Minggu, 15 Maret 2015

dear dear

dear deary....instead of calling diary which has no eyes to see how cruel I am now, no ears that can listen what i really feel now, no beautiful lips which can smile and say "its all alright, you just need to stay calm and focus on what u need to do".
Today is just like another day, with some routines and I don't know why I am so feeling upset, going mad and so on and so on. I plan to do some stuffs but there were no idea could come out from my heavy brain, just like a kids hiding behind the tree then slept. For hours i face my laptop and see nothing. My nine-half fingers ready for hitting the tuts of my keyboard, but just like soldiers with no captain, just stay on it. Arrgh, gosh..what i supposed to do. I have many works but nothing have been done.
Have you ever be in that situation?
Dear deary..
So many things happen in this early lovely fifteens. Then it reaches into another peak when someone ask you to think about something i haven't though yet. I am sure you know what I mean, a 25 years old guy's stuff. Ah sudahlah....haha.
Dear deary...back to my laptop again...argh many journals but none have been completely completed. I don't know what's wrong with my brain, she (refers to my brain :P) just like hard-headed girl who just get her period.

Selasa, 10 Desember 2013

Pelajaran dari Bidan Sunarti

“Jarang orang mau mengakui, kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini: suatu karunia alam.” (Pramoedya Ananta Toer, dalam buku Mereka Yang Dilumpuhkan)

Bidan Sunarti di kediamannya
yang asri ^^
Kesederhanaan itu juga yang kita temui andai bertandang ke rumah Ibu Sunarti, seorang bidan yang mendapatkan Srikandi Award 2012. Kediamannya sederhana di tengah pedesaan Kokap, Hargotirto, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Berjarak satu sampai dua jam perjalanan dari pusat kota Yogyakarta. Rumahnya teduh dengan pepohonan, meski angin pantai berkesiur membawa panas.
Dalam kesederhanaannya tidak memupus kesehajaan yang ditampilkan. Di sela-sela kesibukannya di ruang prakteknya, yang sekaligus rumahnya, Ibu Sunarti mau bercerita tentang kisah hidup selama 21 menjadi bidan di daerah pedalaman. Dengan suguhan segelas kopi susu, suasan siang itu semakin hangat. Nampak tutur kata Ibu Sunarti tertata, meski sesekali ia mengambil napas jeda.
Penanya (P) : Sudah berapa lama Ibu menjadi bidan?
Ibu Sunarti(IS): Saya sudah 21 tahun menjadi bidan. Waktu itu saya lulus tahun 1991 dari D1 Kebidanan di Poltekkes Jogja. Sebenarnya kalau di sini (red: Kokap), saya baru 17 tahun. Awal-awal dulu, sekitar 4 tahun berkerja di daerah lebih bawah, di pinggiran kota. Baru sekitar tahun 1995 saya pindah kesini. Perjuangan sewaktu memutuskan pindah kesini.
P : Selama 21 tahun menjadi bidan, pasti banyak hal yang telah dialami. Pengalaman apa yang menurut ibu paling berkesan?
IS : Setiap hari selalu ada saja pengalaman menarik dan berkesan. Salah satunya yang berkaitan dengan gizi, suatu saat pada saat merawat ibu post-partum (red: kondisi sehabis melahirkan). Saya melihat anak-anak berebut makanan yang ada di tampah (red: wadah dari anyaman bambu). Mereka sampai nangis dan cakar-cakaran karena rebutan makan. Ketika saya coba lihat ternyata mereka berebut nasi thiwul (makanan dari ketela, pengganti nasi). Sakit hati saya, kekayaan negara kita seolah tak bermakna apa-apa. Dari situ saya punya tekad agar ibu-ibu bisa menyediakan makanan yang bergizi bagi anaknya. Makanan bergizi yang tidak harus mahal.
P : Bisa Ibu ceritakan proses dari sebuah keprihatinan menjadi sebuah ide memberdayakan masyarakat untuk bisa menyediakan makanan bergizi yang tidak mahal?
IS : Waktu itu, di tahun 1997 pada saat krisis moneter. Saya berpikir kalau anak-anak pola makanannya seperti ini, saya tidak bisa membayangkan kedepannya seperti apa pertumbuhannya. Ibu-ibu juga sudah tidak terlalu memikirkan sampai situ. Apa-apa serba mahal, banyak yang kemudian menjadi TKI. Tambah tidak terurus lagi anaknya.
Bidan Sunarti di acara kader kesehatan

 Waktu itu saya jujur tidak tahu bagaimana memulainya. Awalnya saya coba kasih stimulan berupa sedikit uang, ternyata tidak ada pengaruh apa-apa. Saya pikir salah cara ini. Kemudian saya berpikir lagi. Kenyataan bahwa daerah sini yang termasuk kantong kemiskinan DIY, memiliki tanah yang kurang subur karena tanah liat. Yang bisa tumbuh disini adalah singkong, tapi kasian kalau setiap hari makan daun singkong. Akhirnya waktu itu saya melihat buku yang menarik tentang pembudidayaan tanaman keluarga di perkotaan. Bukunya menarik, sehingga saya memutuskan untuk membeli buku itu, cuma 15 ribu rupiah. Kemudian saya coba praktekkan di pekarangan rumah. Harus hati-hati sih, karena bisa kalah sama ayam yang  “ganas-ganas”.
 Awalnya, saya ngajak masyarakat di sini itu ya tidak gampang. Banyak yang meragukan tanaman bisa tumbuh di tanah yang seperti ini (tanah liat). Namun seiring tanaman di pekarangan saya mulai tumbuh baik, banyak yang ingin dan waktu itu saya bantu dengan memberikan benihnya kepada masyarakat. Kemudian saya mencoba memulai dengan mengambil sampel di dusun yang lebih atas untuk mengajak mereka menanam tanaman pekarangan. Dan hasilnya Alhamdulillah baik.
P : Bagaimana tentang budidaya jamur yang kemudian ibu kembangkan?
IS : Nah, waktu pertama hanya jenis sayuran yang kita kembangkan. Namun kemudian saya berpikir, proteinnya bisa dipenuhi darimana ya? Kalau daging dan telur jelas mahal, perlu uang. Waktu itu saya sedang mengantarkan anak saya ke rumah pintar di dekat sini (program SIKIB), dan secara tak sengaja saya membaca tentang jamur dan kandungan nutrisinya yang lengkap. Saya kepikiran untuk mencoba membudidayakannya disini (tahun 2010). Dan Alhamdulillah walaupun belum banyak tapi hasilnya sudah kelihatan dan respon dari masyarakat juga baik.
P : Bagaimana dengan dukungan dari pejabat setempat terkait program ibu?
IS : Tentu saya meminta dukungan dari semua pihak tapi memang baru sebatas dukungan moral saja. Untuk finansial selama ini masih swadaya. Saya hanya bidan desa biasa, jadi kalau ada sedikit rejeki ya coba saya cak’e (red: terapkan, jawa). Walau tidak banyak yang penting, dimulai dulu, nanti selanjutnya dipikirkan lagi bersama-sama.
P : Pernahkah ibu mengalami fase jenuh dan hampir putus asa menghadapi tantangan-tantangan dari usaha yang dilakukan ? Bagaimana ibu mengatasinya?
IS : Pasti pernah lah, setiap orang juga pernah mengalami fase jenuh. Kalau saya ketika sudah mendekati fase itu, saya istirahat sejenak dari program, ditinggal dulu baru nanti kembali lagi kalau sudah fresh. Buat masyarakat kita ndak boleh menyerah, ndak boleh putus asa. Karena siapa lagi kalau bukan kita. Dulu waktu awal-awal saya disini juga tantangannya luar biasa. Bayangkan daerah yang aksesnya sulit dan belum ada listrik seperti sekarang, padahal Jogja lho... Tapi saya bahagia disini, melihat orang lain bahagia karena keberadaan kita itu kebahagiaan yang tak terukur dengan uang. Itu yang membuat saya bertahan.
P : Bagaimana ceritanya sampai kemudian Ibu memenangkan Srikandi Awards di akhir tahun 2012 yang lalu?
IS : Sebenarnya saya tidak tahu tentang Srikandi Awards, tetapi tiba-tiba saja saya dihubungi bahwa saya masuk nominasi. Saya sempat bilang “Mbok jangan saya, saya takut”. Tapi Pak Alwan bilang, sudah diterima saja, nanti akan ada orang ke tempat ibu. Terserah ibu orang itu mau diapakan. Waktu itu saya juga tidak menyiapkan apa-apa, ketika ditanya ibu-ibu kader pun, saya bilang tidak perlu menyiapkan apa-apa, natural saja. Petugas yang datang saya ajak melihat kegiatan-kegiatan kami yang memang sudah rutin dilaksanakan. Pokoknya saya membuat kegiatan dengan masyarakat disini, bukan untuk award atau sejenisnya, intinya untuk srawung (bergaul, jawa.red) dengan masyarakat. Dan masyarakat bisa menikmati dan merasakan manfaatnya. Dan inovasi-inovasi ini muncul dengan melihat realita di masyarakat, kemudian cari inspirasi dengan membaca dan membaca.
Srikandi Award untuk Bidan Sunarti, gile ndro,
Terbaik Pertama coba ^^

P : Apa ibu puas mendapatkan Srikandi Awards 2012 ini?
IS : Wah, kalau menurut saya, yang pantas mendapat penghargaan ini adalah  ibu-ibu kader disini. Mereka yang berusaha keras, ngangkat timbangan kemana-mana, naik gunung dengan membawa barang-barang berat untuk kegiatan dan sebagainya. Saya cuma membantu memulai saja, setelah itu, ibu-ibu kader disini bekerja keras bersama-sama.
P : Apa rencana dan impian Ibu setelah ini?
IS : Setelah ini saya pengen mengajak masyarakat di sekitar waduk Sermo (Kulonprogo, Yogyakarta) untuk memanfaatkan tanah disekitar sana untuk tanaman keluarga dan juga taman bunga. Nanti hasilnya bisa dijual kepada wisatawan yang datang ke Waduk Sermo. Selain itu, bisa mempercantik pemandangan di waduk Sermo. Saya ingin nanti diberi nama Taman Krisan. Siang ini saya mau bertemu dengan ibu-ibu disana untuk pertama kali. Semoga lancar dan saya berharap dukungan dari banyak pihak, karena saya hanya bidan desa biasa, tidak bisa kalau bekerja sendirian.

Ibu Sunarti menutup percakapan dengan sebuah kesimpulan tersirat bahwa tidak susah untuk berbuat baik kepada masyarakat. Beliau melihat persoalan, dengan tangan sederhananya berusaha mencari solusi terdekat dari kehidupannya. Ksederhaan, kesahajaan, dan kepedulian sepertinya menjadi nilai-nilai yang diyakini kuat. Seperti kata Pramoedya, bahwa kesederhaan adalah anugerah alam. Tidak perlu congkak akan ketinggian ilmu dan title pendidikan.
Maju terus Ibu Sunarti. Kami para dokter berutang kepadamu. (*)

dr.Mushtofa Kamal, dokter puskesmas

Lomba Blog FPKR

Potret Puskesmas di Kabupaten Bangkalan

Kami berkesempatan mengunjungi 2 puskesmas di Pulau Garam, Madura, yaitu Puskesmas Arosbaya dan Puskesmas Jaddih di Kabupaten Bangkalan. Terik matahari terus menyengat selamaperjalanan Surabaya-Madura. Jembatan Suramadu yang gagah menghubungkan dua pulau, Jawa-Madura. Efek pertama dari kehadiran jembatan itu adalah semakin ramainya Bangkalan karena menjadi destinasi. Tenda dan bangunan rumah makan menjamur dan dipenuhi pelancong, lebih-lebih hari libur dan hari raya.
Bangkalan Madura dibatasi oleh laut dan daratan. Di bagian utara dan barat dibatasi oleh Laut Jawa. Sisi sebelah selatan bersinggungan dengan Selat Madura, sedangkan sisi timur dibatasi oleh Kabupaten Sampang. Kabupaten Bangkalan terdiri atas 18 kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Bangkalan.
Puskesmas pertama yang kami kunjungi adalah Puskesmas Jaddih, Kecamatan Socah. Sambutan para petugas puskesmas hangat dan kekeluargaan. Sengat panas di Pulau Garam sirna seketika.
Seperti sebagian kondisi Puskesmas di berbagai daerah, sarana dan prasarana Puskesmas Jaddih pun masih jauh dari harapan masyarakat. Puskesmas ini memilki 20 desa sebagai daerah binaan dengan wilayah cakupan yang luas. Cukup besar untuk ukuran puskesmas di kecamatan. Hal ini diperparah dengan kondisi jalan yang relatif masih buruk, hingga akses puskesmas harus ber-effort besar. Meskipun jalan tepat di depan Puskesmas kini sudah baik berkat perbaikan yang dilakukan tepat dua minggu sebelum kedatangan kami.
 “Saya merasa puas dengan pelayanan yang diterima di puskesmas Jaddih, petugas kesehatan yang cepat tanggap dalam melayani pasien dan bersikap ramah, hanya saja akses menuju puskesmas menjadi sulit karena kondisi jalan yang rusak”, ucap Cholis, salah satu masyarakat yang menjadi pasien Puskesmas Jaddih.
Itu dari segi akses. Bagaimana dengan simah, ‘isi rumah’ dari Puskesmas Jaddih? Tidak jauh berbeda memang. Sarana dan prasarana penunjang kinerja karyawan terbatas, seperti ambulan atau mobil untuk menjangkau pasien dengan jarak jauh. Apalagi ketika ditengok, bahwa Puskesmas Jiddah juga mengalami keterbatasn tenaga ahli kesehatan.
Menurut Kepala Puskesmas Jaddih, meskipun jumlah sedikit tapi memiliki keterampilan cukup memadai. Tetapi tetap perlu ditingkatkan kembali keterampilannya, tambahnya. Harapan beliau, tenaga kesehatan yang ada dapat terus memacu diri untuk jadi lebih terampil dan lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Distribusi obat-obatan yang lama dan tidak merata dari pemerintah juga menjadi kendala Puskesmas Jaddih. Menurut asisten apoteker setempat, bahkan pernah sampai kekurangan obat-obatan. Dengan lamanya distribusi obat-obatan membuat stok obat kosong di Dinkes setempat. Hal ini membuat Puskesmas harus berusaha menyediakan sendiri obat-obatan untuk pelayanan kepada masyarakat. Pernah terjadi gudang penyimpanan obat terendam banjir. Itu karena kondisi gedung yang masih kurang bagus. Miris memang.
Menurut Bidan setempat, kerjasama dengan paraji setempat sangat baik. Sebelumnya melalui pendekatan yang cukup panjang dan mendalam, bidan-bidan setempat berhasil merangkul paraji dan bermitra hingga kini. Program pelatihan paraji berjalan dengan baik. Berkat kerjasama ini paraji tidak lagi menangani persalinan sendirian, melainkan selalu memanggil bidan untuk meminimalkan kematian ibu dan bayi. Bahkan uniknya menurut salah satu paraji yang kami wawancarai, meski sudah menjadi paraji selama 20 tahun, beliau tidak pernah berani memotong tali pusar sendiri. Beliau juga sudah tahu batasan antara tindakan yang boleh dilakukan paraji dan yang harus dilakukan oleh bidan.
Seorang perawat di Puskesmas Jaddih, berharap agar institusi pendidikan kesehatan lebih ketat dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru. Memilih yang benar-benar memiliki naluri menjadi tenaga kesehatan sehingga dapat bekerja lebih baik, lebih maksimal dan lebih ikhlas dalam melayani masyarakat. Menurut koordinator bidan setempat, mahasiswa tenaga kesehatan, khususnya calon bidan, dinilai belum memiliki ketulusan dan kecakapan  keterampilan. Bahkan seorang dokter sekalipun. Pernah terjadi, seorang dokter gigi hanya bertahan 3 bulan di Puskesmas Jaddih, dengan alasan pergi yang terkesan manja. Dan sampai sekarang belum ada penggantinya.
Harapan dari berbagai narasumber adalah perbaikan dan penambahan sarana dan prasarana Puskesmas untuk memningkatkan pelayanan kesehatan. Penambahan jumlah tenaga kesehatan serta pelatihan tenaga kesehatan. Satu lagi, mereka mengharapkan pemerintah baik pusat maupun daerah memerhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan serta memperjelas status kepegawaian mereka. Harapan ini tentu wajar mengingat area pengabdian dan beban tugas yang besar.
Lepas Salat Jumat kami berangkat dengan penuh semangat ke Puskesmas kedua yaitu Puskesmas Arosbaya.
Kurang lebih 30 menit, kami tiba di Puskesmas Arosbaya. Puskesmas ini sangat jauh berbeda dengan Puskesmas Jaddih. Puskesmas Arosbaya telah memiliki bangunan yang jauh lebih kokoh dan besar. Puskesmas ini sudah menjadi Puskesmas PONED (Penanganan Obstetri Neonatal Emergency Dasar) dengan tenaga kesehatan yang sudah diberikan pelatihan PONED.
Bangunan rawat inap Puskesmas Arosbaya lebih baik dan terawat dengan berbagai kelas rawat inap. Bahkan Puskesmas ini juga dapat disebut Puskesmas Plus karena selain tersedianya fasilitas rawat inap, Puskesmas ini juga memiliki Poli Khusus yaitu Poli dokter spesialis mata, kandungan, gigi, dll.
Dari wawancara kami dengan kepala puskesmas, kami mendapati bahwa puskesmas ini memiliki pelayanan yang baik dan dicari oleh masyarakat. Hanya sikap para tenaga kesehatan yang perlu diperbaiki. Rata-rata tenaga kesehatan di sini tidak memiliki sikap yang baik dan kurang tanggap. Menurutnya perlu dilakukan penyaringan peserta didik agar tidak menghasilkan lulusan yang asal jadi. Lulusan yang tidak hanya mengacu pada nilai, tetapi sikap dan ketanggapan juga harus diperhatikan. Lulusan dengan kecakapan dan kebaikan sikap akan memberikan pelayanan lebih baik kepada masyarakat.
Senada dengan itu, dokter gigi di Puskesmas setempat merasa sikap tenaga medis yang baru lulus memiliki sikap kurang baik dan keterampilan minim. Menurut bidan ahli setempat, para mahasiswa tenaga kesehatan itu kurang memiliki motivasi dan tidak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dalam menggali ilmu pengetahuan di lapangan. Dinilai kedisiplinan mereka rendah.
Menurut seorang perawat ahli, sarana dan prasarana yang diberikan pemerintah tidak standar dan cepat rusak. Sering butuh perawatan.
Dengan kondisi plus-minus seperti ini, masyarakat sudah merasa puas dengan pelayanan Puskesmas Arosbaya. Mereka mendapatkan pelayanan prima, tanggap, dan nyaman. Berbicara tentang kualitas tenaga kesehatan menurut beberapa masyarakat harus dilakukan perbaikan karena tidak meratanya sebaran tenaga ahli. Dan terakhir mereka mengimbau agar pendidik tidak menjadikan institusi kesehatan sebagai alat untuk mengeruk keuntungan.
Kolaborasi, birokrasi dan distribusi pelayanan kesehatan di Kabupaten Bangkalan harus diperhatikan oleh pemerintah pusat dan daerah dalam berbagai bidang terutama sebaran sumber daya manusia serta sarana dan prasarana yang memadai, agar dapat mewujudkan pelayanan kesehatan yang maksimal serta dapat meningkatnya derajat kesehatan masyarakat Bangkalan. Pengetahuan, keterampilan dan kompetensi tenaga kesehatan harus ditingkatkan sejak bangku kuliah dan hal tersebut menjadi tanggungjawab bersama antara institusi pendidikan kesehatan dan pemerintah.
Kelak kita akan melihat masyarakat sehat, karena tenaga medisnya berkualitas hebat, cukup jumlahnya, bagus etikanya, dan tentu mudah dijangkau masyarakat. (*)

Bangkalan, 23 Agustus 2013.
dr.Mushtofa Kamal

Lomba Blog FPKR

Ketika Puskesmas Overload

Kapan terakhir ke puskesmas? Atau jangan-jangan puskesmas hanya kita kenal di pelajaran sekolah? Kita pernah membacanya di buku Bahasa Indonesia, yang dikunjungi Budi dan keluarganya ketika sakit. Kita hampir-hampir tidak pernah meniatkan diri untuk berobat ke Puskesmas.
Di pikiran kita puskesmas lokasi paling pas untuk berobat masyarakat bawah dan orang miskin. Lokasinya di daerah terpencil, dengan peralatan kesehatan kurang modern. Suasananya riuh dan kumuh. Dokter-dokter datang terlambat, susah ditemui dan malas-malasan. Itu memang gambaran pertama kalau kata puskesmas. Dan faktanya memang demikian. Terlebih di kota-kota besar, dimana akses rumah sakit terbuka luas, Puskesmas menjadi mata kiri yang tidak perlu diperhitungkan. Masyarakat lebih memilih berobat ke rumah sakit.
Puskesmas Majalaya
Tetapi bagaimana dengan cerita puskesmas dengan 400 pasien dalam sehari? Apa itu puskesmas terbaik dengan tenaga dan alat kesehatan terbaik? Hingga para pasien membludak begitu. Mari kita telisik.
Fenomena itu dapat ditemukan di Puskesmas Majalaya Baru, Kabupaten Bandung. Puskesmas di daerah sub urban Kabupaten Bandung. Lumayan jauh dari daerah perkotaan yang hingar-bingar dengan julukan Paris van Java. Dengan mobil memakan waktu dua jam perjalanan dari pusat kota Bandung. Jangan tanya bagaimana kondisi jalan. Beraspal atau tidak. Kita tentu tahu bagaimana kondisi jalan di daerah-daerah terpencil. Rahasia umum.
Lokasi Puskesmas Majalaya Baru yang strategis, di pinggir jalan besar pertemuan beberapa daerah di sekitar Majalaya, menjadikan puskesmas ini seperti lampu bagi laron, magnit besar bagi penduduk untuk berobat. Penduduk sakit dari daerah kantong sekitar Majalaya yang sama-sama miskin semua berbondong-bondong ke Puskesma Majalaya Baru. Mau ke rumah sakit jauh, mahal. Jadilah Puskesmas Majalaya Baru hampir-hampir kelebihan beban pasien.
Pagi menjelang siang, antrean mengular di muka loket pendaftaran pasien seperti sedang mengantre sumbangan atau raskin. Kepala Puskesmas Majalaya Baru,  drg Endang NF, M.Kes bahwa pasien di puskesmas tersebut setiap hari membludak. Majalaya merupakan daerah dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai pegawai pabrik dan sedikit yang bekerja sebagai petani maupun wiraswasta. Dan puskesmas Majalaya baru menjadi salah satu andalan masyarakat sekitar untuk berobat ketika sakit. Puskesmas ini memiliki total 42 tenaga kesehatan meliputi 4 dokter umum, 2 dokter gigi, 11 perawat, 11 bidan dan 14 tenaga lain.
Puskesmas Majalaya
Menurut penuturan drg Endang, jumlah pasien ketika hari biasa mencapai 400 orang dan hari sabtu 200 orang. Jadi setiap dokter di Puskesmas Majalaya Baru setiap harinya harus melakukan pemeriksaan untuk 50 sampai 80 orang pasien. Horor! Standarnya dokter di Indonesia hanya memeriksa maksimal 30 pasien,bahkan di luar negeri hanya diperbolehkan paling banyak 20 pasien. Bisa dibayangkan, andai seorang dokter setiap harinya berhadapan dengan lebih dari 30 pasien, kemungkinan untuk ala kadarnya dalam melakukan diagnosa sangat tinggi.
“Bayangkan saja, 400 pasien dalam sehari. Ada 4 dokter umum dan 3 dokter gigi, termasuk saya.  Namun, saya sendiri sudah cukup banyak urusan administratif yang harus dikerjakan”, terang Ibu Endang sambil menunjukkan tumpukan dokumen yang siap ditandatangani. Wajah ayunya tampak letih karena beban pekerjaan.
Untuk menyiasati hal itu Puskesmas Majalaya Baru mengeluarkan surat kewenangan untuk perawat dan bidan, supaya bisa membantu pemeriksaan dan pengobatan pasien. Jadi tidak heran ketika kita melakukan kunjungan ke Puskesmas Majalaya Baru, bidan dan perawat juga berkerja laiknya seorang dokter. Memang kejadian fatal belum terjadi, semoga tidak akan terjadi. Tetapi kemungkinan ke sana akan tetap ada, andai kondisi minim tenaga kesehatan belum juga teratasi.
Kondisi kekurangan tenaga medis sedikit terbantu dengan sering dijadikannya Puskesmas Majalaya sebagai lokasi magang/internship bagi dokter, bidan maupun perawat yang baru lulus dari kampus.
Hal ini cukup membantu dalam pelayanan karena ada tambahan tenaga kesehatan yang bisa diperbantukan di puskesmas. Ketika ditanya soal kompetensi tenaga kesehatan, dr. Rina, salah satu dokter di Puskesmas Majalaya Baru mengatakan bahwa apa yang didapat di kampus sudah cukup. Namun bagi lulusan baru harus sebanyak-banyaknya menggali pengalaman klinis di lapangan, terutama komunikasi efektif yang tidak bisa diajarkan tapi didapat dengan latihan langsung kepada pasien. Mereka butuh jam terbang.
Hal sama juga dialami bagi bidan yang baru saja lulus. Bagi bidan-bidan yang baru lulus, biasanya masih belum siap untuk dilepas sendiri. Mereka masih perlu beberapa kali pendampingan dari dokter maupun bidan senior. Pengalaman klinis yang cukup akan membantu bidan maupun tenaga kesehatan lain untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan yang optimal. Bagaimana pun pasien bukan robot, maneken, atau jenazah yang boleh sesukanya diotak-atik. Pasien adalah manusia hidup, butuh cara komunikasi cara melakukan pemeriksaan yang baik.
Menurut drg. Endang, salah satu kelebihan tenaga medis di Puskesmas Majalaya Baru adalah semangatnya untuk menambah ilmu. Mungkin kesadaran bahwa puskesmas tempat mereka bekerja sedemikian padat oleh pasien, makan keterampilan dan keahlian medis harus terus ditingkatkan.
“Saya sangat senang karena perawat dan bidan disini sangat semangat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Bahkan ada yang sekolah lagi dengan biaya sendiri”, kata drg. Endang dengan semangat.
Kompetensi dan pengetahuan memang harus selalu ditingkatkan dan di-update. Namun, dr Rina menyayangkan bahwa dari dinas kesehatan sendiri tidak konsisten menyelenggarakan pelatihan-pelatihan maupun seminar bagi tenaga kesehatan. Padahal hal tersebut sangat penting. Jauh dan terpencilnya daerah Majalaya menjadi alasan utama kenihilan tersebut.
“Jadi ya seringnya kami hanya update ilmu lewat internet. Dan untuk dokter umum sebaiknya juga diberikan pelatihan-pelatihan khusus seperti EKG dan ATLS-ACLS”, terang dr Rina.
Pasien menunggu dengan sabar :P
Senada dengan dokter Rina, para bidan, salah satunya adalah bidan Tini, juga mengatakan bahwa pengetahuan yang diterima di kampus sebenarnya sudah cukup. Namun perlu jam terbang yang lebih dan juga pelatihan-pelatihan yang kontinyu. Beliau mengaku dalam setahun terakhir ini praktis tidak ada pelatihan yang diadakan oleh dinas kesehatan, jadi beliau bergantung pada internet untuk update ilmu.
Untuk ukuran puskesmas, Puskesmas Majalaya Baru memang overload pasien. Meski dibantu dengan tenaga medis yang magang maupun bidan dan perawat yang secara darurat ditugaskan sesekali mengambil alih peran dokter. Mereka benar-benar membutuhkan tenaga medis khususnya dokter. Wahana untuk meningkatkan skill dan pengetahuan terbaru akan dunia klinis belum dirasakan secara nyata. Mereka hanya mengandalkan internet untuk belajar. Kemungkinan buruk selalu ada dalam dunia klinis. Tetapi kalau tenaga medis yang cukup dan memiliki kemampuan tinggi ada, kemungkinan itu dapat diminimalisir.
Pemerintah pusat harus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menyiapkan dan menyediakan tenaga kesehatan, fasilitas dan sarpras, serta program pelayanan kesehatan untuk semua masyarakat, terutama masyarakat di daerah sub urban, yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari kemewahan fasilitas di kota besar. Program-program layanan kesehatan untuk masyarakat kurang mampu seharusnya dapat benar-benar membantu, bukannya mempersulit dengan aturan administrasi yang kompleks.
Kompetensi dan kewenangan dalam memberikan layanan kesehatan merupakan hal utama yang harus dibenahi dalam usaha memberikan pelayanan kesehatan paripurna kepada masyarakat. Kompetensi tenaga kesehatan harus ditingkatkan melalui pelatihan-pelatihan ataupun sertifikasi. Di sisi lain, kewenangan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan dapat terjaga sesua standar jika jenis dan jumlah tenaga kesehatan yang tersedia dapat terpenuhi.
Setiap masyarakat berhak mendapatkan layanan kesehatan terbaik, sehingga pendidikan tinggi kesehatan diharapkan mampu menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten dan profesional.
Sehingga nanti tidak akan muncul klausa, “Orang miskin dilarang sakit!”. Miskin kaya tetap memiliki hak sehat yang sama.(*)
dr.Mushtofa Kamal, dokter puskesmas ^^


Lomba Blog FPKR

Sabtu, 07 Desember 2013

Secangkir Teh untuk Che Guevara

Malam minggu ini terasa sama seperti hari-hari sebelumnya sampai aku melihat buku Biographic Novel “Che Guevara” karya Chie Shimano dan Kiyoshi Konno. Tertarik dengan seorang tokoh revolusioner kelahiran Argentina yang menggemparkan dunia, memekik semangat pembebasan rakyat Kuba dan negara-negara lain di Amerika Selatan, bahkan sampai Kongo, Afrika. Dan dia adalah seorang dokter.
Ernesto Guevara Lynch, seorang penderita asthma yang senang main rugby, senang menulis dan melahap berbagai macam judul buku. Chanco atau si Babi, julukan dari Guevara muda yang kemudian memutuskan untuk menjadi seorang dokter pada tahun 1947. Guevara muda memiliki jiwa petualang yang tinggi, bahkan pada usia 23 tahun, Chanco telah memulai perjalanan mengelilingi Amerika Selatan bersama dengan Alberto Granados, sahabat dan pelatih rugby-nya, dengan mengendarai sepeda motor legenda “La Poderosa II” atau Si Perkasa 2. Entah yang pertama seperti apa aku juga tidak begitu tahu.
Dua petualang gila yang kemudian menemukan berbagai macam fenomena masyarakat di Amerika Selatan. Perjalanan 10.000 km yang ditempuh selama kurang lebih 7 bulan ini, Ernesto melihat penderitaan berat kamu miskin. Perjalanan yang awalnya untuk sekedar berpetualang justru menyingkap sisi gelap Amerika Selatan. Kemiskinan dan penindasan.
Klinik Kusta San Pablo di Peru menjadi salah satu titik balik seorang Guevara muda, dimana si Babi bertekad untuk mengobati akar penyebab berbagai macam penyakit ini yaiut kemiskinan dan kelaparan.  Tanggal 26 Juli 1952 keduanya memutuskan berpisah dan Guevara kembali ke Argentina untuk melanjutkan pendidikannya sebagai dokter.
Guatemala, negara pertama yang menjadi tujuan Guevara setelah lulus sebagai dokter. Pergolakan politik di Guatemala yang dipimpin oleh Jacobo Arbenz Guzman saat itu mempertemukan Guevara dengan para pelarian Kuba dan juga Hilda Gadea Acosta, istri pertama Guevara. AS berhasil menguasai Guatemala menyebabkan Guevara berpindah ke Meksiko dan hidup bersama dengan Hilda. Di tengah kesulitan ekonomi keluarganya, Guevara sempat menjadi seorang fotografer. Di situ juga Ernesto bertemu dengan Fidel Castro, seorang pengacara, yang saat itu sudah menjadi salah satu pemimpin karismatik di kalangan warga Kuba.
“Gerakan 26 Juli” itulah nama perlawanan tehadap Batista di Kuba yang diambil dari tanggal tragedy perlawanan Barak Mancada. Guevara memutuskan untuk bergabung dengan gerakan tersebut dengan mengikuti pelatihan militer merangkap tim medis pasukan.
Granma
Kapal motor kecil itu bernama Granma. Kapal kecil berkapasitas 25 orang ini bertugas mengantar pasukan gerakan 26 Juli ke Kuba. Bersama dengan 81 anggota pasukan, Granma dengan gagah melintasi lautan menuju pantai Kuba. Dua hari lebih lambat dari yang diperkirakan, kapal motor kecil Granma berhasil mendarat 2,5 kilometer dari titik pendaratan yang direncanakan, tanpa sambutan dan langsung melanjutkan perjalanan ke pegunungan Sierra Maestra.

Perjalanan ke Sierra Maestra (to be continued)

Kamis, 05 Desember 2013

Sudah Lama Nggak Nge-Blog

Amazing sore..
rafting pertama^^
Bangku nomer 1 perpustakaan kampus depan pusat paleoanthropologi aku memulai petualangan baru. Lembaran baru. Halaman-halaman baru. Dalam ketergantungan sinyal wifi yang kadang hidup-kadang mati seperti lampu lalu lintas di persimpangan-persimpangan yang masih belum yakin, apakah mau berwarna hijau, kuning atau merah. Haha, bingung kan? Sama sepertinya...^^.
Sambil nge-teh sore-sore seperti ini sepertinya enak deh, ditemani gorengan Jln.Kaliurang Km.5, depan Natasha (oh, surga dunia). Plakk. Mimpi ternyata dan sadar bahwa di depan saya bukan teh panas tapi laptop panas plus kotak-kotal excel yang, ah tau sendiri lah ya. Banyak yang harus dikerjain. Numpuk.
Sambil nunggu adzan maghrib, iseng-iseng nih buka-buka kompas.com, lumayan buat refreshing kalau beritanya pas bagus, tapi kalau nggak ya bikin emosi malahan. Dan saya tertarik salah satu artikel pak beye, hehe..piss pak.
SBY megang 2 jagung bareng orang-orang
(harusnya judulnya ini ya? :P)
Yeah, pak Beye akhirnya masuk berita, setelah tenggelam sama Pak Jok. Nah ini ceritanya beliau lagi tour ke Pamekasan, Madura. Banyak cerita yang mengiringi perjalanan beliau dari habisin dana APBD-lah, anak-anak SD yang suruh nyambut beliau dijalan yang kelaparan karena harus nunggu 1.5 jam di siang bolong lah, dan pro-kontra yang lain. Tapi yasudahlah, namanya media semua sama, nampilin yang seksih-seksih. Tapi yang saya salut disini, beliau pengen makan nasi jagung. Haha, ga penting tapi paling tidak berita ini dianggap seksih oleh para awak media. Bapak saya makan nasi jagung 7 tahun kok ga pernah masuk berita ya? Wehehe, klo pak beye, baru mau akan makan nasi jagung aja sudah masuk berita. Good job lah buat siapa saja. Lain kali main lagi pak ke penjuru-penjuru Endonesa, blusukan istilah jawanya, trus nyobain makanan khas rakyat Anda berupa nasi aking dan sejenisnya. Yakin deh nanti mas-mas dan mbak-mbak wartawan akan ngeliput Anda. Publikasi grates. Nyinyir. Biarin.
Oiya, pak, kalau ga salah dulu kita pernah swasembada beras kan ya? Kalau tidak salah sih. Trus sekarang gimana ceritanya pak? #just ask.
Bukan nyinyir atau apa, saya cuma warga negara yang pengen semuanya bisa menikmati beras atau apapun makanan pokoknya dengan layak. Gak lucu ah kalau negara yang katanya tanah surga ini masih ada yang kelaparan, gizi buruk dan sebagainya. Pasti ada yang salah urus sehingga jadi seperti itu. Oke, apapun itu semangat deh buat para pemimpin jujur dan berdedikasi, dan buat pemimpin korup atau bantuin temennya korup, apapun itu, kalian lebih jauh lebih buruk dari bakteri E.coli.(kamal)

Senin, 23 September 2013

Laziness and Turning Point

Salam, hampir satu tahun mungkin tidak meng-update blog ini. Bukan karena tidak ada hal yang bisa diceritakan, malah banyak sekali hal yang bisa ditulis dalam halaman ini. Penyakit malas, iya, penyakit malas. Penyakit ini memang tidak dikenal dalam istilah kedokteran. Carilah di kamus Dorland, sampai jantung Anda mengalami sindrom Eisenmenger juga ga akan ada. Tapi menarik juga sih untuk didiskusikan lain waktu. Karena penyakit ini menyerang hampir semua orang dan menyebabkan disfungsi hampir semua organ (lebay mode ON).

Jumat, 27 Juli 2012

Trilogi sambil menyelam minum air

Bismillah,
yep, tulisan kesekian dari tulisan-tulisan ga penting menurutku.
Pernah denger mungkin, atau sering kalimat ini muncul dalam beberapa tulisanku.
"Sambil menyelam minum air, kalau perlu ada berlian atau mutara ambil saja, ada ikan ambil saja, apapun yang kiranya bagus ambil saja", kurang lebih seperti itulah.
Dan memang itu aku yang memunculkan dan mempraktekannya. Efetktifkah? bergunakah? secara umum berguna dan memang bisa naikin CV lah, atau capaian pribadi kita.
dengan berprinsip itu, true story, aku bisa dapatkan apapun yang aku mau (kasarannya). Banyak koneksi yang bisa aku bentuk, banyak project yang bisa kukerjakan, dan banyak juga fasilitas serta uang (mungkin) yang bisa diperoleh. Dalam peribahasa tersebut tersimpan pesan bahwa kita harus bersikap oportunis, dalam artian capai dan kerjakan apapun yang bisa kamu kerjakan. Seluas dan sebanyak mungkin, karena kesempatan tidak datang dua kali. Benar kan. TERUS Pertanyaannya, "Lha terus kenapa hal ini dipermasalahkan?"
Ternyata peribahasa modifikasi tersebut belum selesai kawan. Masih ada lanjutannya. Lanjutan yang sebenarnya merupakan suatu refleksi terhadap diriku sendiri. Lanjutan yang muncul setelah sekian lama aku mempraktekan prinsip-prinsip itu...kurang lebih lanjutannya seperti ini..
".....Namun ingat, seberapa besar kantung yang kau bawa, kalau semuanya kau ambil dan kau masukkan, sedangkan kantungmu tidak terlalu besar, maka siap2 saja untuk tas itu sobek dan berantakanlah barang-barang yang sudah kamu masukkan"
Kapasitas dan kemampuan, hal yang tidak boleh dilupakan. Jangan mentang-mentang ada kesempatan, kemudian secara brutal (kalau tidak mau dibilang serakah) mengambilnya tanpa memikirkan kemampuan diri, tanpa memikirkan konsekuensi yang harus ditanggung setelahnya. Memang terlihat keren ketika kita terlibat dalam banyak hal, menjadi bagian penting dari banyak hal, berinteraksi dengan banyak orang, pergi kesana-kemari untuk urusan-urusan tersebut, memasang status-status sombong yang bikin kita untuk sementara mabuk. Dan memang, yang namanya mabuk itu nggak ada yang bener, setelahnya pasti akan jatuh, hilang keseimbangan.
Refleksiku untuk hari ini, perhatikan dan pertimbangkan kemampuanmu...seberapa besar kantung yang kamu miliki...

Rabu, 25 April 2012

April (bukan) Mop

Sudah lama tidak nulis lagi. Bukan berarti tidak ada cerita-cerita berkesan lagi tetapi lebih kepada kemalasan untuk menulis..opo toh.
Yups, bulan April, keren lah ya. Ada banyak banget hal yang terjadi, Hemm mulai darimana yak.Oya terkait penawaran Prof untuk melanjutkan studi untuk posisi Ph.D bidang Glaukoma, alhamdulillah sudah bertemu dengan beliau. Karena posisiku saat ini masih belum jadi dokter beneran, tidak masalah kapanpun beliau bersedia untuk membantu. Yang pasti harus pinter bahasa Inggrisnya, hehe. Okey prof, as u wish. Subhanalloh. Semoga ini adalah jalanku.
Apalagi ya, oiya ini, sebelumnya kontrak kerjaku dengan salah satu center manajemen pelayanan kesehatan  untuk pendidikan kedokteran di kampus sampai 6 bulan kedepan. Entah kenapa, kemudian ditransfer ke salah satu proyek Dikti, whatta, aku pikir. Meskipun sempat galau tentang statusku yang sebenarnya, tapi alhamdulillah sudah jelas sekarang, aku masih pegang dua-duanya (Whattt). Mbuhlah, soal renumerasi, manut saja aku, dikasih berapapun oke. (ini bukan berarti pasrah lho, tapi bagi pemula seperti saya penting untuk membuat track record yang baik, masalah gituan ntar bakal ngikut kok, yakin deh).
Trus apalagi ya, oiya, proyek yang lain, masih dalam tahap negosiasi sih tapi kemungkinan untuk deal sangat besar karena mereka yang butuh kita.Nah lo. Dan sudah deal, yeyeye, alhamdulillah, sampai tahun 2013 rencananya (ngarep passive income.co.id).
Apalagi yah....masih banyak cerita, tapi ntarlah nulisnya, mau ngerjain yang lain dulu. Semakin banyak deal-dealan otomatis semakin banyak kerjaan masbro.

Minggu, 01 April 2012

APalah Ya...

Minggu yang luar biasa actually. Minggu terakhir stase saraf diawali dengan ngumpulin syarat2 ujian in the last minute. Beuh, susahnya ketemuan dengan pembimbing, entah sudah berapa kali cancelled. Tapi, may be thats the art of this business, I mean we can't go and let all the think going fast, we need a turn for some. Dan, alhamdulillah for sure, dapat penguji ujian yang wow. Whatta perfect combination I think. Get out from the tiger's cage then entering a crocodile's pool. Great tandem I think.
As usual, my story isn't that short. And I'll never make that short. Heheh..apa sih ya. Nah minggu ini pula,senin dihubungi bakal ada rapat untuk website di Saphire Hotel sebgai ganti tertundanya rapat di Jakarta pada hari Jumat sebelumnya, karena ada rapat dengan DPR or something like that lah. Oke, ga masalah buatku ga harus pergi ke Jakarta yang super ribet. Ga betah lah lama2 disana. But, akhirnya nggai jadi juga yang di Saphire. Whateverlah, yang penting tugas2 ku selesai, ntar juga ngikut untuk masalah2 kaya gituan. Hemm..karena ga jadi, maka diganti hari kamis kemare, rapat koordinasi web dan datang telat karena hatus ujian, tapi alhamdulillah semuanya lancar.
Untuk ujian, as expected, nggak cukup sekali. Yup berkali-kali, dan sering dibilang fatal, oh my God. Nunggunya lama, dan ya semua terjadilah. Haha..ketika ditanya, " menurutmu kamu lulus nggak? Aku bilang...nggak dok, masih banyak yang kurang." akhirnya ngulang lagi ujian hari berikutnya. Whateverlah, yang penting semua ga sia-sia. Dan Alloh SWT memang Maha deh...sedang galau-galaunya ngulang ujian dan dibilang gagal, tiba-tiba ada getaran handphone tanda ada sms baru. Ku bukalah dengan sedikit lunglai, maklum sedang spinal shock, jadi asal2an aja. Oh, nomer baru, ntar aja deh liatnya. Sudah kubiarkan beberapa lama sambil liat staff priksa pasien. Stelah agak lega coba aku cermati dan whatta....ntahlah nambah kegalauan atau sebagai kabar gembira. Dapat sms dari prof yang sangat ku kenal, dan saat itu sedang berada di Belanda, entahlah ada urusan apa. Isinya sederhanya begini, prof mata dari univ.Groningen, bilang masih ada satu slot untuk kandidat Ph.D baru untuk konsentrasi Glaukoma dan biologi molekular vitreous, dan menawarkannya padaku. Subhanalloh lah, di saat kegalauan melanda, muncul berita ini. Langsung aku bales, tertarik sekali dengan posisi itu, dan diminta untuk ketemuan minggu depan. Hemm, semoga lancar dan terwujud. Alloh memang punya caraNya sendiri yang tak terduga-duga untuk insyaAlloh hamba-hambaNya. 
Pernah, entah kapan, kepikiran pingin banget punya tablet atau sejenisnya lah, untuk mempermudah kerjaan. Heheh...tapi cuma keinginan, jelas ndak punya duit buat beli gituan. Buat makan aja sudah susah nyarinya, harus tabraka-tabrakan waktu kesana kemari. Eh, kantor tempatku bekerja ada tablet Ipad yang relatively nggak terpakai, karena yang make sebelumnya sudah pake laptop mac juga. Ya sudah disuruh dipake dulu aja. Hahaha..walaupun bukan punya sendiri tapi yang penting punya lah ya.... Mungkin sekarang di pinjemi, suatu saat bisa punya sendiri. Heheh.. InsyaAlloh lah ya. 
Minggu ini dari kejadian2 tersebut hikmah yang bisa diambil untuk evaluasi diri, introspeksi diri adalah bahwa hal- hal yang kita alami di dunia ini bukanlah suatu hal yang kebetulan saja. Lebih dari sekedar kebetulan, dibalut dengan doa dan kepercayaan penuh bahwa Dia tidak tidur. Alloh mendengar segala do'a doa kita, dan mengabulkannya dengan caraNya yang akita harus yakin itu adalah hal terbaik untuk kita.
Just do the best, you will get the best and Alloh will give the moooorree best than we can imagine..^^b
Sent from my iPad

Minggu, 04 Maret 2012

Menulis lagi...
Lagi cukup seneng dengerin lagu Someone like you-nya Adele tapi pake yang versi Javier Colon. Bukan bermaksud ikut-ikutan nge-galau sih, cuma memang lagunya cukup enak di dengar.
Cerita lagi ajalah ya, minggu kemarin, hari Selasa kalo nggak salah termasuk hari paling hectic. Bukan apa-apa, tapi hari Senin, hari pertama masuk saraf dan malamnya langsung jaga unit stroke, trus paginya masuk seperti biasa, dan sorenya ada 2 agenda sekaligus, yaitu ngisi training di Ukesma UGM sama ada rapat website pendidikan kedokteran setelahnya (rapat dadakan ini).
Haha, biasalah, hari pertama belum ngerti apa-apa (sampe sekarang sih, :P), nah waktu itu dah bilang aku ga bisa jaga malem karena harus buat presentasi untuk besoknya, tapi apa daya, yang lain pada ga bisa juga, dan dengan agak kesel, akhirnya maulah diriku jaga (kesel karena yang lain alasannya pada nggak jelas). Akhirnya jaga unit stroke, harapannya sih malam ini bakal tenang dan bisa tidur nyenyak, tapi ternyata.....yasudahlah. Pertama ada pasien HHS (kenapa masuk bangsal stroke??), monitor 2 jam (KU dan GDS), okelah ya...enaknya disini kita boleh ngambil keputusan soal terapi dan perawatnya juga enak, sangat kooperatif, jadi malam ketika rresiden sudah tidur. Ikut aja algoritma I pikirku, dan sukses, lumayanlah ya. Eh dini hari masuk pasien baru lagi , oh God, monitor juga ni pasien. Eh ada juga pasien yang produktif sekali mukusnya, bolak balik harus suction. Disela-sela kesibukan itu, aku sempetin deh buat presentasi, yah semaksimal yang aku bisa buat dalam kondisi sperti itu. Akhirnya 90% lah jadi, nanti disempurnakan dibangsal ajalah.
*Tri mempersiapkan presentasi :
1.Jika waktunya cukup, maka buatlah sebaik-baiknya, penuh gambar-gambar interaktif, biar audience ga bosen.
2. Jika waktunya ga cukup, buatlah sebisanya, dan perbanyak diskusi,hohoooo,,,,
(kekacauan dalam presentasi Anda bukan tanggung jawab penulis pokoknya..)
Akhirnya jam setengah empat kurang izin buat absen sore, alhmdllh dapat izin, dan gooo...
(lanjut ntar deh..)

Rabu, 15 Februari 2012

Share lagi : Yok Bermanfaat Bagi Orang Lain ^^


Di suatu sore, di perpustakaan, tiba-tiba telepon genggam-ku bergetar. Oh, ada sms dari mbak pengurus klinik masjid di Jogja. Ku sentuh notifikasinya (touch screen ceritanya), dan muncul pesan ini...
“Assalamualaikum. Dok, mau ngasih tau aja kalau sekarang klinik masjid sudah ada alat untuk tes darah (gula darah, asam urat, dan kolesterol”
                Alhamdulillah, batinku. Alat yang sekian lama direncanakan untuk diadakan sebagai salah satu pelengkap pelayanan kesehatan di klinik. Tak henti-hentinya aku tersenyum dan mengucap syukur atas nikmat itu. Akhirnya masyarakat sekitar tidak harus membayar mahal untuk periksa macem-macem itu.
                Cerita berawal pada bulan Desember 2011 yang lalu, ketika ada pesan dari salah satu kakak angkatanku yang meminta tolong menggantikannya di salah satu klinik masjid di Jogja. Pada waktu itu dibeberkan latar belakang klinik, kenapa kita harus ngisi disana dan macem-macemnya lagi. “Tapi ini klinik sosial dek, gimana?”, katanya. Tanpa banyak alasan, langsung kuterima saja tawaran tersebut. InsyaAlloh berkah, pikirku. Bukannya sombong atau sejenisnya (naudzubillah, semoga Alloh menghindarkanku dari hal demikian), aku memang telah sangat terbiasa dengan kegiatan-kegiatan yang memang berbau pengabdian masyarakat. Bukan apa-apa, hanya mengamalkan salah satu pesan dari Nabi SAW, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.Sederhana tapi memang seperti itulah kenyataannya.
                Klinik ini memang sudah berdiri cukup lama dengan segala jatuh bangunnya. Semangat para pengurusnya hanya sederhana, yaitu selain mengharap ridho Alloh tentunya, mereka bersemangat karena tidak rela masyarakat muslim disana, yang tinggal di sekitar masjid, ketika periksa kesehatan dll harus ke klinik non-muslim (maaf bukan bermaksud untuk musuh-memusuhi) yang memang telah lebih dulu disana. Mereka pikir, kita harus bisa memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat sini, memberikan yang lebih baik dan tentunya tidak harus bergantung pada orang lain. Mereka berpikir, “masak kita tidak bisa, jangan sampai mereka berpikir orang muslim tidak ada dokter”, perkiraanku seperti itu. Sekali lagi ini bukan bermaksud untuk benci-membenci.
                Alhamdulillah, ketika aku masuk, klinik ini sudah cukup established dan salah satu tanggung jawabku tentu untuk membuatnya lebih baik lagi. Sekali lagi, Alhamdulillah, pengurus-pengurus beserta takmir masjid sangat bersemangat juga untuk mengembangkan klinik ini. Apalagi pengurusnya masih muda-muda,(hehehe, jangan berpikir yang tidak-tidak ya !), jadi semakin bersemangat saja. Ibu-ibu pengasuh juga meskipun sudah cukup sepuh, tapi semangatnya luar biasa.
                Klinik ini hanya buka seminggu sekali, yaitu pada hari Minggu pagi, setelah kajian pagi di masjid. Hari Minggu,actually  the only holiday I have but for me it doesn’t matter as long as I can give all I have to help others. Most of patients are geriatrics, as you know they’re very complicated. May be sometime I will write those complicatedness in an article. (lho kok jadi Inggris,:P). Back..back..back...
                Kadang aku ngajak beberapa temen yang bisa bantu disana. Kadang mereka bisa seringnya gak bisa (curcol), ya sudah berarti sendiri lagi, as usual. Malas kadang dan sering muncul, tapi ketika akan bilang “dek, besok libur ya”, itu terasa tak sampai, ketika ingat wajah-wajah pasien disana. Pernah pas lagi pulang ke rumah,sesuatu yang jarang akulakukan, parah, bilang ke ibu, “buk, aku besok harus ke klinik mruput (pagi sekali.red), tapi aku males,capek banget buk tapi nggak tegel (tega.red) je  ”, ibuku dengan tenang menjawab “yasudah nggak apa-apa, insyaAlloh kalo diniatin ibadah bakal dimudahkan, insyAlloh”. Jawaban yang menenangkan walaupun aku sudah tahu teori itu, tapi ketika mendengar dari orang lain, dinasihatkan kepada kita, apalagi ibu, bakal sangat melegakan dan menenangkan.
                Yup, sekelumit cerita untuk aku share di blog ini, sengaja tidak aku publish kemacem-macem seperi facebook/twitter/lain-lain, takut menjadi riya’, takabur dan penyakit-penyakit hati yang lain. Biarlah yang membaca adalah orang-orang yang nyasar di blog-ku saja..hehehe....semangat2..jangan pernah berhenti untuk bermanfaat bagi orang lain, insyaAlloh menjadi ibadah bagi kita.^^

Rabu, 08 Februari 2012

Share ^^

Sekedar ingin menulis. 
Alhamdulillah, sudah setengah jalan periode rotasi klinik ini. Rasanya sudah Februari aja, tak terasa (bohong.red..kerasa banget tau) tinggal beberapa bulang lagi (beberapa???) bakalan selesai. InsyaAlloh. November 2012 ini, jika lancar, adalah akhir semua stase. Kalau sesuai rencana akan ditutup dengan indah (whatss??..Indah??) olehh stase pediatrik. Luar biasa, ter-setting mencapai klimaksnya distase terakhir.
Awal tahun 2012 menjadi awal yang buatku cukup luar biasa. Banyak hal yang terjadi dan dimulai. Di awal tahun inilah, mantap aku katakan bahwa periode rotasi klinik akan sangat sayang terlewatkan tanpa mencapai hal-hal lain. Dalam artian, periode ini bukan berarti kemudian dijadikan alasan untuk tidak berkarya, tidak aktif dalam hal -hal lain. Sumpah, sayang banget.
Memang tak bisa dipungkiri, ketika memasuki periode ini bakalan ada kesibukan yang bisa dikatakan jauh lebih banyak dibandingkan dengan dulu waktu masih kuliah S1. Pasti itu. Jadwal jagalah, refkas-lah, tutorial-lah, nunggu konsulen lah, itu adalah hal-hal yang membuat rutinitas koas menjadi semakin gaul (baca.padat.red). Akan tetapi, menurutku, itu bukan menjadi alasan untuk tidak berkarya atau aktif di bidang lainnya tanpa mengorbankan kewajiban utama kita untuk menyelesaikan pendidikan ini.
Awal tahun 2012, aku memutuskan untuk bergabung dengan Pusat Pelayanan Manajemen Kesehatan FK UGM. Bergabung menjadi editor dan PJ untuk salah satu website-nya. Lumayan, untuk menambah koneksi, pengalaman, pengetahuan dan tentu saja pemasukan. Padahal ketika akan mendaftar sempat was-was karena spesifikasi yang disyaratkan adalah dokter fresh-graduated. Saya yang termasuk masih unyu-unyu ini nekat saja daftar dan gooll. Gak tahu kan kalau tidak dicoba.
Awal tahun 2012 ini, kembali mengaktifkan diri di salah satu majalah fakultas. Setelah hampir 1 semester menghilang, akhirnya muncul lagi. Dan memang termasuk orang yang dicari (baca.dikangenin.red), hehehe.. astaghfirulloh. Dan, akhirnya sayapun menulis lagi.
Awal tahun 2012 ini, beberapa job juga menghampiri. Kemaren sempet menjadi moderator dalam acara bedah buku-nya dr. Jose Rizal, di UNY, membantu klinik kesehatan masjid tiap hari Minggu, mengisi training di salah satu organisasi di kampus (aneh ini) dan beberapa kegiatan lainnya.
Sekilas memang kelihatan berat kalau dipikirkan dengan berat dan rumit. Namun, jika dipikir dan di set di dalam otak kita semua itu mudah, ya bakalan jadi mudah. Bukan teori, tapi sudah saya buktikan berkali-kali.  
Hikmah yang saya ambil adalah bahwa jika dicermati betul, kita banyak banget memiliki waktu dan kesempatan untuk bekerja lebih dan berkarya lebih. Tak terbatas. Justru seringkali diri kitalah yang memberi batasan dari hal yang sesungguhnya tak terbatas itu. Justru seingkali diri kital sendirilah yang memunculkan berbagai alasan untuk stay pada zona nyaman kita, memunculkan berbagai alasan untuk tidak melakukan apa-apa.
Sering, saya ditegur oleh beberapa orang terdekat saya,"Heh, kamu kok berani-beraninya kerja ini, kerja itu. Memang koas-mu nganggur banget apa?", atau yang lain " Nggak apa-apa dek kamu ambil proyek ini?, koasnya bakal keganggu nggak?" atau "Wah, parah ente, nggak capek?" dan beberapa pertanyaan dengan nada yang hampir sama. Saya katakan bahwa, saya bisa. Tanya saja ke teman-teman sekelompok saya, apakah saya meninggalkan tugas-tugas saya, atau saya hanya sekedar lewat saja di setiap stasenya?
Kesempatan dan waktu itu bukanlah hal yang saklek, kesempatan dan waktu itu dinamis, bisa kita atur (jika kita mau). Sering kita bilang,"Duh, ga ada waktu ni untuk ngerjain ini!!". Akan tetapi yang sebenar-benarnya adalah kita tidak mengalokasikan waktu kita untuk itu. Jika kita alokasikan tentu kerjaan itu bisa rampung kita kerjakan.
Sekali lagi, jangan sampai masa muda kita hanya terlewat begitu saja tanpa ada karya atau apapun yang bisa kita hasilkan. Jangan berpuas pada satu hal, karena ibaratnya setiap kita mancing dan mendapatkan satu atau dua ikan, ingatlah masih ada jutaan ikan bahkan yang lebih besar yang menanti untuk kita pancing. Gak nyambung tetapi masih oke-lah..^^...dan satu lagi yang selalu saya ulang-ulang dan mungkin kasarannya menjadi salah satu dzikir tiap hari saya, yaitu sambil menyelam minum air, kalau ada ikan tangkap, kalu dapat   emas atau mutiara ambil juga...manfaatkan waktu dan kesempatan sebaik mungkin..

Senin, 23 Januari 2012

Izrail Ada Di Sampingku

Tik.tik.gemeretak jarum jam tangan mengalun malam ini. Bercampur dengan suara bip-bip-bip monitor jantung bagaikan simfoni kacau malam itu. Simfoni yang diperparah dengan suara serak dan sesak tubuh yang terbujur lemah dalam kamar luas berisi belasan tubuh dalam kondisi yang setali tiga uang.Entahlah, suara apalagi yang bakal muncul.
            Malam ini menjadi hari terakhirku jaga malam di bangsal ICCU. Tak ada firasat apapun, tak ada pertanda apapun. Malam ini semua terasa sama seperti biasanya. Baru dua jam setelah aku operan jaga dengan teman sekelompokku tapi malam ini terasa lama sekali. Sepi. Bolak-balik kutengok jam tangan hitam kecilku dan berharap segera selesai tugas jagaku. Namun, seakan jarum detik ini hanya berputar-putar tanpa diikuti putaran jarum menit apalagi jam.
            Waktu coba kupercepat dengan membolak-balik status rekam medis yang tergeletak rapi dibawah kolong meja perawat. Mencoba mengikuti kata senior-seniorku untuk belajar dari pasien, ku baca-baca status itu.Satu demi satu kubuka dan coba menulis template untuk follow up pasien besok. Duh kok jelek semua, pikirku. Jelek kuartikan sebagai pasien yang prognosis membaiknya minimal atau bahkan tidak ada. Mendekati ajal lah mudahnya. Kucoba untuk berharap semoga besok semua pasien dalam keadaan baik sehingga tidak merepotkanku waktu followup dan laporan esok paginya.
            Kulihat kembali jam tanganku, dan masih sama. Lama. Semua status  telah selesai aku tulis. Kucoba pelajari kembali status satu demi satu. Jedug, aww. Kepalaku terbentur meja. Tak sadar berat mata ini untuk tetap terjaga. Kucoba berjalan supaya saraf simpatisku terangsang sehingga bisa melek lagi. Berhasil, tapi hanya bertahan beberapa menit. Owh tidak, perawat semua juga sudah tidur,kalo aku tidur siapa yang jaga, pasien jelek begini,bisikku. Keterbatasan orang dalam kelompokku membuat kami harus berjaga sendirian saja supaya bisa istirahat esok paginya. Ah, coba aku keliling lihat pasien.
            Pasien bed 1, Bapak Hendrawan namanya. Beliau adalah seorang manajer di sebuah bank ternama. Sekarang terbujur tak tersadar di bed ini. Tadi siang sempat terjadi VT kata temanku saat operan tadi. Duh, jantung. Padahal kemarin sudah membaik dan bahkan bisa mengobrol denganku kemarin. Semoga membaik, doaku.
            Bed 2, Ibu Jamilah, penghuni lama. Punya penyakit jantung juga. Baik beliau orangnya, sampai kadang tak habis pikir kenapa orang sebaik beliau bisa terkena penyakit ini. Sesak kulihat nafasnya, dan benar, “ronkhi basah basal positif,duh edema paru. Sudah siberi ekstra diuretik tapi lambat progresnya”.
            Kulanjutkan langkahku ke bed 3 dan seterusnya sampai bed 15 sudah aku sambangi semuanya. Jelek, kesimpulanku berdasarkan data objektif yang aku punya. Huft, semoga semuanya besok membaik. Kembali aku berjalan menuju nurse station yang juga merupakan tempat tidurku nanti.
            Kurapikan kembali buku-buku tebalku. Kukembalikan rekam medis pasien di rak-rak tua dekat meja. Sambil memastikan semua aman, kulepas jas putih kumalku, kulipat rapi dan kutaruh dimeja. Kuletakkan dengan nyaman kepalaku dilipatan jas putihku. Merapal doa sebelum tidur dan kutambah doa agar pasienku sehat semua. Mataku pun mulai terpejam. Ups,lupa, set alarm untuk besok pagi. Jangan sampai keduluan perawat bangunnya. Sambil duduk dan berbantalkan jas, kucoba menutup kembali kelopak mataku. Dan tertidur.
            Beep..beep..beep..Ya Alloh suara darimana itu. Terhentak dari tidurku kupakai kembali jasku dan kucari arah suara itu.Bapak Hendrawn, batinku. Kulihat monitor, VT! Kudekati badan lemah di bed 1, “apnea dan no pulses!” Segera aku lari menuju ruang residen, ku ketuk pintu kamar tersebut. Bodo lah, mau dimarahi atau apa, berkali-kali ku ketuk pintu kamar itu. Dok, Apnea-VT bed 1, teriakku. Terbuka pintu dan tampak  dr.Andi, dokter jaga malam itu, langsung menyambar jas putihnya, kemudian bergegas. “Dek bangunkan perawat juga”,pintanya. Okelah.
            Lanjut ku lari ke kamar perawat yang masih agak gelap. “Mas, bangun mas. Apnea!, “teriakku. Kudengar suara mengiyakan dari balik pintu. Langsung bergegas ku ambil NRM dari lemari dan lari ke arah dr.Andi yang dengan cekatannya meng-RJP pasien. “Dek, gantian. Aku mau siapkan injeksinya !”, langsung kegantikan beliau melanjutkan RJP-nya.
            Ayolah, nafas pak. Terlihat wajah Pak Hendrawan, pucat, belum menunjukkan adanya perbaikan. Kulanjutkan RJP-ku, sambil melihat semua yang disana sibuk untuk memberitahu keluarga, menyiapkan macem-macemnya. Kulihat dr.Andi masukin ini dan itu lewat jalur IV pak hendrawan. Bodo lah apa itu, lupa nanya, yang penting kuteruskan pijat jantungku. Kulihat monitor, masih saja VT. Ya Alloh, beri kemudahan. Kulafadzkan dzikir sambil terus tangan ini bekerja.
            Di ambang kematian, pikirku. Mungkin saat ini Izrail tepat ada disampingku sambil menunggu waktu yang telah ditentukan. Mungkin saja, saat itu bukan pak hendrawan yang akan diambil ruhnya melainkan aku.Oh, aku belum siap. Kulanjutkan pekerjaanku sampai tak terasa sudah pegal semua badan ini. Kulihat wajah dr.Andi, tampaknya dia mengerti keadaanku.Sudah cukup lama kami bergantian memijat jantung pak Hendrawan. DC shock, alat yang kami butuhkan saat itu sedang rusak. Ironi memang, di dalam rumah sakit yang cukup besar ini alat penting seperti itu tidak bisa digunakan. Huft, apakah rumah sakit daerah selalu seperti ini?,bisikku. Lelah sudah aku, begitupun beliau. Dan yaps, sudah. Malaikat Izrail telah melakukan tugasnya. Cek pupil, midriasi penuh. Innalillahi wainna ilaihi raji’uun.
To be continued...

Senin, 26 September 2011

Refleksi : Awal Sebuah Jalan Ketidaksengajaan

Ditulis 2o Mei 2011

Sebuah sejarah bagi diriku terukir pada hari ini.Di awali dari sebuah ketidaksengajaan menjadi sesuatu yang benar-benar sejarah bagiku. Ya, saat ini aku berdiri dalam dekapan jalan ketidaksengajaan. Toga hitam membalut tubuh keringku. Toga hitam ketidaksengajaan mungkin. Mungkin tidak ada yang tahu bahwa selama ini aku berbohong pada mereka. Bahkan aku berbohong pada diriku sendiri. Entah kebohongan yang disengajakan atau suatu ketidaksengajaan. Sering aku tertawa dalam hati ketika melihat proyeksi diriku dalam sebingkai cermin kecil. Sering pula aku menangis dalam hati ketika melihat betapa apa yang kucapai saat ini adalah buah dari ketidaksengajaan. Ketidaksengajaan yang indah. Ketidaksengajaan yang mengantarkanku pada keadaanku saat ini.

Teringat hampir empat tahun lalu ketika aku masih duduk di kelas XII SMA. Ya, XII IPA 5,nostalgia tak terlupa. Aku yang termasuk siswa yang dengan keberuntungan bisa menjadi bagian tak terlupakan dalam perjalanan sekolahku selama 3 tahun ini. Bersyukur karena aku yang sangat biasa ini bisa tercatat dalam catatan lain di sekolahku, tentu catatan yang baik.

Saat itu yang aku pikirkan adalah bisa melanjutkan sekolah dan kemudian bekerja. Benar-benar tipikal orang biasa. Pikiranku sudah tertuju pada akademi militer. Itulah cita-cita sederhanaku untuk bisa menjadi seorang perwira,perwira angkatan darat. Entahlah, setan apa yang merasuk dalam pikiranku saat itu. Waktuku aku habiskan untuk mempersiapkan fisik dan mental untuk bisa lolos ujian. Menu lari pagi 2-3 kilometer dengan pemberat dimasing-masing kaki 2 kilogram adalah hal yang biasa buatku. Push up dan sit up menjadi menu pagi sehabis mengaji. Saat itu aku berpikir, bodoh sekali jika mereka tidak menerimaku dengan segala kelebihan yang aku miliki. Benar-benar setan telah merasuk dalam otakku.

Pada waktu itu aku tidak peduli dengan euforia teman-temanku yang ribut untuk mengikuti berbagai ujian masuk perguruan tinggi. Rasa optimisku sudah merasuk sampai ujung jempol kakiku. Entah si jempol sadar atau tidak tetapi rasa percaya diriku sudah membuncah tanpa berpikir bahwa dunia ini diciptakan dengan berpasang-pasangan. Bahwa ada keberhasilan dan ada kegagalan. Keduanya berbagi probabilitas yang sama seperti sebuah koin mata uang. Aku melupakan itu.

Dan akhirnya aku gagal lulus seleksi. Kecewa, itulah yang ada dipikiranku. Seakan apa yang sudah aku lakukan sama sekali tak ada artinya.

Aku putar kembali life plan-ku. Aku rombak habis segala cita-cita dan angan-angan yang sudah aku bentuk jika aku berhasil menjadi seorang perwira TNI. Kemudian aku mulai melihat peluang-peluang yang tersisa. Sambil menahan rasa iri sebab sudah banyak teman yang sudah diterima di perguruan tinggi ini dan itu sedangkan aku masih berdiri dalam ketidakpastian. SPMB menjadi jalanku satu-satunya untuk bisa melanjutkan sekolahku.

Dan ketidaksengajaan itupun dimulai. Aku memasukkan daftar prioritas fakultas yang sama sekali jauh dari latar belakangku. Alasannya sederhana, aku menjadi malas belajar jika standar yang aku tuliskan bukan standar tertinggi yang mungkin bisa aku capai. Dan ketidaksengajaan itu berbuah kebingungan. Ketika hal yang tidak aku sangka benar-benar terjadi. Bingung apakah aku benar-benar bisa bertahan disana. Ketidaksengajaan yang mendilemakan.

Pagi itu dengan hati yang masih tertunduk melihat ketidaksengajaan ini, aku berdiri tegap dengan jas almamater yang menyembunyikan rasa terdalamku,terpasang rapi ditubuh kecilku. Melihat sekelilingku, membuatku takut dan merasa inferior dibanding yang lain. Semua dengan ceria berbaris dan bersenda gurau. Aku yakin gurat muka mereka menandakan kegembiraan yang amat sangat. Sedangkan diriku, 180 derajat berkebalikan dengan mereka. Entahlah, sekali lagi aku masih takut. Ku coba berkenalan dan bergaul dengan mereka untuk menutup ketakutanku akan segala hal yang akan aku hadapi nanti. Ku coba tersenyum, tersenyum dalam selubung ketakutan.

Tiga setengah tahun berlalu. Terlalu banyak cerita selama 3,5 tahunku di kampus ini. Suka, duka, senang, sedih, bangga, kecewa semua bercampur menyatu dalam harmoni cerita tiga setengah tahunku disini. Teman-teman yang sangat baik. Guru-guruku yang sangat luar biasa. Bagaimana dengan rasa takut dan inferiority-ku? Rasa ketakutanku sudah sedikit bisa aku atasi.Rasa inferiority-ku sudah sedikit bisa aku sembunyikan karena masih sulit aku untuk menghilangkannya. Sampai saat ini. Sudah kucoba untuk men-sugesti dan meyakinkan diriku tapi masih saja ada dan menghantuiku. Sampai saat ini.

Kini, sudah pantaskah diriku untuk mengenakan toga ini atau belum, aku tidak tahu. Yang pasti saat ini aku memakainya. Dan terpaksa aku harus pantas, entah bagaimana caranya. Buah ketidaksengajaan yang saat ini harus aku jalani jalan ketidaksengajaan ini. Ketidaksengajaan yang bersejarah dan mau tidak mau harus aku jalani jalan ketidaksengajaan ini dengan penuh kesengajaan dan kesadaran. Berharap lewat jalan yang aku awali dengan ketidaksengajaan ini, aku bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

My beliefs, just do my best and I’m sure, I will get the best. And He will give the more best than I can imagine. That’s His promises and He’ll never broke His promises.

Jumat, 22 April 2011

Cerita Koas-ku..neng nong neng gung..

Telat sih nulisnya,tapi gapapalah...
Berawal dari hari Jumat,1 April 2011 ini..hahaha..melihat teman2 PD 2007 memakai kemeja putih dan bawahan hitam membuka kembali memoriku sekitar hampir 4 tahun yang lalu. Dulu kita lari-lari bersama dipagi buta,sambil cuek denger senior teriak-teriak (hipoglikemi ntar) menyambut kami. Dulu, dengan baju itu pula kita kumpul-kumpul di lapangan parkir di siang terik,sambil melihat jam,kapan OSPEK ni selesai. Dulu,dengan baju seperti ini,tertempel dan tersampir (halah,bahasanya) bermacam-macam atribut ga jelas yang bisa membuat kami begadang tiap malemnya...
Tapi sekarang sangat berbeda..sekarang dengan baju seperti ini,kami berjalan dengan tegap menuju ruang diklat yang akan menjadi saksi janji kami..Sekarang,dengan baju seperti ini sudah tidak ada lagi atribut-atribut tidak jelas,yang ada hanyalah jas putih bertuliskan nama kami dan diatasnya persis ada tulisan terbordir rapi.."DOKTER MUDA"..Dan dengan pakaian itu kami siap menatap tantangan baru..(hahahaha..tulisannya jijay banget..serius beuddddd..hoekkss)..
Teng..tong..untuk nanti pembacaan janjinya,ada satu dari kalian yang memimpin yaaa..*baik buuu....HEmmm..mushtofa kamal mana? Nah lo..nah lo..kok gue (cie,gahol mamen)..tolong kamu saja ya..(halah,yasudahlah..daripada lama)..siap bukkkk..
Nanti kamu gini,gitu,begini,begitu..bla..bla..bla..*siap lah..
Persiapan bla bla bla sudah...nah,pas saat krusial tuh,ups..keseleo lidahnya baca teks-nya..astaga,klo aku panik,ntar bubar acaranya..ah bodolah..lanjut...alhamdulillah lancarrrr..gaol lah dirikyu..setelah selesai..trus pulang (walah,ga banget)..cont'd

Nah lanjut lagi..
Kemudian,dihari pertama pembekalan langsung deh ambil tempat duduk paling depan. Bukannya sombong ato cari muka,tapi pengen aja menghapus tradisi malas duduk didepan...Nah,tu desktop secara mengejutkan (sebenernya ga juga sih,sudah kuduga sebelumnya) fotoku langsung nampang di slide pertama pembekalan,jadi judul lagi..waakakaka..memang orang keren ga kemana...Udah tuh, siapa yang menjadi ketua untuk gelombang ini..jeng..jeng.."mushtofaa"..whatttt..secara parah langsung dipaksa untuk jadi ketua,ngek,ngok.yaudahlah,paling bentar aja sih..ehemm..ehemm..langsung deh,first speech "teman,saya tidak bisa sendiri,mari kita berjuang bersama-sama"..ceilahh,sok bijak..--" #jitak
Yaps,pembekalan berjalan seperti biasa,nothing special but surely unforgettable moment. Oiya,sempet dibilang sama dokter Mahar,"silahkan maju mas yang di depan. Setau saya dia sering duduk didepan dan aktif ketika kuliah dan tutorial"..walah,tambah berat aja ni kepala..sempet ngebanyol dikit2 didepan para profesor dan spesialis di ruang diklat sardjito (memang koas gemblung)..ahaha..but the story must go on..
Nah,ceritanya udah selesai nih..hari pertama koas di Poli Mata..jeng..jeng..nunggu pak kepala bagian,trus ngobrol2,dan ea ea langsung masuk poli (belum belajar nih). Nah,hari pertama dapat jatah jaga bangsal,ya seperti biasa ikut kalu ada konsul dari bangsal lain,kebetulan waktu itu dapat konsul untuk liat anak yg lagi trombositopenia (ga tau et causanya apa).trus periksa2..gitu2 lah pokoknya..
Nah paginya harus sudah sampe dibangsal jam 5.30 tuh buat ikut follow up,kejadian lucupun terjadi..hahaha,disuruh manggi pasien untuk follow up ni ceritanya,tru datang deh ke kamarnya,udah dipanggil2 kok ga ada yg nyahut,dengan tanpa putus asa panggil2 lagi,eh ada yang namanya hampir mirip2 lah..yaudah aku samperin aja..kebingungan dimulai dari saat ini..Deg,perasaan matanya ga ada apa2..trus kenapa pake kateter..nahhh..udah aku ajak aja..eh sampe di depan ruang periksa disamperin sama ibu2 perawat,lho dek mau dibwa kemana? me: follow up bu...ibu: lha itu kan pasien punya uro...me: ea..ea..ea...salah ambil,hahaha..semua residen dan perawat ketawa semuanya,termasuk pasiennya juga..Beuh,mantap deh..dengan muka innocent aku bilang ni ke pasiennya "hahaha,maaf pak,tampaknya salah ya pak.." bapak : ga pa pa dok..me: nanti bapak akan op kan? nah biar ga strress dan kaku memang mesti jalan2 pak (sotoy abisssss)..jiah,pasien dan para penunggunya ketawa semuanya,,,bener2 dah,keributan lucu dipagi hari..contd

Rabu, 16 Maret 2011

Cerita Si Penebang Pohon

Ini adalah sebuah cerita yang cukup menghentak diriku yang sok sibuk, sok penting, sok ramah, sok sabar, dan sok-sok lainnya ini. Manusia yang dengan segala kepongahan dan kesombonganya melakukan semuanya tanpa ada perhitungan, tanpa adanya kepastian tujuan, tanpa memberikan waktu buat barang sejenak untuk berpikir.
Cerita si Penebang Pohon dan Kapaknya
Suatu ketika ada seorang penebang pohon yang sedang mencari pekerjaan. Dia melamar ke majikan pemilik hutan. Sang majikan sangat terkesan dengan keterampilan si Penebang Pohon tersebut dan menerimanya sebagai pekerjanya. Sang Majikan kemudian berkata "besok kamu sudah bisa mulai bekerja. dan ini aku berikan padamu kapak yang masih baru untuk menebang pohon". Si penebang pohon sangat bergembira dan tidak sabar untuk menyongsong hari pertamanya dia bekerja.
Hari pertama, si penebang pohon dengan segenap kemampuannya berhasil menebang dengan rapi sejumlah pohon. Melihat hasil kerja si penebang pohon tentulah si majikan sangat senang.
Hari kedua, dengan semangat yang masih sama, si penebang pohon mampu menebang beberapa pohon tapi lebih sedikit dibandingkan hari pertama.
Hari-hari berikutnya si penebang pohon frustasi karena pohon yang berhasil ditebangnya semakin sedikit padahal dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk itu.
Karena malu dia berniat untuk keluar dari pekerjaannya. Dia berkata kepada majikannya "sepertinya saya sudah tidak sanggup lagi meneruskan pekerjaan ini. Karena semakin lama pohon yang saya tebang semakin lama semakin sedikit. Saya yakin, saya sudah mengerahkan semua tenaga saya untuk itu". Majikan sambil tersenyum menjawab " apakah kamu masih memakai kapak yang sama dengan yang aku berikan pertama kali?"
Penebang kayu : "masih"
Majikan kemudian berkata " aku melihatmu datang setiap hari untuk menebang pohon dengan kapak yang aku berikan padamu, tapi pernahkah kamu terpikir untuk merelakan barang satu hari untuk MENGASAH KAPAKMU dan membuatnya tetap tajam?"
Pesan dari cerita tersebut adalah jangan terlalu asyik (memaksakan diri) dengan seabrek kesibukan2 kita. Tunaikanlah hak tubuh kita,pikiran kita, ruh kita untuk beristirahat dan meng-upgrade-nya dengan hal-hal diluar kesibukan kita sehari-hari. Berekreasi, istirahat, bersujud dimalam hari bisa dilakukan untuk MENGASAH KAPAK KITA. Yakinlah bahwa masih banyak ujian dan tantangan yang bakal kita hadapi. Dan itu akan bisa teratasi dengan adanya keseimbangan dalam diri.
Teruslah berjuang kawanku, yakinlah bahwa kita bisa meraih mimpi-mimpi kita....

Kamis, 10 Maret 2011

Aku sekarang..

( I just wanna say, I can reach all the things I want. Dont be afraid when you have no idea to start. Just do what you've decided. From nothing being something. Be brief. Just by your own you can change you life. Nothing to be afraid of. Keep looking on the chance that can give you something. Never say, I can do nothing. Never say, my father just..my mother just, none of my relatives is ... You can choose and change your destiny. No matter what. Just do your best and you will get the best and He will give you the more best than you can imagine.)
Bachelor on Medicine....
Reporter on Efkagama Magazine...
Lecturer Assistant of Biochemistry Department...
Public Relation of Medical Emergency Rescue Committee...
Health Content Creator of NLT....
Aktif di SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu) , Medical Bioethics, Health Financing for Universal Coverage...
Trainer for Maternal Health...
Academic Affairs, Senat Mahasiswa FK UGM...
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)/ Student Executive Board of FK UGM...
Keluarga Muslim Cendekia Medika...
Medical Science Club (Medical Science Society)...
Grantee from many..
and so on and so on...



Selasa, 22 Februari 2011

doeng..doeng

Bismillah,,,,
Sebelumnya,tulisan ini aku tulis disela-sela kebosananku membaca dan menghafal sekaligus mempraktekkan (klo pas ga ada orang) check list OSCE Compre yang bentar lagi bakal aku jalani. Aku sangat ingin bisa lulus di gelombang pertama ini, bukan apa-apa, aku hanya ingin membahagiakan my dad and my mom.
Hemm, entahlah, entah apa lagi ini. Rasa yang sebelumnya pernah aku alami. Mengisi waktu-waktu ku dengan impian-impian nan indah yang sangat ingin aku wujudkan. Rasa yang membuatku menjadi sangat bersemangat meraih segalanya. Rasa yang bisa membuat setiap hembus nafasku menjadi sesuatu yang bisa memacu hormon endorfin dari otakku. Rasa yang entahlah, tidak bisa ku gambarkan dengan kata-kata...
Entahlah, entah apa lagi ini. Rasa yang dulu sempat membuatku sangat bimbang tentang keadaanku. Rasa yang membuatku galau tentang apa yang aku jalani. Rasa yang membuatku merasa sedih dan merasa bahwa aku tak pantas merasakan rasa ini, saat ini. Rasa yang membuatku merasa bersalah dan aku yakin aku salah.
Aku merasakan rasa itu lagi...aaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrgggggghhhhhhhhh...