatin ibadah bakal dimudahkan, insyAlloh”. Jawaban yang menenangkan walaupun aku sudah tahu teori itu, tapi ketika mendengar dari orang lain, dinasihatkan kepada kita, apalagi ibu, bakal sangat melegakan dan menenangkan.
                Yup, sekelumit cerita untuk aku share di blog ini, sengaja tidak aku publish kemacem-macem seperi facebook/twitter/lain-lain, takut menjadi riya’, takabur dan penyakit-penyakit hati yang lain. Biarlah yang membaca adalah orang-orang yang nyasar di blog-ku saja..hehehe....semangat2..jangan pernah berhenti untuk bermanfaat bagi orang lain, insyaAlloh menjadi ibadah bagi kita.^^

Rabu, 08 Februari 2012

Share ^^

Sekedar ingin menulis. 
Alhamdulillah, sudah setengah jalan periode rotasi klinik ini. Rasanya sudah Februari aja, tak terasa (bohong.red..kerasa banget tau) tinggal beberapa bulang lagi (beberapa???) bakalan selesai. InsyaAlloh. November 2012 ini, jika lancar, adalah akhir semua stase. Kalau sesuai rencana akan ditutup dengan indah (whatss??..Indah??) olehh stase pediatrik. Luar biasa, ter-setting mencapai klimaksnya distase terakhir.
Awal tahun 2012 menjadi awal yang buatku cukup luar biasa. Banyak hal yang terjadi dan dimulai. Di awal tahun inilah, mantap aku katakan bahwa periode rotasi klinik akan sangat sayang terlewatkan tanpa mencapai hal-hal lain. Dalam artian, periode ini bukan berarti kemudian dijadikan alasan untuk tidak berkarya, tidak aktif dalam hal -hal lain. Sumpah, sayang banget.
Memang tak bisa dipungkiri, ketika memasuki periode ini bakalan ada kesibukan yang bisa dikatakan jauh lebih banyak dibandingkan dengan dulu waktu masih kuliah S1. Pasti itu. Jadwal jagalah, refkas-lah, tutorial-lah, nunggu konsulen lah, itu adalah hal-hal yang membuat rutinitas koas menjadi semakin gaul (baca.padat.red). Akan tetapi, menurutku, itu bukan menjadi alasan untuk tidak berkarya atau aktif di bidang lainnya tanpa mengorbankan kewajiban utama kita untuk menyelesaikan pendidikan ini.
Awal tahun 2012, aku memutuskan untuk bergabung dengan Pusat Pelayanan Manajemen Kesehatan FK UGM. Bergabung menjadi editor dan PJ untuk salah satu website-nya. Lumayan, untuk menambah koneksi, pengalaman, pengetahuan dan tentu saja pemasukan. Padahal ketika akan mendaftar sempat was-was karena spesifikasi yang disyaratkan adalah dokter fresh-graduated. Saya yang termasuk masih unyu-unyu ini nekat saja daftar dan gooll. Gak tahu kan kalau tidak dicoba.
Awal tahun 2012 ini, kembali mengaktifkan diri di salah satu majalah fakultas. Setelah hampir 1 semester menghilang, akhirnya muncul lagi. Dan memang termasuk orang yang dicari (baca.dikangenin.red), hehehe.. astaghfirulloh. Dan, akhirnya sayapun menulis lagi.
Awal tahun 2012 ini, beberapa job juga menghampiri. Kemaren sempet menjadi moderator dalam acara bedah buku-nya dr. Jose Rizal, di UNY, membantu klinik kesehatan masjid tiap hari Minggu, mengisi training di salah satu organisasi di kampus (aneh ini) dan beberapa kegiatan lainnya.
Sekilas memang kelihatan berat kalau dipikirkan dengan berat dan rumit. Namun, jika dipikir dan di set di dalam otak kita semua itu mudah, ya bakalan jadi mudah. Bukan teori, tapi sudah saya buktikan berkali-kali.  
Hikmah yang saya ambil adalah bahwa jika dicermati betul, kita banyak banget memiliki waktu dan kesempatan untuk bekerja lebih dan berkarya lebih. Tak terbatas. Justru seringkali diri kitalah yang memberi batasan dari hal yang sesungguhnya tak terbatas itu. Justru seingkali diri kital sendirilah yang memunculkan berbagai alasan untuk stay pada zona nyaman kita, memunculkan berbagai alasan untuk tidak melakukan apa-apa.
Sering, saya ditegur oleh beberapa orang terdekat saya,"Heh, kamu kok berani-beraninya kerja ini, kerja itu. Memang koas-mu nganggur banget apa?", atau yang lain " Nggak apa-apa dek kamu ambil proyek ini?, koasnya bakal keganggu nggak?" atau "Wah, parah ente, nggak capek?" dan beberapa pertanyaan dengan nada yang hampir sama. Saya katakan bahwa, saya bisa. Tanya saja ke teman-teman sekelompok saya, apakah saya meninggalkan tugas-tugas saya, atau saya hanya sekedar lewat saja di setiap stasenya?
Kesempatan dan waktu itu bukanlah hal yang saklek, kesempatan dan waktu itu dinamis, bisa kita atur (jika kita mau). Sering kita bilang,"Duh, ga ada waktu ni untuk ngerjain ini!!". Akan tetapi yang sebenar-benarnya adalah kita tidak mengalokasikan waktu kita untuk itu. Jika kita alokasikan tentu kerjaan itu bisa rampung kita kerjakan.
Sekali lagi, jangan sampai masa muda kita hanya terlewat begitu saja tanpa ada karya atau apapun yang bisa kita hasilkan. Jangan berpuas pada satu hal, karena ibaratnya setiap kita mancing dan mendapatkan satu atau dua ikan, ingatlah masih ada jutaan ikan bahkan yang lebih besar yang menanti untuk kita pancing. Gak nyambung tetapi masih oke-lah..^^...dan satu lagi yang selalu saya ulang-ulang dan mungkin kasarannya menjadi salah satu dzikir tiap hari saya, yaitu sambil menyelam minum air, kalau ada ikan tangkap, kalu dapat   emas atau mutiara ambil juga...manfaatkan waktu dan kesempatan sebaik mungkin..

Senin, 23 Januari 2012

Izrail Ada Di Sampingku

Tik.tik.gemeretak jarum jam tangan mengalun malam ini. Bercampur dengan suara bip-bip-bip monitor jantung bagaikan simfoni kacau malam itu. Simfoni yang diperparah dengan suara serak dan sesak tubuh yang terbujur lemah dalam kamar luas berisi belasan tubuh dalam kondisi yang setali tiga uang.Entahlah, suara apalagi yang bakal muncul.
            Malam ini menjadi hari terakhirku jaga malam di bangsal ICCU. Tak ada firasat apapun, tak ada pertanda apapun. Malam ini semua terasa sama seperti biasanya. Baru dua jam setelah aku operan jaga dengan teman sekelompokku tapi malam ini terasa lama sekali. Sepi. Bolak-balik kutengok jam tangan hitam kecilku dan berharap segera selesai tugas jagaku. Namun, seakan jarum detik ini hanya berputar-putar tanpa diikuti putaran jarum menit apalagi jam.
            Waktu coba kupercepat dengan membolak-balik status rekam medis yang tergeletak rapi dibawah kolong meja perawat. Mencoba mengikuti kata senior-seniorku untuk belajar dari pasien, ku baca-baca status itu.Satu demi satu kubuka dan coba menulis template untuk follow up pasien besok. Duh kok jelek semua, pikirku. Jelek kuartikan sebagai pasien yang prognosis membaiknya minimal atau bahkan tidak ada. Mendekati ajal lah mudahnya. Kucoba untuk berharap semoga besok semua pasien dalam keadaan baik sehingga tidak merepotkanku waktu followup dan laporan esok paginya.
            Kulihat kembali jam tanganku, dan masih sama. Lama. Semua status  telah selesai aku tulis. Kucoba pelajari kembali status satu demi satu. Jedug, aww. Kepalaku terbentur meja. Tak sadar berat mata ini untuk tetap terjaga. Kucoba berjalan supaya saraf simpatisku terangsang sehingga bisa melek lagi. Berhasil, tapi hanya bertahan beberapa menit. Owh tidak, perawat semua juga sudah tidur,kalo aku tidur siapa yang jaga, pasien jelek begini,bisikku. Keterbatasan orang dalam kelompokku membuat kami harus berjaga sendirian saja supaya bisa istirahat esok paginya. Ah, coba aku keliling lihat pasien.
            Pasien bed 1, Bapak Hendrawan namanya. Beliau adalah seorang manajer di sebuah bank ternama. Sekarang terbujur tak tersadar di bed ini. Tadi siang sempat terjadi VT kata temanku saat operan tadi. Duh, jantung. Padahal kemarin sudah membaik dan bahkan bisa mengobrol denganku kemarin. Semoga membaik, doaku.
            Bed 2, Ibu Jamilah, penghuni lama. Punya penyakit jantung juga. Baik beliau orangnya, sampai kadang tak habis pikir kenapa orang sebaik beliau bisa terkena penyakit ini. Sesak kulihat nafasnya, dan benar, “ronkhi basah basal positif,duh edema paru. Sudah siberi ekstra diuretik tapi lambat progresnya”.
            Kulanjutkan langkahku ke bed 3 dan seterusnya sampai bed 15 sudah aku sambangi semuanya. Jelek, kesimpulanku berdasarkan data objektif yang aku punya. Huft, semoga semuanya besok membaik. Kembali aku berjalan menuju nurse station yang juga merupakan tempat tidurku nanti.
            Kurapikan kembali buku-buku tebalku. Kukembalikan rekam medis pasien di rak-rak tua dekat meja. Sambil memastikan semua aman, kulepas jas putih kumalku, kulipat rapi dan kutaruh dimeja. Kuletakkan dengan nyaman kepalaku dilipatan jas putihku. Merapal doa sebelum tidur dan kutambah doa agar pasienku sehat semua. Mataku pun mulai terpejam. Ups,lupa, set alarm untuk besok pagi. Jangan sampai keduluan perawat bangunnya. Sambil duduk dan berbantalkan jas, kucoba menutup kembali kelopak mataku. Dan tertidur.
            Beep..beep..beep..Ya Alloh suara darimana itu. Terhentak dari tidurku kupakai kembali jasku dan kucari arah suara itu.Bapak Hendrawn, batinku. Kulihat monitor, VT! Kudekati badan lemah di bed 1, “apnea dan no pulses!” Segera aku lari menuju ruang residen, ku ketuk pintu kamar tersebut. Bodo lah, mau dimarahi atau apa, berkali-kali ku ketuk pintu kamar itu. Dok, Apnea-VT bed 1, teriakku. Terbuka pintu dan tampak  dr.Andi, dokter jaga malam itu, langsung menyambar jas putihnya, kemudian bergegas. “Dek bangunkan perawat juga”,pintanya. Okelah.
            Lanjut ku lari ke kamar perawat yang masih agak gelap. “Mas, bangun mas. Apnea!, “teriakku. Kudengar suara mengiyakan dari balik pintu. Langsung bergegas ku ambil NRM dari lemari dan lari ke arah dr.Andi yang dengan cekatannya meng-RJP pasien. “Dek, gantian. Aku mau siapkan injeksinya !”, langsung kegantikan beliau melanjutkan RJP-nya.
            Ayolah, nafas pak. Terlihat wajah Pak Hendrawan, pucat, belum menunjukkan adanya perbaikan. Kulanjutkan RJP-ku, sambil melihat semua yang disana sibuk untuk memberitahu keluarga, menyiapkan macem-macemnya. Kulihat dr.Andi masukin ini dan itu lewat jalur IV pak hendrawan. Bodo lah apa itu, lupa nanya, yang penting kuteruskan pijat jantungku. Kulihat monitor, masih saja VT. Ya Alloh, beri kemudahan. Kulafadzkan dzikir sambil terus tangan ini bekerja.
            Di ambang kematian, pikirku. Mungkin saat ini Izrail tepat ada disampingku sambil menunggu waktu yang telah ditentukan. Mungkin saja, saat itu bukan pak hendrawan yang akan diambil ruhnya melainkan aku.Oh, aku belum siap. Kulanjutkan pekerjaanku sampai tak terasa sudah pegal semua badan ini. Kulihat wajah dr.Andi, tampaknya dia mengerti keadaanku.Sudah cukup lama kami bergantian memijat jantung pak Hendrawan. DC shock, alat yang kami butuhkan saat itu sedang rusak. Ironi memang, di dalam rumah sakit yang cukup besar ini alat penting seperti itu tidak bisa digunakan. Huft, apakah rumah sakit daerah selalu seperti ini?,bisikku. Lelah sudah aku, begitupun beliau. Dan yaps, sudah. Malaikat Izrail telah melakukan tugasnya. Cek pupil, midriasi penuh. Innalillahi wainna ilaihi raji’uun.
To be continued...

Senin, 26 September 2011

Refleksi : Awal Sebuah Jalan Ketidaksengajaan

Ditulis 2o Mei 2011

Sebuah sejarah bagi diriku terukir pada hari ini.Di awali dari sebuah ketidaksengajaan menjadi sesuatu yang benar-benar sejarah bagiku. Ya, saat ini aku berdiri dalam dekapan jalan ketidaksengajaan. Toga hitam membalut tubuh keringku. Toga hitam ketidaksengajaan mungkin. Mungkin tidak ada yang tahu bahwa selama ini aku berbohong pada mereka. Bahkan aku berbohong pada diriku sendiri. Entah kebohongan yang disengajakan atau suatu ketidaksengajaan. Sering aku tertawa dalam hati ketika melihat proyeksi diriku dalam sebingkai cermin kecil. Sering pula aku menangis dalam hati ketika melihat betapa apa yang kucapai saat ini adalah buah dari ketidaksengajaan. Ketidaksengajaan yang indah. Ketidaksengajaan yang mengantarkanku pada keadaanku saat ini.

Teringat hampir empat tahun lalu ketika aku masih duduk di kelas XII SMA. Ya, XII IPA 5,nostalgia tak terlupa. Aku yang termasuk siswa yang dengan keberuntungan bisa menjadi bagian tak terlupakan dalam perjalanan sekolahku selama 3 tahun ini. Bersyukur karena aku yang sangat biasa ini bisa tercatat dalam catatan lain di sekolahku, tentu catatan yang baik.

Saat itu yang aku pikirkan adalah bisa melanjutkan sekolah dan kemudian bekerja. Benar-benar tipikal orang biasa. Pikiranku sudah tertuju pada akademi militer. Itulah cita-cita sederhanaku untuk bisa menjadi seorang perwira,perwira angkatan darat. Entahlah, setan apa yang merasuk dalam pikiranku saat itu. Waktuku aku habiskan untuk mempersiapkan fisik dan mental untuk bisa lolos ujian. Menu lari pagi 2-3 kilometer dengan pemberat dimasing-masing kaki 2 kilogram adalah hal yang biasa buatku. Push up dan sit up menjadi menu pagi sehabis mengaji. Saat itu aku berpikir, bodoh sekali jika mereka tidak menerimaku dengan segala kelebihan yang aku miliki. Benar-benar setan telah merasuk dalam otakku.

Pada waktu itu aku tidak peduli dengan euforia teman-temanku yang ribut untuk mengikuti berbagai ujian masuk perguruan tinggi. Rasa optimisku sudah merasuk sampai ujung jempol kakiku. Entah si jempol sadar atau tidak tetapi rasa percaya diriku sudah membuncah tanpa berpikir bahwa dunia ini diciptakan dengan berpasang-pasangan. Bahwa ada keberhasilan dan ada kegagalan. Keduanya berbagi probabilitas yang sama seperti sebuah koin mata uang. Aku melupakan itu.

Dan akhirnya aku gagal lulus seleksi. Kecewa, itulah yang ada dipikiranku. Seakan apa yang sudah aku lakukan sama sekali tak ada artinya.

Aku putar kembali life plan-ku. Aku rombak habis segala cita-cita dan angan-angan yang sudah aku bentuk jika aku berhasil menjadi seorang perwira TNI. Kemudian aku mulai melihat peluang-peluang yang tersisa. Sambil menahan rasa iri sebab sudah banyak teman yang sudah diterima di perguruan tinggi ini dan itu sedangkan aku masih berdiri dalam ketidakpastian. SPMB menjadi jalanku satu-satunya untuk bisa melanjutkan sekolahku.

Dan ketidaksengajaan itupun dimulai. Aku memasukkan daftar prioritas fakultas yang sama sekali jauh dari latar belakangku. Alasannya sederhana, aku menjadi malas belajar jika standar yang aku tuliskan bukan standar tertinggi yang mungkin bisa aku capai. Dan ketidaksengajaan itu berbuah kebingungan. Ketika hal yang tidak aku sangka benar-benar terjadi. Bingung apakah aku benar-benar bisa bertahan disana. Ketidaksengajaan yang mendilemakan.

Pagi itu dengan hati yang masih tertunduk melihat ketidaksengajaan ini, aku berdiri tegap dengan jas almamater yang menyembunyikan rasa terdalamku,terpasang rapi ditubuh kecilku. Melihat sekelilingku, membuatku takut dan merasa inferior dibanding yang lain. Semua dengan ceria berbaris dan bersenda gurau. Aku yakin gurat muka mereka menandakan kegembiraan yang amat sangat. Sedangkan diriku, 180 derajat berkebalikan dengan mereka. Entahlah, sekali lagi aku masih takut. Ku coba berkenalan dan bergaul dengan mereka untuk menutup ketakutanku akan segala hal yang akan aku hadapi nanti. Ku coba tersenyum, tersenyum dalam selubung ketakutan.

Tiga setengah tahun berlalu. Terlalu banyak cerita selama 3,5 tahunku di kampus ini. Suka, duka, senang, sedih, bangga, kecewa semua bercampur menyatu dalam harmoni cerita tiga setengah tahunku disini. Teman-teman yang sangat baik. Guru-guruku yang sangat luar biasa. Bagaimana dengan rasa takut dan inferiority-ku? Rasa ketakutanku sudah sedikit bisa aku atasi.Rasa inferiority-ku sudah sedikit bisa aku sembunyikan karena masih sulit aku untuk menghilangkannya. Sampai saat ini. Sudah kucoba untuk men-sugesti dan meyakinkan diriku tapi masih saja ada dan menghantuiku. Sampai saat ini.

Kini, sudah pantaskah diriku untuk mengenakan toga ini atau belum, aku tidak tahu. Yang pasti saat ini aku memakainya. Dan terpaksa aku harus pantas, entah bagaimana caranya. Buah ketidaksengajaan yang saat ini harus aku jalani jalan ketidaksengajaan ini. Ketidaksengajaan yang bersejarah dan mau tidak mau harus aku jalani jalan ketidaksengajaan ini dengan penuh kesengajaan dan kesadaran. Berharap lewat jalan yang aku awali dengan ketidaksengajaan ini, aku bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

My beliefs, just do my best and I’m sure, I will get the best. And He will give the more best than I can imagine. That’s His promises and He’ll never broke His promises.

Jumat, 22 April 2011

Cerita Koas-ku..neng nong neng gung..

Telat sih nulisnya,tapi gapapalah...
Berawal dari hari Jumat,1 April 2011 ini..hahaha..melihat teman2 PD 2007 memakai kemeja putih dan bawahan hitam membuka kembali memoriku sekitar hampir 4 tahun yang lalu. Dulu kita lari-lari bersama dipagi buta,sambil cuek denger senior teriak-teriak (hipoglikemi ntar) menyambut kami. Dulu, dengan baju itu pula kita kumpul-kumpul di lapangan parkir di siang terik,sambil melihat jam,kapan OSPEK ni selesai. Dulu,dengan baju seperti ini,tertempel dan tersampir (halah,bahasanya) bermacam-macam atribut ga jelas yang bisa membuat kami begadang tiap malemnya...
Tapi sekarang sangat berbeda..sekarang dengan baju seperti ini,kami berjalan dengan tegap menuju ruang diklat yang akan menjadi saksi janji kami..Sekarang,dengan baju seperti ini sudah tidak ada lagi atribut-atribut tidak jelas,yang ada hanyalah jas putih bertuliskan nama kami dan diatasnya persis ada tulisan terbordir rapi.."DOKTER MUDA"..Dan dengan pakaian itu kami siap menatap tantangan baru..(hahahaha..tulisannya jijay banget..serius beuddddd..hoekkss)..
Teng..tong..untuk nanti pembacaan janjinya,ada satu dari kalian yang memimpin yaaa..*baik buuu....HEmmm..mushtofa kamal mana? Nah lo..nah lo..kok gue (cie,gahol mamen)..tolong kamu saja ya..(halah,yasudahlah..daripada lama)..siap bukkkk..
Nanti kamu gini,gitu,begini,begitu..bla..bla..bla..*siap lah..
Persiapan bla bla bla sudah...nah,pas saat krusial tuh,ups..keseleo lidahnya baca teks-nya..astaga,klo aku panik,ntar bubar acaranya..ah bodolah..lanjut...alhamdulillah lancarrrr..gaol lah dirikyu..setelah selesai..trus pulang (walah,ga banget)..cont'd

Nah lanjut lagi..
Kemudian,dihari pertama pembekalan langsung deh ambil tempat duduk paling depan. Bukannya sombong ato cari muka,tapi pengen aja menghapus tradisi malas duduk didepan...Nah,tu desktop secara mengejutkan (sebenernya ga juga sih,sudah kuduga sebelumnya) fotoku langsung nampang di slide pertama pembekalan,jadi judul lagi..waakakaka..memang orang keren ga kemana...Udah tuh, siapa yang menjadi ketua untuk gelombang ini..jeng..jeng.."mushtofaa"..whatttt..secara parah langsung dipaksa untuk jadi ketua,ngek,ngok.yaudahlah,paling bentar aja sih..ehemm..ehemm..langsung deh,first speech "teman,saya tidak bisa sendiri,mari kita berjuang bersama-sama"..ceilahh,sok bijak..--" #jitak
Yaps,pembekalan berjalan seperti biasa,nothing special but surely unforgettable moment. Oiya,sempet dibilang sama dokter Mahar,"silahkan maju mas yang di depan. Setau saya dia sering duduk didepan dan aktif ketika kuliah dan tutorial"..walah,tambah berat aja ni kepala..sempet ngebanyol dikit2 didepan para profesor dan spesialis di ruang diklat sardjito (memang koas gemblung)..ahaha..but the story must go on..
Nah,ceritanya udah selesai nih..hari pertama koas di Poli Mata..jeng..jeng..nunggu pak kepala bagian,trus ngobrol2,dan ea ea langsung masuk poli (belum belajar nih). Nah,hari pertama dapat jatah jaga bangsal,ya seperti biasa ikut kalu ada konsul dari bangsal lain,kebetulan waktu itu dapat konsul untuk liat anak yg lagi trombositopenia (ga tau et causanya apa).trus periksa2..gitu2 lah pokoknya..
Nah paginya harus sudah sampe dibangsal jam 5.30 tuh buat ikut follow up,kejadian lucupun terjadi..hahaha,disuruh manggi pasien untuk follow up ni ceritanya,tru datang deh ke kamarnya,udah dipanggil2 kok ga ada yg nyahut,dengan tanpa putus asa panggil2 lagi,eh ada yang namanya hampir mirip2 lah..yaudah aku samperin aja..kebingungan dimulai dari saat ini..Deg,perasaan matanya ga ada apa2..trus kenapa pake kateter..nahhh..udah aku ajak aja..eh sampe di depan ruang periksa disamperin sama ibu2 perawat,lho dek mau dibwa kemana? me: follow up bu...ibu: lha itu kan pasien punya uro...me: ea..ea..ea...salah ambil,hahaha..semua residen dan perawat ketawa semuanya,termasuk pasiennya juga..Beuh,mantap deh..dengan muka innocent aku bilang ni ke pasiennya "hahaha,maaf pak,tampaknya salah ya pak.." bapak : ga pa pa dok..me: nanti bapak akan op kan? nah biar ga strress dan kaku memang mesti jalan2 pak (sotoy abisssss)..jiah,pasien dan para penunggunya ketawa semuanya,,,bener2 dah,keributan lucu dipagi hari..contd

Rabu, 16 Maret 2011

Cerita Si Penebang Pohon

Ini adalah sebuah cerita yang cukup menghentak diriku yang sok sibuk, sok penting, sok ramah, sok sabar, dan sok-sok lainnya ini. Manusia yang dengan segala kepongahan dan kesombonganya melakukan semuanya tanpa ada perhitungan, tanpa adanya kepastian tujuan, tanpa memberikan waktu buat barang sejenak untuk berpikir.
Cerita si Penebang Pohon dan Kapaknya
Suatu ketika ada seorang penebang pohon yang sedang mencari pekerjaan. Dia melamar ke majikan pemilik hutan. Sang majikan sangat terkesan dengan keterampilan si Penebang Pohon tersebut dan menerimanya sebagai pekerjanya. Sang Majikan kemudian berkata "besok kamu sudah bisa mulai bekerja. dan ini aku berikan padamu kapak yang masih baru untuk menebang pohon". Si penebang pohon sangat bergembira dan tidak sabar untuk menyongsong hari pertamanya dia bekerja.
Hari pertama, si penebang pohon dengan segenap kemampuannya berhasil menebang dengan rapi sejumlah pohon. Melihat hasil kerja si penebang pohon tentulah si majikan sangat senang.
Hari kedua, dengan semangat yang masih sama, si penebang pohon mampu menebang beberapa pohon tapi lebih sedikit dibandingkan hari pertama.
Hari-hari berikutnya si penebang pohon frustasi karena pohon yang berhasil ditebangnya semakin sedikit padahal dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk itu.
Karena malu dia berniat untuk keluar dari pekerjaannya. Dia berkata kepada majikannya "sepertinya saya sudah tidak sanggup lagi meneruskan pekerjaan ini. Karena semakin lama pohon yang saya tebang semakin lama semakin sedikit. Saya yakin, saya sudah mengerahkan semua tenaga saya untuk itu". Majikan sambil tersenyum menjawab " apakah kamu masih memakai kapak yang sama dengan yang aku berikan pertama kali?"
Penebang kayu : "masih"
Majikan kemudian berkata " aku melihatmu datang setiap hari untuk menebang pohon dengan kapak yang aku berikan padamu, tapi pernahkah kamu terpikir untuk merelakan barang satu hari untuk MENGASAH KAPAKMU dan membuatnya tetap tajam?"
Pesan dari cerita tersebut adalah jangan terlalu asyik (memaksakan diri) dengan seabrek kesibukan2 kita. Tunaikanlah hak tubuh kita,pikiran kita, ruh kita untuk beristirahat dan meng-upgrade-nya dengan hal-hal diluar kesibukan kita sehari-hari. Berekreasi, istirahat, bersujud dimalam hari bisa dilakukan untuk MENGASAH KAPAK KITA. Yakinlah bahwa masih banyak ujian dan tantangan yang bakal kita hadapi. Dan itu akan bisa teratasi dengan adanya keseimbangan dalam diri.
Teruslah berjuang kawanku, yakinlah bahwa kita bisa meraih mimpi-mimpi kita....