Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2010

Hikmah Pagi...

Bismillah,subhanalloh walhamdulillah wala ila ha illallohu allohu akbar...
Di suatu pagi, aku terhenyak ketika secara tidak sengaja mendengarkan kajian Aa Gym disebuah radio. Suatu hal yang belum menjadi kebiasaanku saat ini...
Dalam uraiannya, beliau menyampaikan suatu hadis yang artinya kurang lebih seperti ini,
Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada hatinya, memudahkan urusannya dan dunia (yang hina ini) akan datang kepadanya (dengan sendirinya),

... dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan memberikan (rasa) fakir kepadanya, mempersulit urusannya dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali apa yang sudah ditetapkan baginya. “

(HR At-Tarmidzi)
Sebuah hadist yang membuat mata ini sembab untuk kesekian kalinya. Menghancurkan kesombongan yang selama ini melingkupi hati dan fikiran ini, Ketika otak ini penuh dengan ambisi duniawi dan melalaikan pesan bahwa hidup yang hakiki bukanlah disini, tapi hidup yang hakiki adalan nanti, dunia setelah mati.
cont'd

Sabtu, 04 September 2010

Surauku Yang Hilang

Kemanatah Surauku
(Sabtu,28 November 2009,19.00)
Alhamdulillah Idul Adha ini, aku mendapat untuk bersilaturahim ke rumah di Magelang. Pas sampai di rumah adzan maghrib berkumandang. Tentu setelah sempet ribet nyari sarung dan peci (karena semuanya tak tinggal di jogja) aku pun berangkat ke langgar (surau.red). Ada pemandangan aneh ketika aku sampai di surauku. “lho kok sepi?” itu pertanyaan pertama yang terbersit di benakku. Aku mencoba membuka kembali memori-memoriku yang tersimpan acak di kepalaku, mengingat dan membandingkan keadaan saat ini dengan keadaan beberapa tahun yang lalu. (wah dah adzan isya’,sholat dulu ah..).
Ku-putar album video masa kecilku dengan hati-hati. Mengingat gelak tawa,dan canda ketika aku dulu masih sering dicukur kuncung bersama teman-teman masa kecilku. Kegembiraan ketika ashar tiba dan matahari mulai mengucapkan kata perpisahan untuk istirahat sebelum menyongsong esok hari. Kami bersiap untuk menimba ilmu di surau kecil kami di pinggiran kampong. Ku kayuh sepeda biru kecilku, dengan peci yang terpasang miring karena terburu-buru dan sarung terkalung seperti si pitung serta buku kecil bertuliskan “AsSaafinatun Najah” kitab fikih pertamaku. Sampai di surau kami dibimbing oleh seorang kyai di kampungku mengkaji isi kitab fikih itu. Kami dengan suara keras mengulang-ulang apa yang dibacakan oleh Pak Kyai. Sampai maghrib kami sholat berjamaah dan dilanjutkan dengan mengaji Al-Quran. Tak jarang kami di jewer atau di suruh berdiri karena membuat gaduh surau atau lupa dengan pelajaran hari sebelumnya. Yah tapi itu justru yang menambah manis kenangan masa laluku.
Benar itu masa lalu dan sekarang ketika kulihat surauku lagi ada perasaan senang bercapur sedih. Perasaan senang karena surauku tak lagi dingin seperti dulu, senang karena surauku sudah lebih cerah cat-nya dibandingkan dulu. Tapi kegembiraan itu seakan sirna ketika melihat kenyataan bahwa ada yang hilang dari surauku. Surauku tak lagi seramai dulu, tidak ada anak kecil dengan suara keras nan semangat melafadzkan ayat-ayat suci AlQuran. Tetap “pede” walau sering ditegur karena tajwid-nya sering tidak pas (itu aku). Substansi dari surau tidak secerah catnya yang masih baru. Tak semengkilap keramiknya yang putih berkilau. Kemanakah anak-anak ini sekarang? sedang apakah mereka magrib ini? Majelis Ta’lim manakah yang mereka ikuti sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan yang tentu bisa dijawab dengan mudahnya oleh siapapun yang sadar bahwa ada masalah besar yang menentukan nasib Agama ini, nasib Bangsa ini. Relakah kita, generasi muda kita tidak memiliki sopan santun seperti Sinchan? Relakah kita generasi muda bangsa ini menjadi generasi yang main hantam untuk menyelesaikan masalah layaknya Naruto dan Inuyasha? Tegakah kita membiarkna generasi muda ini berpanjang angan dan hanya mengandalka keajaiban untuk meraih mimpi? Sihir, kekuatan ajaib, undian, relakah? Jawabannya ada pada diri kita.
Ya Alloh aku rindu surauku yang dulu..
Ya Alloh kembalikan Darul Arqam di kampungku ini…
Kembalikan suara-suara riang anak-anak yang bertasbih dan mengkaji ayat-ayatMu
Ya Alloh, selamatkanlah generasi muda bangsa ini..
*ditulis oleh hamba yang dhaif yang punya harapan mengembalikan suraunya yang “hilang”

Sabtu, 28 Agustus 2010

In tansurulloha yansurkum...wayutsabbit aqdaamakum..

Bismillah...
Sudah cukup lama tidak menulis di blog ini. Pagi 29 Agustus 2010 jam 5.56 WIB tepat selesai aku membaca sebuah novel 461 halaman. Novel yang direkomendasikan oleh salah seorang sahabat.
Yaa ayyuhalladziina amanu in tansurulloha yansurkum wa yutsabbit aqdaamakum..
sebuah surat dari Al-Quranul Kariim surah Muhammad ayat 7.
Ketika aku "menemukan" kalimah mulia ini disalah satu halaman novel tersebut, hatiku tertegun untuk beberapa waktu. Mencoba mencerna pesan-pesan mulia di balik firman Alloh azzawajalla. Mencoba meresapi untaian kata demi kata ayat mulia tersebut.
Sebelumnya ketika mengikuti sebuah acara di suatu panti asuhan tanggal 28 Agustus 2010, wajahku enggan berpaling pada tulisan arab yang aku mengerti betul artinya. Sebuah hadist yang seakan mengingatkanku pada kewajiban yang selama ini aku lalaikan, aku nomorduakan. Hadist tersebut kurang lebih berarti seperti ini:
Saya mendengar Rasululloh bersabda : Barangsiapa diantara kamu melihat suatu kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu. Jika tidak mampu ubahlah dengan lisanmu. Jika tidak mampu ubahlah/bencilah dengan hati,maka itu adalah selemah-lemah iman (wallohu a'lam)
Suatu peristiwa atau kebetulan yang terencana menurutku. Ketika diri yang lemah ini merasa canggung dalam dakwah, merasa lemah dalam menyeru kebaikan, merasa tidak pantas untuk mengemban amanah dakwah dan was-was lain yang aku tersadar bahwa itu semua adalah bisikan setan yang menggoda dari atasku dan bawahku, dari kanan dan kiriku, dari depan dan belakangku, dari arah mana saja untuk melemhakan keyakinan hamba yang lemah berlumpur dosa.
Seketika diri ini bertanya, sudahkah ? sudahkah kamu menolong agama Alloh? sudahkah kamu melakukan perubahan atas kemaksiatan yang jelas-jelas ada didepan mata? sudahkah? sudahkah? sudahkah?
Mungkin kamu berpikir,"ah aku mau fokus studi, tak mau lagi ngurus-ngurus hal seperti itu karena menyita waktu" atau "ah aku belum pantas melakukan hal itu, masih sedikit ilmuku"..seperti itukah? Istighfar akhii, percaya itu adalah was-was setan yang dibisikkan kedalam hati kita dari segala penjuru. Tidakkah engkau melihat janji-Nya bagi siapa saja yang menolong agama Alloh? tidakkah engkau percaya? masihkah engkau ragu dengan janji yang diberikan oleh sebenar-benar pemberi janji yang tak mungkin diingkari-Nya?
Bangun akhi..Yaa ayyuhal muddatsir,qum fa andzir..aku rasa ayat tersebut bukan hanya ditujukan bagi Nabi Muhammad Rasul tercinta, tapi kepada engkau juga.
Bangun dan beri peringatan. Bangun dan agungkan nama Tuhanmu...Bangun dan buat perubahan...bangun dari selimut kelalaian,bangun dari selimut ketidaksadaran,bangun dari selimut keragu-raguan dan mari berbuat kebaikan...
Yansurkumulloh..berjuang membantu ajaran penuh kebaikan dan kedamaian dunia akhirat ini..yansurkum..Alloh juga akan membantumu dan meneguhkan pendirianmu,meneguhkan tekadmu..wa yutsabbit aqdaamakum..
Jangan menyerah walau yakin akan banyak rintangan yang akan menghadang kita..tapi yakinlah bahwa pertolongan Alloh pasti bersama hamba-hamba-Nya yang terus berjuang dengan keikhlasan, pengorbanan dan sabar...
Masih ingatkah engkau tulisan yang engkau buat hampir 7 tahun yang lalu? kau tulis dalam selembar kertas dan kau tempelkan dilemari pakaian sekaligus kitab-kitabmu? waktu itu kau menulis " Alloh tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya"..ingatlah,bahwa tulisan tersebut masih dan akanterus relevan sampai nyawamu ditarik melalui tenggorokanmu..

Jumat, 06 Agustus 2010

Barangkali ini Ramadhan Terakhir Buatku..

Bulan Ramadhan kembali menyapaku untuk kesekian kalinya. Tak terasa sudah beberapa tahun aku lalui Ramadhan demi Ramadhan dalam hidupku.
Kata ustadku Ramadhan adalah bulan penuh hikmah, penuh rahmat dan penuh ampunan.Ramadhan adalah bulan pembalajaran, madrasah, tarbiyyah atau istilah-istilah lain tentang keutamaan bulan ini. Ya, aku tahu semua itu. Tapi apa yang terjadi dengan Ramadhan-ramadhanku?Tapi kenapa hati ini merasa bahwa tidak ada bedanya Ramadhanku sekarang dengan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Kenapa hati ini biasa saja menyambut Ramadhan dengan segala keutamaannya. Tak ada persiapan khusus untuk menyambutnya, paling-paling ikut nempelin poster bertuliskan “Marhaban ya Ramadhan” di kampus. Apakah sudah terlalu seringnya aku bertemu Ramadhan sehingga menganggap biasa bulan ini.
Aku puasa seperti orang-orang yang lainnya. Aku tidak makan dan minum dari Subuh sampai Maghrib. Aku ikut berbuka seperti buka orang kebanyakan yang sedang puasa. Tapi infotainment, ngegosip tetep, ngomongin orang nggak boleh ketinggalan, atau nongkrong-nongkrong sambil nunggu buka masih. Tapi kan aku nggak makan dan nggak minum, berarti sah dong ya puasaku.
Jujur aku biasanya banyak tidur di bulan puasa. Alasannya badan lemes, capek, dan segudang alasan yang lainnya. Eits jangan salah aku tahu dalilnya kok, katanya tidurnya orang yang sedang berpuasa itu ibadah. Nah lo, berarti aku nggak salah dong ya.
Jujur-jujuran lagi ini. Aku ikut tarawih juga lho, jangan salah. Biasanya sama temen-temen hunting mushola yang cepet selesainya. Tapi semakin lama kok semakin malas aku tarawihnya ya. Dari mulai nggak ikut dan sholatnya nanti habis tidur dulu sampai nggak tarawih sama sekali. Biasalah habis buka,makanbanyak itu bikin ngantuk dan kan kalau ngantuk sebaiknya istirahat dulu baru sholat, ya nggak?
Aku juga ikut kajian dan tadarus AlQuran juga. Tapi nasibnya mirip seperti nasib tarawihku. Banter di awal dan mulai lembek ditengah-tengah dan sudah bosan diakhirnya. Semuanya itu terjadi dari tahun ke tahun, ya seperti itu.
Apakah anda selama ini seperti itu saudaraku? Wahai saudara-saudaraku ! wahai orang-orang yang telah mengikrarkan kalimah syahadat dalam hatinya. Ramadhan kembali datang dan menyapa. Kalau dulu, Ramadhan seringkali berlalu begitu saja, tersia-siakan, maka sekarang pergunakanlah ia dengan sebaik-baiknya. Karena kita tidak tahu apakah kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Jadikanlah ia sebagai sarana untuk membebaskan diri kita dari jilatan api neraka, jadikan ia sebagai kunci untuk membuka surga Firdaus yang telah dijanjikan oleh-Nya. Perbanyaklah berbuat baik, silaturahim, tasbih, tahmid ,takbir, dan mohon ampunan. Hidupkanlah tempat tinggalmu dengan ayat-ayat-Nya. Jauhkanlah dirimu dari amarah, kesukaan ghibah, dan hal-hal yang membunuh keutamaan bulan Ramadhan ini.
Siapa tahu ini Ramadhan terakhir bagi anda !!!

Senin, 02 Agustus 2010

A Poem for Me 4 : Sajak Kehidupan

Tak jelaslah apa yang aku cari
jika hidup ini tak segera kuperbaiki
tak jelaslah apa yang menjadi mimpi
jika fikiran ini telah ternodai

akan tersesatlah diri ini
jika terus terkungkung perkara duniawi
akan rugi, rugi dan rugi
jika hawa nafsu terus memegang kendali

akan jelas jalan ini
ketika ingat kemana kita akan kembali
akan terang haluan ini
jika tahu apa yang kita cari

akan indah perjalanan ini
jika ingat apa yang menjadi janji
akan damai hati ini
jika ingat kedamaian yang menanti
yang kekal abadi
akan sempurna hidup ini
bagi manusia yang mau kembali
ke jalan lurus menuju Ilahi Rabbi

(renungan ramadhan)