Cerita-cerita tentang pengalaman dan tumpahan pikiran yang mungkin berguna. Sengaja tidak dipublikasikan, tapi kalau ada yang nyasar ya, salam kenal ^^..semoga bermanfaat. (since 25 Juli 2010)
Minggu, 15 Maret 2015
dear dear
Today is just like another day, with some routines and I don't know why I am so feeling upset, going mad and so on and so on. I plan to do some stuffs but there were no idea could come out from my heavy brain, just like a kids hiding behind the tree then slept. For hours i face my laptop and see nothing. My nine-half fingers ready for hitting the tuts of my keyboard, but just like soldiers with no captain, just stay on it. Arrgh, gosh..what i supposed to do. I have many works but nothing have been done.
Have you ever be in that situation?
Dear deary..
So many things happen in this early lovely fifteens. Then it reaches into another peak when someone ask you to think about something i haven't though yet. I am sure you know what I mean, a 25 years old guy's stuff. Ah sudahlah....haha.
Dear deary...back to my laptop again...argh many journals but none have been completely completed. I don't know what's wrong with my brain, she (refers to my brain :P) just like hard-headed girl who just get her period.
Selasa, 10 Desember 2013
Pelajaran dari Bidan Sunarti
![]() |
| Bidan Sunarti di kediamannya yang asri ^^ |
Dalam kesederhanaannya tidak memupus kesehajaan yang ditampilkan. Di sela-sela kesibukannya di ruang prakteknya, yang sekaligus rumahnya, Ibu Sunarti mau bercerita tentang kisah hidup selama 21 menjadi bidan di daerah pedalaman. Dengan suguhan segelas kopi susu, suasan siang itu semakin hangat. Nampak tutur kata Ibu Sunarti tertata, meski sesekali ia mengambil napas jeda.
Penanya (P) : Sudah berapa lama Ibu menjadi bidan?
Ibu Sunarti(IS): Saya sudah 21 tahun menjadi bidan. Waktu itu saya lulus tahun 1991 dari D1 Kebidanan di Poltekkes Jogja. Sebenarnya kalau di sini (red: Kokap), saya baru 17 tahun. Awal-awal dulu, sekitar 4 tahun berkerja di daerah lebih bawah, di pinggiran kota. Baru sekitar tahun 1995 saya pindah kesini. Perjuangan sewaktu memutuskan pindah kesini.
P : Selama 21 tahun menjadi bidan, pasti banyak hal yang telah dialami. Pengalaman apa yang menurut ibu paling berkesan?
IS : Setiap hari selalu ada saja pengalaman menarik dan berkesan. Salah satunya yang berkaitan dengan gizi, suatu saat pada saat merawat ibu post-partum (red: kondisi sehabis melahirkan). Saya melihat anak-anak berebut makanan yang ada di tampah (red: wadah dari anyaman bambu). Mereka sampai nangis dan cakar-cakaran karena rebutan makan. Ketika saya coba lihat ternyata mereka berebut nasi thiwul (makanan dari ketela, pengganti nasi). Sakit hati saya, kekayaan negara kita seolah tak bermakna apa-apa. Dari situ saya punya tekad agar ibu-ibu bisa menyediakan makanan yang bergizi bagi anaknya. Makanan bergizi yang tidak harus mahal.
P : Bisa Ibu ceritakan proses dari sebuah keprihatinan menjadi sebuah ide memberdayakan masyarakat untuk bisa menyediakan makanan bergizi yang tidak mahal?
IS : Waktu itu, di tahun 1997 pada saat krisis moneter. Saya berpikir kalau anak-anak pola makanannya seperti ini, saya tidak bisa membayangkan kedepannya seperti apa pertumbuhannya. Ibu-ibu juga sudah tidak terlalu memikirkan sampai situ. Apa-apa serba mahal, banyak yang kemudian menjadi TKI. Tambah tidak terurus lagi anaknya.
![]() |
| Bidan Sunarti di acara kader kesehatan |
Waktu itu saya jujur tidak tahu bagaimana memulainya. Awalnya saya coba kasih stimulan berupa sedikit uang, ternyata tidak ada pengaruh apa-apa. Saya pikir salah cara ini. Kemudian saya berpikir lagi. Kenyataan bahwa daerah sini yang termasuk kantong kemiskinan DIY, memiliki tanah yang kurang subur karena tanah liat. Yang bisa tumbuh disini adalah singkong, tapi kasian kalau setiap hari makan daun singkong. Akhirnya waktu itu saya melihat buku yang menarik tentang pembudidayaan tanaman keluarga di perkotaan. Bukunya menarik, sehingga saya memutuskan untuk membeli buku itu, cuma 15 ribu rupiah. Kemudian saya coba praktekkan di pekarangan rumah. Harus hati-hati sih, karena bisa kalah sama ayam yang “ganas-ganas”.
Awalnya, saya ngajak masyarakat di sini itu ya tidak gampang. Banyak yang meragukan tanaman bisa tumbuh di tanah yang seperti ini (tanah liat). Namun seiring tanaman di pekarangan saya mulai tumbuh baik, banyak yang ingin dan waktu itu saya bantu dengan memberikan benihnya kepada masyarakat. Kemudian saya mencoba memulai dengan mengambil sampel di dusun yang lebih atas untuk mengajak mereka menanam tanaman pekarangan. Dan hasilnya Alhamdulillah baik.
P : Bagaimana tentang budidaya jamur yang kemudian ibu kembangkan?
IS : Nah, waktu pertama hanya jenis sayuran yang kita kembangkan. Namun kemudian saya berpikir, proteinnya bisa dipenuhi darimana ya? Kalau daging dan telur jelas mahal, perlu uang. Waktu itu saya sedang mengantarkan anak saya ke rumah pintar di dekat sini (program SIKIB), dan secara tak sengaja saya membaca tentang jamur dan kandungan nutrisinya yang lengkap. Saya kepikiran untuk mencoba membudidayakannya disini (tahun 2010). Dan Alhamdulillah walaupun belum banyak tapi hasilnya sudah kelihatan dan respon dari masyarakat juga baik.
P : Bagaimana dengan dukungan dari pejabat setempat terkait program ibu?
IS : Tentu saya meminta dukungan dari semua pihak tapi memang baru sebatas dukungan moral saja. Untuk finansial selama ini masih swadaya. Saya hanya bidan desa biasa, jadi kalau ada sedikit rejeki ya coba saya cak’e (red: terapkan, jawa). Walau tidak banyak yang penting, dimulai dulu, nanti selanjutnya dipikirkan lagi bersama-sama.
P : Pernahkah ibu mengalami fase jenuh dan hampir putus asa menghadapi tantangan-tantangan dari usaha yang dilakukan ? Bagaimana ibu mengatasinya?
IS : Pasti pernah lah, setiap orang juga pernah mengalami fase jenuh. Kalau saya ketika sudah mendekati fase itu, saya istirahat sejenak dari program, ditinggal dulu baru nanti kembali lagi kalau sudah fresh. Buat masyarakat kita ndak boleh menyerah, ndak boleh putus asa. Karena siapa lagi kalau bukan kita. Dulu waktu awal-awal saya disini juga tantangannya luar biasa. Bayangkan daerah yang aksesnya sulit dan belum ada listrik seperti sekarang, padahal Jogja lho... Tapi saya bahagia disini, melihat orang lain bahagia karena keberadaan kita itu kebahagiaan yang tak terukur dengan uang. Itu yang membuat saya bertahan.
P : Bagaimana ceritanya sampai kemudian Ibu memenangkan Srikandi Awards di akhir tahun 2012 yang lalu?
IS : Sebenarnya saya tidak tahu tentang Srikandi Awards, tetapi tiba-tiba saja saya dihubungi bahwa saya masuk nominasi. Saya sempat bilang “Mbok jangan saya, saya takut”. Tapi Pak Alwan bilang, sudah diterima saja, nanti akan ada orang ke tempat ibu. Terserah ibu orang itu mau diapakan. Waktu itu saya juga tidak menyiapkan apa-apa, ketika ditanya ibu-ibu kader pun, saya bilang tidak perlu menyiapkan apa-apa, natural saja. Petugas yang datang saya ajak melihat kegiatan-kegiatan kami yang memang sudah rutin dilaksanakan. Pokoknya saya membuat kegiatan dengan masyarakat disini, bukan untuk award atau sejenisnya, intinya untuk srawung (bergaul, jawa.red) dengan masyarakat. Dan masyarakat bisa menikmati dan merasakan manfaatnya. Dan inovasi-inovasi ini muncul dengan melihat realita di masyarakat, kemudian cari inspirasi dengan membaca dan membaca.
![]() |
| Srikandi Award untuk Bidan Sunarti, gile ndro, Terbaik Pertama coba ^^ |
P : Apa ibu puas mendapatkan Srikandi Awards 2012 ini?
IS : Wah, kalau menurut saya, yang pantas mendapat penghargaan ini adalah ibu-ibu kader disini. Mereka yang berusaha keras, ngangkat timbangan kemana-mana, naik gunung dengan membawa barang-barang berat untuk kegiatan dan sebagainya. Saya cuma membantu memulai saja, setelah itu, ibu-ibu kader disini bekerja keras bersama-sama.
P : Apa rencana dan impian Ibu setelah ini?
IS : Setelah ini saya pengen mengajak masyarakat di sekitar waduk Sermo (Kulonprogo, Yogyakarta) untuk memanfaatkan tanah disekitar sana untuk tanaman keluarga dan juga taman bunga. Nanti hasilnya bisa dijual kepada wisatawan yang datang ke Waduk Sermo. Selain itu, bisa mempercantik pemandangan di waduk Sermo. Saya ingin nanti diberi nama Taman Krisan. Siang ini saya mau bertemu dengan ibu-ibu disana untuk pertama kali. Semoga lancar dan saya berharap dukungan dari banyak pihak, karena saya hanya bidan desa biasa, tidak bisa kalau bekerja sendirian.
Ibu Sunarti menutup percakapan dengan sebuah kesimpulan tersirat bahwa tidak susah untuk berbuat baik kepada masyarakat. Beliau melihat persoalan, dengan tangan sederhananya berusaha mencari solusi terdekat dari kehidupannya. Ksederhaan, kesahajaan, dan kepedulian sepertinya menjadi nilai-nilai yang diyakini kuat. Seperti kata Pramoedya, bahwa kesederhaan adalah anugerah alam. Tidak perlu congkak akan ketinggian ilmu dan title pendidikan.
Maju terus Ibu Sunarti. Kami para dokter berutang kepadamu. (*)
dr.Mushtofa Kamal, dokter puskesmas
Potret Puskesmas di Kabupaten Bangkalan
Bangkalan Madura dibatasi oleh laut dan daratan. Di bagian utara dan barat dibatasi oleh Laut Jawa. Sisi sebelah selatan bersinggungan dengan Selat Madura, sedangkan sisi timur dibatasi oleh Kabupaten Sampang. Kabupaten Bangkalan terdiri atas 18 kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Bangkalan.
Puskesmas pertama yang kami kunjungi adalah Puskesmas Jaddih, Kecamatan Socah. Sambutan para petugas puskesmas hangat dan kekeluargaan. Sengat panas di Pulau Garam sirna seketika.
Seperti sebagian kondisi Puskesmas di berbagai daerah, sarana dan prasarana Puskesmas Jaddih pun masih jauh dari harapan masyarakat. Puskesmas ini memilki 20 desa sebagai daerah binaan dengan wilayah cakupan yang luas. Cukup besar untuk ukuran puskesmas di kecamatan. Hal ini diperparah dengan kondisi jalan yang relatif masih buruk, hingga akses puskesmas harus ber-effort besar. Meskipun jalan tepat di depan Puskesmas kini sudah baik berkat perbaikan yang dilakukan tepat dua minggu sebelum kedatangan kami.
“Saya merasa puas dengan pelayanan yang diterima di puskesmas Jaddih, petugas kesehatan yang cepat tanggap dalam melayani pasien dan bersikap ramah, hanya saja akses menuju puskesmas menjadi sulit karena kondisi jalan yang rusak”, ucap Cholis, salah satu masyarakat yang menjadi pasien Puskesmas Jaddih.
Itu dari segi akses. Bagaimana dengan simah, ‘isi rumah’ dari Puskesmas Jaddih? Tidak jauh berbeda memang. Sarana dan prasarana penunjang kinerja karyawan terbatas, seperti ambulan atau mobil untuk menjangkau pasien dengan jarak jauh. Apalagi ketika ditengok, bahwa Puskesmas Jiddah juga mengalami keterbatasn tenaga ahli kesehatan.
Menurut Kepala Puskesmas Jaddih, meskipun jumlah sedikit tapi memiliki keterampilan cukup memadai. Tetapi tetap perlu ditingkatkan kembali keterampilannya, tambahnya. Harapan beliau, tenaga kesehatan yang ada dapat terus memacu diri untuk jadi lebih terampil dan lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Distribusi obat-obatan yang lama dan tidak merata dari pemerintah juga menjadi kendala Puskesmas Jaddih. Menurut asisten apoteker setempat, bahkan pernah sampai kekurangan obat-obatan. Dengan lamanya distribusi obat-obatan membuat stok obat kosong di Dinkes setempat. Hal ini membuat Puskesmas harus berusaha menyediakan sendiri obat-obatan untuk pelayanan kepada masyarakat. Pernah terjadi gudang penyimpanan obat terendam banjir. Itu karena kondisi gedung yang masih kurang bagus. Miris memang.
Menurut Bidan setempat, kerjasama dengan paraji setempat sangat baik. Sebelumnya melalui pendekatan yang cukup panjang dan mendalam, bidan-bidan setempat berhasil merangkul paraji dan bermitra hingga kini. Program pelatihan paraji berjalan dengan baik. Berkat kerjasama ini paraji tidak lagi menangani persalinan sendirian, melainkan selalu memanggil bidan untuk meminimalkan kematian ibu dan bayi. Bahkan uniknya menurut salah satu paraji yang kami wawancarai, meski sudah menjadi paraji selama 20 tahun, beliau tidak pernah berani memotong tali pusar sendiri. Beliau juga sudah tahu batasan antara tindakan yang boleh dilakukan paraji dan yang harus dilakukan oleh bidan.
Seorang perawat di Puskesmas Jaddih, berharap agar institusi pendidikan kesehatan lebih ketat dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru. Memilih yang benar-benar memiliki naluri menjadi tenaga kesehatan sehingga dapat bekerja lebih baik, lebih maksimal dan lebih ikhlas dalam melayani masyarakat. Menurut koordinator bidan setempat, mahasiswa tenaga kesehatan, khususnya calon bidan, dinilai belum memiliki ketulusan dan kecakapan keterampilan. Bahkan seorang dokter sekalipun. Pernah terjadi, seorang dokter gigi hanya bertahan 3 bulan di Puskesmas Jaddih, dengan alasan pergi yang terkesan manja. Dan sampai sekarang belum ada penggantinya.
Harapan dari berbagai narasumber adalah perbaikan dan penambahan sarana dan prasarana Puskesmas untuk memningkatkan pelayanan kesehatan. Penambahan jumlah tenaga kesehatan serta pelatihan tenaga kesehatan. Satu lagi, mereka mengharapkan pemerintah baik pusat maupun daerah memerhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan serta memperjelas status kepegawaian mereka. Harapan ini tentu wajar mengingat area pengabdian dan beban tugas yang besar.
Lepas Salat Jumat kami berangkat dengan penuh semangat ke Puskesmas kedua yaitu Puskesmas Arosbaya.
Kurang lebih 30 menit, kami tiba di Puskesmas Arosbaya. Puskesmas ini sangat jauh berbeda dengan Puskesmas Jaddih. Puskesmas Arosbaya telah memiliki bangunan yang jauh lebih kokoh dan besar. Puskesmas ini sudah menjadi Puskesmas PONED (Penanganan Obstetri Neonatal Emergency Dasar) dengan tenaga kesehatan yang sudah diberikan pelatihan PONED.
Bangunan rawat inap Puskesmas Arosbaya lebih baik dan terawat dengan berbagai kelas rawat inap. Bahkan Puskesmas ini juga dapat disebut Puskesmas Plus karena selain tersedianya fasilitas rawat inap, Puskesmas ini juga memiliki Poli Khusus yaitu Poli dokter spesialis mata, kandungan, gigi, dll.
Dari wawancara kami dengan kepala puskesmas, kami mendapati bahwa puskesmas ini memiliki pelayanan yang baik dan dicari oleh masyarakat. Hanya sikap para tenaga kesehatan yang perlu diperbaiki. Rata-rata tenaga kesehatan di sini tidak memiliki sikap yang baik dan kurang tanggap. Menurutnya perlu dilakukan penyaringan peserta didik agar tidak menghasilkan lulusan yang asal jadi. Lulusan yang tidak hanya mengacu pada nilai, tetapi sikap dan ketanggapan juga harus diperhatikan. Lulusan dengan kecakapan dan kebaikan sikap akan memberikan pelayanan lebih baik kepada masyarakat.
Senada dengan itu, dokter gigi di Puskesmas setempat merasa sikap tenaga medis yang baru lulus memiliki sikap kurang baik dan keterampilan minim. Menurut bidan ahli setempat, para mahasiswa tenaga kesehatan itu kurang memiliki motivasi dan tidak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dalam menggali ilmu pengetahuan di lapangan. Dinilai kedisiplinan mereka rendah.
Menurut seorang perawat ahli, sarana dan prasarana yang diberikan pemerintah tidak standar dan cepat rusak. Sering butuh perawatan.
Dengan kondisi plus-minus seperti ini, masyarakat sudah merasa puas dengan pelayanan Puskesmas Arosbaya. Mereka mendapatkan pelayanan prima, tanggap, dan nyaman. Berbicara tentang kualitas tenaga kesehatan menurut beberapa masyarakat harus dilakukan perbaikan karena tidak meratanya sebaran tenaga ahli. Dan terakhir mereka mengimbau agar pendidik tidak menjadikan institusi kesehatan sebagai alat untuk mengeruk keuntungan.
Kolaborasi, birokrasi dan distribusi pelayanan kesehatan di Kabupaten Bangkalan harus diperhatikan oleh pemerintah pusat dan daerah dalam berbagai bidang terutama sebaran sumber daya manusia serta sarana dan prasarana yang memadai, agar dapat mewujudkan pelayanan kesehatan yang maksimal serta dapat meningkatnya derajat kesehatan masyarakat Bangkalan. Pengetahuan, keterampilan dan kompetensi tenaga kesehatan harus ditingkatkan sejak bangku kuliah dan hal tersebut menjadi tanggungjawab bersama antara institusi pendidikan kesehatan dan pemerintah.
Kelak kita akan melihat masyarakat sehat, karena tenaga medisnya berkualitas hebat, cukup jumlahnya, bagus etikanya, dan tentu mudah dijangkau masyarakat. (*)
Bangkalan, 23 Agustus 2013.
dr.Mushtofa Kamal
Ketika Puskesmas Overload
Di pikiran kita puskesmas lokasi paling pas untuk berobat masyarakat bawah dan orang miskin. Lokasinya di daerah terpencil, dengan peralatan kesehatan kurang modern. Suasananya riuh dan kumuh. Dokter-dokter datang terlambat, susah ditemui dan malas-malasan. Itu memang gambaran pertama kalau kata puskesmas. Dan faktanya memang demikian. Terlebih di kota-kota besar, dimana akses rumah sakit terbuka luas, Puskesmas menjadi mata kiri yang tidak perlu diperhitungkan. Masyarakat lebih memilih berobat ke rumah sakit.
![]() |
| Puskesmas Majalaya |
Fenomena itu dapat ditemukan di Puskesmas Majalaya Baru, Kabupaten Bandung. Puskesmas di daerah sub urban Kabupaten Bandung. Lumayan jauh dari daerah perkotaan yang hingar-bingar dengan julukan Paris van Java. Dengan mobil memakan waktu dua jam perjalanan dari pusat kota Bandung. Jangan tanya bagaimana kondisi jalan. Beraspal atau tidak. Kita tentu tahu bagaimana kondisi jalan di daerah-daerah terpencil. Rahasia umum.
Lokasi Puskesmas Majalaya Baru yang strategis, di pinggir jalan besar pertemuan beberapa daerah di sekitar Majalaya, menjadikan puskesmas ini seperti lampu bagi laron, magnit besar bagi penduduk untuk berobat. Penduduk sakit dari daerah kantong sekitar Majalaya yang sama-sama miskin semua berbondong-bondong ke Puskesma Majalaya Baru. Mau ke rumah sakit jauh, mahal. Jadilah Puskesmas Majalaya Baru hampir-hampir kelebihan beban pasien.
Pagi menjelang siang, antrean mengular di muka loket pendaftaran pasien seperti sedang mengantre sumbangan atau raskin. Kepala Puskesmas Majalaya Baru, drg Endang NF, M.Kes bahwa pasien di puskesmas tersebut setiap hari membludak. Majalaya merupakan daerah dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai pegawai pabrik dan sedikit yang bekerja sebagai petani maupun wiraswasta. Dan puskesmas Majalaya baru menjadi salah satu andalan masyarakat sekitar untuk berobat ketika sakit. Puskesmas ini memiliki total 42 tenaga kesehatan meliputi 4 dokter umum, 2 dokter gigi, 11 perawat, 11 bidan dan 14 tenaga lain.
![]() |
| Puskesmas Majalaya |
“Bayangkan saja, 400 pasien dalam sehari. Ada 4 dokter umum dan 3 dokter gigi, termasuk saya. Namun, saya sendiri sudah cukup banyak urusan administratif yang harus dikerjakan”, terang Ibu Endang sambil menunjukkan tumpukan dokumen yang siap ditandatangani. Wajah ayunya tampak letih karena beban pekerjaan.
Untuk menyiasati hal itu Puskesmas Majalaya Baru mengeluarkan surat kewenangan untuk perawat dan bidan, supaya bisa membantu pemeriksaan dan pengobatan pasien. Jadi tidak heran ketika kita melakukan kunjungan ke Puskesmas Majalaya Baru, bidan dan perawat juga berkerja laiknya seorang dokter. Memang kejadian fatal belum terjadi, semoga tidak akan terjadi. Tetapi kemungkinan ke sana akan tetap ada, andai kondisi minim tenaga kesehatan belum juga teratasi.
Kondisi kekurangan tenaga medis sedikit terbantu dengan sering dijadikannya Puskesmas Majalaya sebagai lokasi magang/internship bagi dokter, bidan maupun perawat yang baru lulus dari kampus.
Hal ini cukup membantu dalam pelayanan karena ada tambahan tenaga kesehatan yang bisa diperbantukan di puskesmas. Ketika ditanya soal kompetensi tenaga kesehatan, dr. Rina, salah satu dokter di Puskesmas Majalaya Baru mengatakan bahwa apa yang didapat di kampus sudah cukup. Namun bagi lulusan baru harus sebanyak-banyaknya menggali pengalaman klinis di lapangan, terutama komunikasi efektif yang tidak bisa diajarkan tapi didapat dengan latihan langsung kepada pasien. Mereka butuh jam terbang.
Hal sama juga dialami bagi bidan yang baru saja lulus. Bagi bidan-bidan yang baru lulus, biasanya masih belum siap untuk dilepas sendiri. Mereka masih perlu beberapa kali pendampingan dari dokter maupun bidan senior. Pengalaman klinis yang cukup akan membantu bidan maupun tenaga kesehatan lain untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan yang optimal. Bagaimana pun pasien bukan robot, maneken, atau jenazah yang boleh sesukanya diotak-atik. Pasien adalah manusia hidup, butuh cara komunikasi cara melakukan pemeriksaan yang baik.
Menurut drg. Endang, salah satu kelebihan tenaga medis di Puskesmas Majalaya Baru adalah semangatnya untuk menambah ilmu. Mungkin kesadaran bahwa puskesmas tempat mereka bekerja sedemikian padat oleh pasien, makan keterampilan dan keahlian medis harus terus ditingkatkan.
“Saya sangat senang karena perawat dan bidan disini sangat semangat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Bahkan ada yang sekolah lagi dengan biaya sendiri”, kata drg. Endang dengan semangat.
Kompetensi dan pengetahuan memang harus selalu ditingkatkan dan di-update. Namun, dr Rina menyayangkan bahwa dari dinas kesehatan sendiri tidak konsisten menyelenggarakan pelatihan-pelatihan maupun seminar bagi tenaga kesehatan. Padahal hal tersebut sangat penting. Jauh dan terpencilnya daerah Majalaya menjadi alasan utama kenihilan tersebut.
“Jadi ya seringnya kami hanya update ilmu lewat internet. Dan untuk dokter umum sebaiknya juga diberikan pelatihan-pelatihan khusus seperti EKG dan ATLS-ACLS”, terang dr Rina.
![]() |
| Pasien menunggu dengan sabar :P |
Untuk ukuran puskesmas, Puskesmas Majalaya Baru memang overload pasien. Meski dibantu dengan tenaga medis yang magang maupun bidan dan perawat yang secara darurat ditugaskan sesekali mengambil alih peran dokter. Mereka benar-benar membutuhkan tenaga medis khususnya dokter. Wahana untuk meningkatkan skill dan pengetahuan terbaru akan dunia klinis belum dirasakan secara nyata. Mereka hanya mengandalkan internet untuk belajar. Kemungkinan buruk selalu ada dalam dunia klinis. Tetapi kalau tenaga medis yang cukup dan memiliki kemampuan tinggi ada, kemungkinan itu dapat diminimalisir.
Pemerintah pusat harus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menyiapkan dan menyediakan tenaga kesehatan, fasilitas dan sarpras, serta program pelayanan kesehatan untuk semua masyarakat, terutama masyarakat di daerah sub urban, yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari kemewahan fasilitas di kota besar. Program-program layanan kesehatan untuk masyarakat kurang mampu seharusnya dapat benar-benar membantu, bukannya mempersulit dengan aturan administrasi yang kompleks.
Kompetensi dan kewenangan dalam memberikan layanan kesehatan merupakan hal utama yang harus dibenahi dalam usaha memberikan pelayanan kesehatan paripurna kepada masyarakat. Kompetensi tenaga kesehatan harus ditingkatkan melalui pelatihan-pelatihan ataupun sertifikasi. Di sisi lain, kewenangan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan dapat terjaga sesua standar jika jenis dan jumlah tenaga kesehatan yang tersedia dapat terpenuhi.
Setiap masyarakat berhak mendapatkan layanan kesehatan terbaik, sehingga pendidikan tinggi kesehatan diharapkan mampu menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten dan profesional.
Sehingga nanti tidak akan muncul klausa, “Orang miskin dilarang sakit!”. Miskin kaya tetap memiliki hak sehat yang sama.(*)
dr.Mushtofa Kamal, dokter puskesmas ^^
Sabtu, 07 Desember 2013
Secangkir Teh untuk Che Guevara
Ernesto Guevara Lynch, seorang penderita asthma yang senang main rugby, senang menulis dan melahap berbagai macam judul buku. Chanco atau si Babi, julukan dari Guevara muda yang kemudian memutuskan untuk menjadi seorang dokter pada tahun 1947. Guevara muda memiliki jiwa petualang yang tinggi, bahkan pada usia 23 tahun, Chanco telah memulai perjalanan mengelilingi Amerika Selatan bersama dengan Alberto Granados, sahabat dan pelatih rugby-nya, dengan mengendarai sepeda motor legenda “La Poderosa II” atau Si Perkasa 2. Entah yang pertama seperti apa aku juga tidak begitu tahu.
Dua petualang gila yang kemudian menemukan berbagai macam fenomena masyarakat di Amerika Selatan. Perjalanan 10.000 km yang ditempuh selama kurang lebih 7 bulan ini, Ernesto melihat penderitaan berat kamu miskin. Perjalanan yang awalnya untuk sekedar berpetualang justru menyingkap sisi gelap Amerika Selatan. Kemiskinan dan penindasan.
Klinik Kusta San Pablo di Peru menjadi salah satu titik balik seorang Guevara muda, dimana si Babi bertekad untuk mengobati akar penyebab berbagai macam penyakit ini yaiut kemiskinan dan kelaparan. Tanggal 26 Juli 1952 keduanya memutuskan berpisah dan Guevara kembali ke Argentina untuk melanjutkan pendidikannya sebagai dokter.
Guatemala, negara pertama yang menjadi tujuan Guevara setelah lulus sebagai dokter. Pergolakan politik di Guatemala yang dipimpin oleh Jacobo Arbenz Guzman saat itu mempertemukan Guevara dengan para pelarian Kuba dan juga Hilda Gadea Acosta, istri pertama Guevara. AS berhasil menguasai Guatemala menyebabkan Guevara berpindah ke Meksiko dan hidup bersama dengan Hilda. Di tengah kesulitan ekonomi keluarganya, Guevara sempat menjadi seorang fotografer. Di situ juga Ernesto bertemu dengan Fidel Castro, seorang pengacara, yang saat itu sudah menjadi salah satu pemimpin karismatik di kalangan warga Kuba.
“Gerakan 26 Juli” itulah nama perlawanan tehadap Batista di Kuba yang diambil dari tanggal tragedy perlawanan Barak Mancada. Guevara memutuskan untuk bergabung dengan gerakan tersebut dengan mengikuti pelatihan militer merangkap tim medis pasukan.
Granma
Kapal motor kecil itu bernama Granma. Kapal kecil berkapasitas 25 orang ini bertugas mengantar pasukan gerakan 26 Juli ke Kuba. Bersama dengan 81 anggota pasukan, Granma dengan gagah melintasi lautan menuju pantai Kuba. Dua hari lebih lambat dari yang diperkirakan, kapal motor kecil Granma berhasil mendarat 2,5 kilometer dari titik pendaratan yang direncanakan, tanpa sambutan dan langsung melanjutkan perjalanan ke pegunungan Sierra Maestra.
Perjalanan ke Sierra Maestra (to be continued)
Kamis, 05 Desember 2013
Sudah Lama Nggak Nge-Blog
![]() |
| rafting pertama^^ |
Sambil nunggu adzan maghrib, iseng-iseng nih buka-buka kompas.com, lumayan buat refreshing kalau beritanya pas bagus, tapi kalau nggak ya bikin emosi malahan. Dan saya tertarik salah satu artikel pak beye, hehe..piss pak.
![]() |
| SBY megang 2 jagung bareng orang-orang (harusnya judulnya ini ya? :P) |
Oiya, pak, kalau ga salah dulu kita pernah swasembada beras kan ya? Kalau tidak salah sih. Trus sekarang gimana ceritanya pak? #just ask.
Bukan nyinyir atau apa, saya cuma warga negara yang pengen semuanya bisa menikmati beras atau apapun makanan pokoknya dengan layak. Gak lucu ah kalau negara yang katanya tanah surga ini masih ada yang kelaparan, gizi buruk dan sebagainya. Pasti ada yang salah urus sehingga jadi seperti itu. Oke, apapun itu semangat deh buat para pemimpin jujur dan berdedikasi, dan buat pemimpin korup atau bantuin temennya korup, apapun itu, kalian lebih jauh lebih buruk dari bakteri E.coli.(kamal)
Senin, 23 September 2013
Laziness and Turning Point
Jumat, 27 Juli 2012
Trilogi sambil menyelam minum air
yep, tulisan kesekian dari tulisan-tulisan ga penting menurutku.
Pernah denger mungkin, atau sering kalimat ini muncul dalam beberapa tulisanku.
"Sambil menyelam minum air, kalau perlu ada berlian atau mutara ambil saja, ada ikan ambil saja, apapun yang kiranya bagus ambil saja", kurang lebih seperti itulah.
Dan memang itu aku yang memunculkan dan mempraktekannya. Efetktifkah? bergunakah? secara umum berguna dan memang bisa naikin CV lah, atau capaian pribadi kita.
dengan berprinsip itu, true story, aku bisa dapatkan apapun yang aku mau (kasarannya). Banyak koneksi yang bisa aku bentuk, banyak project yang bisa kukerjakan, dan banyak juga fasilitas serta uang (mungkin) yang bisa diperoleh. Dalam peribahasa tersebut tersimpan pesan bahwa kita harus bersikap oportunis, dalam artian capai dan kerjakan apapun yang bisa kamu kerjakan. Seluas dan sebanyak mungkin, karena kesempatan tidak datang dua kali. Benar kan. TERUS Pertanyaannya, "Lha terus kenapa hal ini dipermasalahkan?"
Ternyata peribahasa modifikasi tersebut belum selesai kawan. Masih ada lanjutannya. Lanjutan yang sebenarnya merupakan suatu refleksi terhadap diriku sendiri. Lanjutan yang muncul setelah sekian lama aku mempraktekan prinsip-prinsip itu...kurang lebih lanjutannya seperti ini..
".....Namun ingat, seberapa besar kantung yang kau bawa, kalau semuanya kau ambil dan kau masukkan, sedangkan kantungmu tidak terlalu besar, maka siap2 saja untuk tas itu sobek dan berantakanlah barang-barang yang sudah kamu masukkan"
Kapasitas dan kemampuan, hal yang tidak boleh dilupakan. Jangan mentang-mentang ada kesempatan, kemudian secara brutal (kalau tidak mau dibilang serakah) mengambilnya tanpa memikirkan kemampuan diri, tanpa memikirkan konsekuensi yang harus ditanggung setelahnya. Memang terlihat keren ketika kita terlibat dalam banyak hal, menjadi bagian penting dari banyak hal, berinteraksi dengan banyak orang, pergi kesana-kemari untuk urusan-urusan tersebut, memasang status-status sombong yang bikin kita untuk sementara mabuk. Dan memang, yang namanya mabuk itu nggak ada yang bener, setelahnya pasti akan jatuh, hilang keseimbangan.
Refleksiku untuk hari ini, perhatikan dan pertimbangkan kemampuanmu...seberapa besar kantung yang kamu miliki...
Rabu, 25 April 2012
April (bukan) Mop
Minggu, 01 April 2012
APalah Ya...
As usual, my story isn't that short. And I'll never make that short. Heheh..apa sih ya. Nah minggu ini pula,senin dihubungi bakal ada rapat untuk website di Saphire Hotel sebgai ganti tertundanya rapat di Jakarta pada hari Jumat sebelumnya, karena ada rapat dengan DPR or something like that lah. Oke, ga masalah buatku ga harus pergi ke Jakarta yang super ribet. Ga betah lah lama2 disana. But, akhirnya nggai jadi juga yang di Saphire. Whateverlah, yang penting tugas2 ku selesai, ntar juga ngikut untuk masalah2 kaya gituan. Hemm..karena ga jadi, maka diganti hari kamis kemare, rapat koordinasi web dan datang telat karena hatus ujian, tapi alhamdulillah semuanya lancar.
Untuk ujian, as expected, nggak cukup sekali. Yup berkali-kali, dan sering dibilang fatal, oh my God. Nunggunya lama, dan ya semua terjadilah. Haha..ketika ditanya, " menurutmu kamu lulus nggak? Aku bilang...nggak dok, masih banyak yang kurang." akhirnya ngulang lagi ujian hari berikutnya. Whateverlah, yang penting semua ga sia-sia. Dan Alloh SWT memang Maha deh...sedang galau-galaunya ngulang ujian dan dibilang gagal, tiba-tiba ada getaran handphone tanda ada sms baru. Ku bukalah dengan sedikit lunglai, maklum sedang spinal shock, jadi asal2an aja. Oh, nomer baru, ntar aja deh liatnya. Sudah kubiarkan beberapa lama sambil liat staff priksa pasien. Stelah agak lega coba aku cermati dan whatta....ntahlah nambah kegalauan atau sebagai kabar gembira. Dapat sms dari prof yang sangat ku kenal, dan saat itu sedang berada di Belanda, entahlah ada urusan apa. Isinya sederhanya begini, prof mata dari univ.Groningen, bilang masih ada satu slot untuk kandidat Ph.D baru untuk konsentrasi Glaukoma dan biologi molekular vitreous, dan menawarkannya padaku. Subhanalloh lah, di saat kegalauan melanda, muncul berita ini. Langsung aku bales, tertarik sekali dengan posisi itu, dan diminta untuk ketemuan minggu depan. Hemm, semoga lancar dan terwujud. Alloh memang punya caraNya sendiri yang tak terduga-duga untuk insyaAlloh hamba-hambaNya.
Pernah, entah kapan, kepikiran pingin banget punya tablet atau sejenisnya lah, untuk mempermudah kerjaan. Heheh...tapi cuma keinginan, jelas ndak punya duit buat beli gituan. Buat makan aja sudah susah nyarinya, harus tabraka-tabrakan waktu kesana kemari. Eh, kantor tempatku bekerja ada tablet Ipad yang relatively nggak terpakai, karena yang make sebelumnya sudah pake laptop mac juga. Ya sudah disuruh dipake dulu aja. Hahaha..walaupun bukan punya sendiri tapi yang penting punya lah ya.... Mungkin sekarang di pinjemi, suatu saat bisa punya sendiri. Heheh.. InsyaAlloh lah ya.
Minggu ini dari kejadian2 tersebut hikmah yang bisa diambil untuk evaluasi diri, introspeksi diri adalah bahwa hal- hal yang kita alami di dunia ini bukanlah suatu hal yang kebetulan saja. Lebih dari sekedar kebetulan, dibalut dengan doa dan kepercayaan penuh bahwa Dia tidak tidur. Alloh mendengar segala do'a doa kita, dan mengabulkannya dengan caraNya yang akita harus yakin itu adalah hal terbaik untuk kita.
Just do the best, you will get the best and Alloh will give the moooorree best than we can imagine..^^b
Sent from my iPad
Minggu, 04 Maret 2012
Lagi cukup seneng dengerin lagu Someone like you-nya Adele tapi pake yang versi Javier Colon. Bukan bermaksud ikut-ikutan nge-galau sih, cuma memang lagunya cukup enak di dengar.
Cerita lagi ajalah ya, minggu kemarin, hari Selasa kalo nggak salah termasuk hari paling hectic. Bukan apa-apa, tapi hari Senin, hari pertama masuk saraf dan malamnya langsung jaga unit stroke, trus paginya masuk seperti biasa, dan sorenya ada 2 agenda sekaligus, yaitu ngisi training di Ukesma UGM sama ada rapat website pendidikan kedokteran setelahnya (rapat dadakan ini).
Haha, biasalah, hari pertama belum ngerti apa-apa (sampe sekarang sih, :P), nah waktu itu dah bilang aku ga bisa jaga malem karena harus buat presentasi untuk besoknya, tapi apa daya, yang lain pada ga bisa juga, dan dengan agak kesel, akhirnya maulah diriku jaga (kesel karena yang lain alasannya pada nggak jelas). Akhirnya jaga unit stroke, harapannya sih malam ini bakal tenang dan bisa tidur nyenyak, tapi ternyata.....yasudahlah. Pertama ada pasien HHS (kenapa masuk bangsal stroke??), monitor 2 jam (KU dan GDS), okelah ya...enaknya disini kita boleh ngambil keputusan soal terapi dan perawatnya juga enak, sangat kooperatif, jadi malam ketika rresiden sudah tidur. Ikut aja algoritma I pikirku, dan sukses, lumayanlah ya. Eh dini hari masuk pasien baru lagi , oh God, monitor juga ni pasien. Eh ada juga pasien yang produktif sekali mukusnya, bolak balik harus suction. Disela-sela kesibukan itu, aku sempetin deh buat presentasi, yah semaksimal yang aku bisa buat dalam kondisi sperti itu. Akhirnya 90% lah jadi, nanti disempurnakan dibangsal ajalah.
*Tri mempersiapkan presentasi :
1.Jika waktunya cukup, maka buatlah sebaik-baiknya, penuh gambar-gambar interaktif, biar audience ga bosen.
2. Jika waktunya ga cukup, buatlah sebisanya, dan perbanyak diskusi,hohoooo,,,,
(kekacauan dalam presentasi Anda bukan tanggung jawab penulis pokoknya..)
Akhirnya jam setengah empat kurang izin buat absen sore, alhmdllh dapat izin, dan gooo...
(lanjut ntar deh..)
Rabu, 15 Februari 2012
Share lagi : Yok Bermanfaat Bagi Orang Lain ^^
Rabu, 08 Februari 2012
Share ^^
Senin, 23 Januari 2012
Izrail Ada Di Sampingku
Senin, 26 September 2011
Refleksi : Awal Sebuah Jalan Ketidaksengajaan
Sebuah sejarah bagi diriku terukir pada hari ini.Di awali dari sebuah ketidaksengajaan menjadi sesuatu yang benar-benar sejarah bagiku. Ya, saat ini aku berdiri dalam dekapan jalan ketidaksengajaan. Toga hitam membalut tubuh keringku. Toga hitam ketidaksengajaan mungkin. Mungkin tidak ada yang tahu bahwa selama ini aku berbohong pada mereka. Bahkan aku berbohong pada diriku sendiri. Entah kebohongan yang disengajakan atau suatu ketidaksengajaan. Sering aku tertawa dalam hati ketika melihat proyeksi diriku dalam sebingkai cermin kecil. Sering pula aku menangis dalam hati ketika melihat betapa apa yang kucapai saat ini adalah buah dari ketidaksengajaan. Ketidaksengajaan yang indah. Ketidaksengajaan yang mengantarkanku pada keadaanku saat ini.
Teringat hampir empat tahun lalu ketika aku masih duduk di kelas XII SMA. Ya, XII IPA 5,nostalgia tak terlupa. Aku yang termasuk siswa yang dengan keberuntungan bisa menjadi bagian tak terlupakan dalam perjalanan sekolahku selama 3 tahun ini. Bersyukur karena aku yang sangat biasa ini bisa tercatat dalam catatan lain di sekolahku, tentu catatan yang baik.
Saat itu yang aku pikirkan adalah bisa melanjutkan sekolah dan kemudian bekerja. Benar-benar tipikal orang biasa. Pikiranku sudah tertuju pada akademi militer. Itulah cita-cita sederhanaku untuk bisa menjadi seorang perwira,perwira angkatan darat. Entahlah, setan apa yang merasuk dalam pikiranku saat itu. Waktuku aku habiskan untuk mempersiapkan fisik dan mental untuk bisa lolos ujian. Menu lari pagi 2-3 kilometer dengan pemberat dimasing-masing kaki 2 kilogram adalah hal yang biasa buatku. Push up dan sit up menjadi menu pagi sehabis mengaji. Saat itu aku berpikir, bodoh sekali jika mereka tidak menerimaku dengan segala kelebihan yang aku miliki. Benar-benar setan telah merasuk dalam otakku.
Pada waktu itu aku tidak peduli dengan euforia teman-temanku yang ribut untuk mengikuti berbagai ujian masuk perguruan tinggi. Rasa optimisku sudah merasuk sampai ujung jempol kakiku. Entah si jempol sadar atau tidak tetapi rasa percaya diriku sudah membuncah tanpa berpikir bahwa dunia ini diciptakan dengan berpasang-pasangan. Bahwa ada keberhasilan dan ada kegagalan. Keduanya berbagi probabilitas yang sama seperti sebuah koin mata uang. Aku melupakan itu.
Dan akhirnya aku gagal lulus seleksi. Kecewa, itulah yang ada dipikiranku. Seakan apa yang sudah aku lakukan sama sekali tak ada artinya.
Aku putar kembali life plan-ku. Aku rombak habis segala cita-cita dan angan-angan yang sudah aku bentuk jika aku berhasil menjadi seorang perwira TNI. Kemudian aku mulai melihat peluang-peluang yang tersisa. Sambil menahan rasa iri sebab sudah banyak teman yang sudah diterima di perguruan tinggi ini dan itu sedangkan aku masih berdiri dalam ketidakpastian. SPMB menjadi jalanku satu-satunya untuk bisa melanjutkan sekolahku.
Dan ketidaksengajaan itupun dimulai. Aku memasukkan daftar prioritas fakultas yang sama sekali jauh dari latar belakangku. Alasannya sederhana, aku menjadi malas belajar jika standar yang aku tuliskan bukan standar tertinggi yang mungkin bisa aku capai. Dan ketidaksengajaan itu berbuah kebingungan. Ketika hal yang tidak aku sangka benar-benar terjadi. Bingung apakah aku benar-benar bisa bertahan disana. Ketidaksengajaan yang mendilemakan.
Pagi itu dengan hati yang masih tertunduk melihat ketidaksengajaan ini, aku berdiri tegap dengan jas almamater yang menyembunyikan rasa terdalamku,terpasang rapi ditubuh kecilku. Melihat sekelilingku, membuatku takut dan merasa inferior dibanding yang lain. Semua dengan ceria berbaris dan bersenda gurau. Aku yakin gurat muka mereka menandakan kegembiraan yang amat sangat. Sedangkan diriku, 180 derajat berkebalikan dengan mereka. Entahlah, sekali lagi aku masih takut. Ku coba berkenalan dan bergaul dengan mereka untuk menutup ketakutanku akan segala hal yang akan aku hadapi nanti. Ku coba tersenyum, tersenyum dalam selubung ketakutan.
Tiga setengah tahun berlalu. Terlalu banyak cerita selama 3,5 tahunku di kampus ini. Suka, duka, senang, sedih, bangga, kecewa semua bercampur menyatu dalam harmoni cerita tiga setengah tahunku disini. Teman-teman yang sangat baik. Guru-guruku yang sangat luar biasa. Bagaimana dengan rasa takut dan inferiority-ku? Rasa ketakutanku sudah sedikit bisa aku atasi.Rasa inferiority-ku sudah sedikit bisa aku sembunyikan karena masih sulit aku untuk menghilangkannya. Sampai saat ini. Sudah kucoba untuk men-sugesti dan meyakinkan diriku tapi masih saja ada dan menghantuiku. Sampai saat ini.
Kini, sudah pantaskah diriku untuk mengenakan toga ini atau belum, aku tidak tahu. Yang pasti saat ini aku memakainya. Dan terpaksa aku harus pantas, entah bagaimana caranya. Buah ketidaksengajaan yang saat ini harus aku jalani jalan ketidaksengajaan ini. Ketidaksengajaan yang bersejarah dan mau tidak mau harus aku jalani jalan ketidaksengajaan ini dengan penuh kesengajaan dan kesadaran. Berharap lewat jalan yang aku awali dengan ketidaksengajaan ini, aku bisa memberikan manfaat bagi orang lain.
Jumat, 22 April 2011
Cerita Koas-ku..neng nong neng gung..
Nah lanjut lagi..
Kemudian,dihari pertama pembekalan langsung deh ambil tempat duduk paling depan. Bukannya sombong ato cari muka,tapi pengen aja menghapus tradisi malas duduk didepan...Nah,tu desktop secara mengejutkan (sebenernya ga juga sih,sudah kuduga sebelumnya) fotoku langsung nampang di slide pertama pembekalan,jadi judul lagi..waakakaka..memang orang keren ga kemana...Udah tuh, siapa yang menjadi ketua untuk gelombang ini..jeng..jeng.."mushtofaa"..whatttt..secara parah langsung dipaksa untuk jadi ketua,ngek,ngok.yaudahlah,paling bentar aja sih..ehemm..ehemm..langsung deh,first speech "teman,saya tidak bisa sendiri,mari kita berjuang bersama-sama"..ceilahh,sok bijak..--" #jitak
Rabu, 16 Maret 2011
Cerita Si Penebang Pohon
Cerita si Penebang Pohon dan Kapaknya
Suatu ketika ada seorang penebang pohon yang sedang mencari pekerjaan. Dia melamar ke majikan pemilik hutan. Sang majikan sangat terkesan dengan keterampilan si Penebang Pohon tersebut dan menerimanya sebagai pekerjanya. Sang Majikan kemudian berkata "besok kamu sudah bisa mulai bekerja. dan ini aku berikan padamu kapak yang masih baru untuk menebang pohon". Si penebang pohon sangat bergembira dan tidak sabar untuk menyongsong hari pertamanya dia bekerja.
Hari pertama, si penebang pohon dengan segenap kemampuannya berhasil menebang dengan rapi sejumlah pohon. Melihat hasil kerja si penebang pohon tentulah si majikan sangat senang.
Hari kedua, dengan semangat yang masih sama, si penebang pohon mampu menebang beberapa pohon tapi lebih sedikit dibandingkan hari pertama.
Hari-hari berikutnya si penebang pohon frustasi karena pohon yang berhasil ditebangnya semakin sedikit padahal dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk itu.
Karena malu dia berniat untuk keluar dari pekerjaannya. Dia berkata kepada majikannya "sepertinya saya sudah tidak sanggup lagi meneruskan pekerjaan ini. Karena semakin lama pohon yang saya tebang semakin lama semakin sedikit. Saya yakin, saya sudah mengerahkan semua tenaga saya untuk itu". Majikan sambil tersenyum menjawab " apakah kamu masih memakai kapak yang sama dengan yang aku berikan pertama kali?"
Penebang kayu : "masih"
Majikan kemudian berkata " aku melihatmu datang setiap hari untuk menebang pohon dengan kapak yang aku berikan padamu, tapi pernahkah kamu terpikir untuk merelakan barang satu hari untuk MENGASAH KAPAKMU dan membuatnya tetap tajam?"
Pesan dari cerita tersebut adalah jangan terlalu asyik (memaksakan diri) dengan seabrek kesibukan2 kita. Tunaikanlah hak tubuh kita,pikiran kita, ruh kita untuk beristirahat dan meng-upgrade-nya dengan hal-hal diluar kesibukan kita sehari-hari. Berekreasi, istirahat, bersujud dimalam hari bisa dilakukan untuk MENGASAH KAPAK KITA. Yakinlah bahwa masih banyak ujian dan tantangan yang bakal kita hadapi. Dan itu akan bisa teratasi dengan adanya keseimbangan dalam diri.
Teruslah berjuang kawanku, yakinlah bahwa kita bisa meraih mimpi-mimpi kita....
Kamis, 10 Maret 2011
Aku sekarang..
Selasa, 22 Februari 2011
doeng..doeng
Sebelumnya,tulisan ini aku tulis disela-sela kebosananku membaca dan menghafal sekaligus mempraktekkan (klo pas ga ada orang) check list OSCE Compre yang bentar lagi bakal aku jalani. Aku sangat ingin bisa lulus di gelombang pertama ini, bukan apa-apa, aku hanya ingin membahagiakan my dad and my mom.
Hemm, entahlah, entah apa lagi ini. Rasa yang sebelumnya pernah aku alami. Mengisi waktu-waktu ku dengan impian-impian nan indah yang sangat ingin aku wujudkan. Rasa yang membuatku menjadi sangat bersemangat meraih segalanya. Rasa yang bisa membuat setiap hembus nafasku menjadi sesuatu yang bisa memacu hormon endorfin dari otakku. Rasa yang entahlah, tidak bisa ku gambarkan dengan kata-kata...
Entahlah, entah apa lagi ini. Rasa yang dulu sempat membuatku sangat bimbang tentang keadaanku. Rasa yang membuatku galau tentang apa yang aku jalani. Rasa yang membuatku merasa sedih dan merasa bahwa aku tak pantas merasakan rasa ini, saat ini. Rasa yang membuatku merasa bersalah dan aku yakin aku salah.
Aku merasakan rasa itu lagi...aaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrgggggghhhhhhhhh...








