Selasa, 10 Desember 2013

Ketika Puskesmas Overload

Kapan terakhir ke puskesmas? Atau jangan-jangan puskesmas hanya kita kenal di pelajaran sekolah? Kita pernah membacanya di buku Bahasa Indonesia, yang dikunjungi Budi dan keluarganya ketika sakit. Kita hampir-hampir tidak pernah meniatkan diri untuk berobat ke Puskesmas.
Di pikiran kita puskesmas lokasi paling pas untuk berobat masyarakat bawah dan orang miskin. Lokasinya di daerah terpencil, dengan peralatan kesehatan kurang modern. Suasananya riuh dan kumuh. Dokter-dokter datang terlambat, susah ditemui dan malas-malasan. Itu memang gambaran pertama kalau kata puskesmas. Dan faktanya memang demikian. Terlebih di kota-kota besar, dimana akses rumah sakit terbuka luas, Puskesmas menjadi mata kiri yang tidak perlu diperhitungkan. Masyarakat lebih memilih berobat ke rumah sakit.
Puskesmas Majalaya
Tetapi bagaimana dengan cerita puskesmas dengan 400 pasien dalam sehari? Apa itu puskesmas terbaik dengan tenaga dan alat kesehatan terbaik? Hingga para pasien membludak begitu. Mari kita telisik.
Fenomena itu dapat ditemukan di Puskesmas Majalaya Baru, Kabupaten Bandung. Puskesmas di daerah sub urban Kabupaten Bandung. Lumayan jauh dari daerah perkotaan yang hingar-bingar dengan julukan Paris van Java. Dengan mobil memakan waktu dua jam perjalanan dari pusat kota Bandung. Jangan tanya bagaimana kondisi jalan. Beraspal atau tidak. Kita tentu tahu bagaimana kondisi jalan di daerah-daerah terpencil. Rahasia umum.
Lokasi Puskesmas Majalaya Baru yang strategis, di pinggir jalan besar pertemuan beberapa daerah di sekitar Majalaya, menjadikan puskesmas ini seperti lampu bagi laron, magnit besar bagi penduduk untuk berobat. Penduduk sakit dari daerah kantong sekitar Majalaya yang sama-sama miskin semua berbondong-bondong ke Puskesma Majalaya Baru. Mau ke rumah sakit jauh, mahal. Jadilah Puskesmas Majalaya Baru hampir-hampir kelebihan beban pasien.
Pagi menjelang siang, antrean mengular di muka loket pendaftaran pasien seperti sedang mengantre sumbangan atau raskin. Kepala Puskesmas Majalaya Baru,  drg Endang NF, M.Kes bahwa pasien di puskesmas tersebut setiap hari membludak. Majalaya merupakan daerah dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai pegawai pabrik dan sedikit yang bekerja sebagai petani maupun wiraswasta. Dan puskesmas Majalaya baru menjadi salah satu andalan masyarakat sekitar untuk berobat ketika sakit. Puskesmas ini memiliki total 42 tenaga kesehatan meliputi 4 dokter umum, 2 dokter gigi, 11 perawat, 11 bidan dan 14 tenaga lain.
Puskesmas Majalaya
Menurut penuturan drg Endang, jumlah pasien ketika hari biasa mencapai 400 orang dan hari sabtu 200 orang. Jadi setiap dokter di Puskesmas Majalaya Baru setiap harinya harus melakukan pemeriksaan untuk 50 sampai 80 orang pasien. Horor! Standarnya dokter di Indonesia hanya memeriksa maksimal 30 pasien,bahkan di luar negeri hanya diperbolehkan paling banyak 20 pasien. Bisa dibayangkan, andai seorang dokter setiap harinya berhadapan dengan lebih dari 30 pasien, kemungkinan untuk ala kadarnya dalam melakukan diagnosa sangat tinggi.
“Bayangkan saja, 400 pasien dalam sehari. Ada 4 dokter umum dan 3 dokter gigi, termasuk saya.  Namun, saya sendiri sudah cukup banyak urusan administratif yang harus dikerjakan”, terang Ibu Endang sambil menunjukkan tumpukan dokumen yang siap ditandatangani. Wajah ayunya tampak letih karena beban pekerjaan.
Untuk menyiasati hal itu Puskesmas Majalaya Baru mengeluarkan surat kewenangan untuk perawat dan bidan, supaya bisa membantu pemeriksaan dan pengobatan pasien. Jadi tidak heran ketika kita melakukan kunjungan ke Puskesmas Majalaya Baru, bidan dan perawat juga berkerja laiknya seorang dokter. Memang kejadian fatal belum terjadi, semoga tidak akan terjadi. Tetapi kemungkinan ke sana akan tetap ada, andai kondisi minim tenaga kesehatan belum juga teratasi.
Kondisi kekurangan tenaga medis sedikit terbantu dengan sering dijadikannya Puskesmas Majalaya sebagai lokasi magang/internship bagi dokter, bidan maupun perawat yang baru lulus dari kampus.
Hal ini cukup membantu dalam pelayanan karena ada tambahan tenaga kesehatan yang bisa diperbantukan di puskesmas. Ketika ditanya soal kompetensi tenaga kesehatan, dr. Rina, salah satu dokter di Puskesmas Majalaya Baru mengatakan bahwa apa yang didapat di kampus sudah cukup. Namun bagi lulusan baru harus sebanyak-banyaknya menggali pengalaman klinis di lapangan, terutama komunikasi efektif yang tidak bisa diajarkan tapi didapat dengan latihan langsung kepada pasien. Mereka butuh jam terbang.
Hal sama juga dialami bagi bidan yang baru saja lulus. Bagi bidan-bidan yang baru lulus, biasanya masih belum siap untuk dilepas sendiri. Mereka masih perlu beberapa kali pendampingan dari dokter maupun bidan senior. Pengalaman klinis yang cukup akan membantu bidan maupun tenaga kesehatan lain untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan yang optimal. Bagaimana pun pasien bukan robot, maneken, atau jenazah yang boleh sesukanya diotak-atik. Pasien adalah manusia hidup, butuh cara komunikasi cara melakukan pemeriksaan yang baik.
Menurut drg. Endang, salah satu kelebihan tenaga medis di Puskesmas Majalaya Baru adalah semangatnya untuk menambah ilmu. Mungkin kesadaran bahwa puskesmas tempat mereka bekerja sedemikian padat oleh pasien, makan keterampilan dan keahlian medis harus terus ditingkatkan.
“Saya sangat senang karena perawat dan bidan disini sangat semangat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Bahkan ada yang sekolah lagi dengan biaya sendiri”, kata drg. Endang dengan semangat.
Kompetensi dan pengetahuan memang harus selalu ditingkatkan dan di-update. Namun, dr Rina menyayangkan bahwa dari dinas kesehatan sendiri tidak konsisten menyelenggarakan pelatihan-pelatihan maupun seminar bagi tenaga kesehatan. Padahal hal tersebut sangat penting. Jauh dan terpencilnya daerah Majalaya menjadi alasan utama kenihilan tersebut.
“Jadi ya seringnya kami hanya update ilmu lewat internet. Dan untuk dokter umum sebaiknya juga diberikan pelatihan-pelatihan khusus seperti EKG dan ATLS-ACLS”, terang dr Rina.
Pasien menunggu dengan sabar :P
Senada dengan dokter Rina, para bidan, salah satunya adalah bidan Tini, juga mengatakan bahwa pengetahuan yang diterima di kampus sebenarnya sudah cukup. Namun perlu jam terbang yang lebih dan juga pelatihan-pelatihan yang kontinyu. Beliau mengaku dalam setahun terakhir ini praktis tidak ada pelatihan yang diadakan oleh dinas kesehatan, jadi beliau bergantung pada internet untuk update ilmu.
Untuk ukuran puskesmas, Puskesmas Majalaya Baru memang overload pasien. Meski dibantu dengan tenaga medis yang magang maupun bidan dan perawat yang secara darurat ditugaskan sesekali mengambil alih peran dokter. Mereka benar-benar membutuhkan tenaga medis khususnya dokter. Wahana untuk meningkatkan skill dan pengetahuan terbaru akan dunia klinis belum dirasakan secara nyata. Mereka hanya mengandalkan internet untuk belajar. Kemungkinan buruk selalu ada dalam dunia klinis. Tetapi kalau tenaga medis yang cukup dan memiliki kemampuan tinggi ada, kemungkinan itu dapat diminimalisir.
Pemerintah pusat harus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menyiapkan dan menyediakan tenaga kesehatan, fasilitas dan sarpras, serta program pelayanan kesehatan untuk semua masyarakat, terutama masyarakat di daerah sub urban, yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari kemewahan fasilitas di kota besar. Program-program layanan kesehatan untuk masyarakat kurang mampu seharusnya dapat benar-benar membantu, bukannya mempersulit dengan aturan administrasi yang kompleks.
Kompetensi dan kewenangan dalam memberikan layanan kesehatan merupakan hal utama yang harus dibenahi dalam usaha memberikan pelayanan kesehatan paripurna kepada masyarakat. Kompetensi tenaga kesehatan harus ditingkatkan melalui pelatihan-pelatihan ataupun sertifikasi. Di sisi lain, kewenangan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan dapat terjaga sesua standar jika jenis dan jumlah tenaga kesehatan yang tersedia dapat terpenuhi.
Setiap masyarakat berhak mendapatkan layanan kesehatan terbaik, sehingga pendidikan tinggi kesehatan diharapkan mampu menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten dan profesional.
Sehingga nanti tidak akan muncul klausa, “Orang miskin dilarang sakit!”. Miskin kaya tetap memiliki hak sehat yang sama.(*)
dr.Mushtofa Kamal, dokter puskesmas ^^


Lomba Blog FPKR

Sabtu, 07 Desember 2013

Secangkir Teh untuk Che Guevara

Malam minggu ini terasa sama seperti hari-hari sebelumnya sampai aku melihat buku Biographic Novel “Che Guevara” karya Chie Shimano dan Kiyoshi Konno. Tertarik dengan seorang tokoh revolusioner kelahiran Argentina yang menggemparkan dunia, memekik semangat pembebasan rakyat Kuba dan negara-negara lain di Amerika Selatan, bahkan sampai Kongo, Afrika. Dan dia adalah seorang dokter.
Ernesto Guevara Lynch, seorang penderita asthma yang senang main rugby, senang menulis dan melahap berbagai macam judul buku. Chanco atau si Babi, julukan dari Guevara muda yang kemudian memutuskan untuk menjadi seorang dokter pada tahun 1947. Guevara muda memiliki jiwa petualang yang tinggi, bahkan pada usia 23 tahun, Chanco telah memulai perjalanan mengelilingi Amerika Selatan bersama dengan Alberto Granados, sahabat dan pelatih rugby-nya, dengan mengendarai sepeda motor legenda “La Poderosa II” atau Si Perkasa 2. Entah yang pertama seperti apa aku juga tidak begitu tahu.
Dua petualang gila yang kemudian menemukan berbagai macam fenomena masyarakat di Amerika Selatan. Perjalanan 10.000 km yang ditempuh selama kurang lebih 7 bulan ini, Ernesto melihat penderitaan berat kamu miskin. Perjalanan yang awalnya untuk sekedar berpetualang justru menyingkap sisi gelap Amerika Selatan. Kemiskinan dan penindasan.
Klinik Kusta San Pablo di Peru menjadi salah satu titik balik seorang Guevara muda, dimana si Babi bertekad untuk mengobati akar penyebab berbagai macam penyakit ini yaiut kemiskinan dan kelaparan.  Tanggal 26 Juli 1952 keduanya memutuskan berpisah dan Guevara kembali ke Argentina untuk melanjutkan pendidikannya sebagai dokter.
Guatemala, negara pertama yang menjadi tujuan Guevara setelah lulus sebagai dokter. Pergolakan politik di Guatemala yang dipimpin oleh Jacobo Arbenz Guzman saat itu mempertemukan Guevara dengan para pelarian Kuba dan juga Hilda Gadea Acosta, istri pertama Guevara. AS berhasil menguasai Guatemala menyebabkan Guevara berpindah ke Meksiko dan hidup bersama dengan Hilda. Di tengah kesulitan ekonomi keluarganya, Guevara sempat menjadi seorang fotografer. Di situ juga Ernesto bertemu dengan Fidel Castro, seorang pengacara, yang saat itu sudah menjadi salah satu pemimpin karismatik di kalangan warga Kuba.
“Gerakan 26 Juli” itulah nama perlawanan tehadap Batista di Kuba yang diambil dari tanggal tragedy perlawanan Barak Mancada. Guevara memutuskan untuk bergabung dengan gerakan tersebut dengan mengikuti pelatihan militer merangkap tim medis pasukan.
Granma
Kapal motor kecil itu bernama Granma. Kapal kecil berkapasitas 25 orang ini bertugas mengantar pasukan gerakan 26 Juli ke Kuba. Bersama dengan 81 anggota pasukan, Granma dengan gagah melintasi lautan menuju pantai Kuba. Dua hari lebih lambat dari yang diperkirakan, kapal motor kecil Granma berhasil mendarat 2,5 kilometer dari titik pendaratan yang direncanakan, tanpa sambutan dan langsung melanjutkan perjalanan ke pegunungan Sierra Maestra.

Perjalanan ke Sierra Maestra (to be continued)

Kamis, 05 Desember 2013

Sudah Lama Nggak Nge-Blog

Amazing sore..
rafting pertama^^
Bangku nomer 1 perpustakaan kampus depan pusat paleoanthropologi aku memulai petualangan baru. Lembaran baru. Halaman-halaman baru. Dalam ketergantungan sinyal wifi yang kadang hidup-kadang mati seperti lampu lalu lintas di persimpangan-persimpangan yang masih belum yakin, apakah mau berwarna hijau, kuning atau merah. Haha, bingung kan? Sama sepertinya...^^.
Sambil nge-teh sore-sore seperti ini sepertinya enak deh, ditemani gorengan Jln.Kaliurang Km.5, depan Natasha (oh, surga dunia). Plakk. Mimpi ternyata dan sadar bahwa di depan saya bukan teh panas tapi laptop panas plus kotak-kotal excel yang, ah tau sendiri lah ya. Banyak yang harus dikerjain. Numpuk.
Sambil nunggu adzan maghrib, iseng-iseng nih buka-buka kompas.com, lumayan buat refreshing kalau beritanya pas bagus, tapi kalau nggak ya bikin emosi malahan. Dan saya tertarik salah satu artikel pak beye, hehe..piss pak.
SBY megang 2 jagung bareng orang-orang
(harusnya judulnya ini ya? :P)
Yeah, pak Beye akhirnya masuk berita, setelah tenggelam sama Pak Jok. Nah ini ceritanya beliau lagi tour ke Pamekasan, Madura. Banyak cerita yang mengiringi perjalanan beliau dari habisin dana APBD-lah, anak-anak SD yang suruh nyambut beliau dijalan yang kelaparan karena harus nunggu 1.5 jam di siang bolong lah, dan pro-kontra yang lain. Tapi yasudahlah, namanya media semua sama, nampilin yang seksih-seksih. Tapi yang saya salut disini, beliau pengen makan nasi jagung. Haha, ga penting tapi paling tidak berita ini dianggap seksih oleh para awak media. Bapak saya makan nasi jagung 7 tahun kok ga pernah masuk berita ya? Wehehe, klo pak beye, baru mau akan makan nasi jagung aja sudah masuk berita. Good job lah buat siapa saja. Lain kali main lagi pak ke penjuru-penjuru Endonesa, blusukan istilah jawanya, trus nyobain makanan khas rakyat Anda berupa nasi aking dan sejenisnya. Yakin deh nanti mas-mas dan mbak-mbak wartawan akan ngeliput Anda. Publikasi grates. Nyinyir. Biarin.
Oiya, pak, kalau ga salah dulu kita pernah swasembada beras kan ya? Kalau tidak salah sih. Trus sekarang gimana ceritanya pak? #just ask.
Bukan nyinyir atau apa, saya cuma warga negara yang pengen semuanya bisa menikmati beras atau apapun makanan pokoknya dengan layak. Gak lucu ah kalau negara yang katanya tanah surga ini masih ada yang kelaparan, gizi buruk dan sebagainya. Pasti ada yang salah urus sehingga jadi seperti itu. Oke, apapun itu semangat deh buat para pemimpin jujur dan berdedikasi, dan buat pemimpin korup atau bantuin temennya korup, apapun itu, kalian lebih jauh lebih buruk dari bakteri E.coli.(kamal)

Senin, 23 September 2013

Laziness and Turning Point

Salam, hampir satu tahun mungkin tidak meng-update blog ini. Bukan karena tidak ada hal yang bisa diceritakan, malah banyak sekali hal yang bisa ditulis dalam halaman ini. Penyakit malas, iya, penyakit malas. Penyakit ini memang tidak dikenal dalam istilah kedokteran. Carilah di kamus Dorland, sampai jantung Anda mengalami sindrom Eisenmenger juga ga akan ada. Tapi menarik juga sih untuk didiskusikan lain waktu. Karena penyakit ini menyerang hampir semua orang dan menyebabkan disfungsi hampir semua organ (lebay mode ON).

Jumat, 27 Juli 2012

Trilogi sambil menyelam minum air

Bismillah,
yep, tulisan kesekian dari tulisan-tulisan ga penting menurutku.
Pernah denger mungkin, atau sering kalimat ini muncul dalam beberapa tulisanku.
"Sambil menyelam minum air, kalau perlu ada berlian atau mutara ambil saja, ada ikan ambil saja, apapun yang kiranya bagus ambil saja", kurang lebih seperti itulah.
Dan memang itu aku yang memunculkan dan mempraktekannya. Efetktifkah? bergunakah? secara umum berguna dan memang bisa naikin CV lah, atau capaian pribadi kita.
dengan berprinsip itu, true story, aku bisa dapatkan apapun yang aku mau (kasarannya). Banyak koneksi yang bisa aku bentuk, banyak project yang bisa kukerjakan, dan banyak juga fasilitas serta uang (mungkin) yang bisa diperoleh. Dalam peribahasa tersebut tersimpan pesan bahwa kita harus bersikap oportunis, dalam artian capai dan kerjakan apapun yang bisa kamu kerjakan. Seluas dan sebanyak mungkin, karena kesempatan tidak datang dua kali. Benar kan. TERUS Pertanyaannya, "Lha terus kenapa hal ini dipermasalahkan?"
Ternyata peribahasa modifikasi tersebut belum selesai kawan. Masih ada lanjutannya. Lanjutan yang sebenarnya merupakan suatu refleksi terhadap diriku sendiri. Lanjutan yang muncul setelah sekian lama aku mempraktekan prinsip-prinsip itu...kurang lebih lanjutannya seperti ini..
".....Namun ingat, seberapa besar kantung yang kau bawa, kalau semuanya kau ambil dan kau masukkan, sedangkan kantungmu tidak terlalu besar, maka siap2 saja untuk tas itu sobek dan berantakanlah barang-barang yang sudah kamu masukkan"
Kapasitas dan kemampuan, hal yang tidak boleh dilupakan. Jangan mentang-mentang ada kesempatan, kemudian secara brutal (kalau tidak mau dibilang serakah) mengambilnya tanpa memikirkan kemampuan diri, tanpa memikirkan konsekuensi yang harus ditanggung setelahnya. Memang terlihat keren ketika kita terlibat dalam banyak hal, menjadi bagian penting dari banyak hal, berinteraksi dengan banyak orang, pergi kesana-kemari untuk urusan-urusan tersebut, memasang status-status sombong yang bikin kita untuk sementara mabuk. Dan memang, yang namanya mabuk itu nggak ada yang bener, setelahnya pasti akan jatuh, hilang keseimbangan.
Refleksiku untuk hari ini, perhatikan dan pertimbangkan kemampuanmu...seberapa besar kantung yang kamu miliki...

Rabu, 25 April 2012

April (bukan) Mop

Sudah lama tidak nulis lagi. Bukan berarti tidak ada cerita-cerita berkesan lagi tetapi lebih kepada kemalasan untuk menulis..opo toh.
Yups, bulan April, keren lah ya. Ada banyak banget hal yang terjadi, Hemm mulai darimana yak.Oya terkait penawaran Prof untuk melanjutkan studi untuk posisi Ph.D bidang Glaukoma, alhamdulillah sudah bertemu dengan beliau. Karena posisiku saat ini masih belum jadi dokter beneran, tidak masalah kapanpun beliau bersedia untuk membantu. Yang pasti harus pinter bahasa Inggrisnya, hehe. Okey prof, as u wish. Subhanalloh. Semoga ini adalah jalanku.
Apalagi ya, oiya ini, sebelumnya kontrak kerjaku dengan salah satu center manajemen pelayanan kesehatan  untuk pendidikan kedokteran di kampus sampai 6 bulan kedepan. Entah kenapa, kemudian ditransfer ke salah satu proyek Dikti, whatta, aku pikir. Meskipun sempat galau tentang statusku yang sebenarnya, tapi alhamdulillah sudah jelas sekarang, aku masih pegang dua-duanya (Whattt). Mbuhlah, soal renumerasi, manut saja aku, dikasih berapapun oke. (ini bukan berarti pasrah lho, tapi bagi pemula seperti saya penting untuk membuat track record yang baik, masalah gituan ntar bakal ngikut kok, yakin deh).
Trus apalagi ya, oiya, proyek yang lain, masih dalam tahap negosiasi sih tapi kemungkinan untuk deal sangat besar karena mereka yang butuh kita.Nah lo. Dan sudah deal, yeyeye, alhamdulillah, sampai tahun 2013 rencananya (ngarep passive income.co.id).
Apalagi yah....masih banyak cerita, tapi ntarlah nulisnya, mau ngerjain yang lain dulu. Semakin banyak deal-dealan otomatis semakin banyak kerjaan masbro.

Minggu, 01 April 2012

APalah Ya...

Minggu yang luar biasa actually. Minggu terakhir stase saraf diawali dengan ngumpulin syarat2 ujian in the last minute. Beuh, susahnya ketemuan dengan pembimbing, entah sudah berapa kali cancelled. Tapi, may be thats the art of this business, I mean we can't go and let all the think going fast, we need a turn for some. Dan, alhamdulillah for sure, dapat penguji ujian yang wow. Whatta perfect combination I think. Get out from the tiger's cage then entering a crocodile's pool. Great tandem I think.
As usual, my story isn't that short. And I'll never make that short. Heheh..apa sih ya. Nah minggu ini pula,senin dihubungi bakal ada rapat untuk website di Saphire Hotel sebgai ganti tertundanya rapat di Jakarta pada hari Jumat sebelumnya, karena ada rapat dengan DPR or something like that lah. Oke, ga masalah buatku ga harus pergi ke Jakarta yang super ribet. Ga betah lah lama2 disana. But, akhirnya nggai jadi juga yang di Saphire. Whateverlah, yang penting tugas2 ku selesai, ntar juga ngikut untuk masalah2 kaya gituan. Hemm..karena ga jadi, maka diganti hari kamis kemare, rapat koordinasi web dan datang telat karena hatus ujian, tapi alhamdulillah semuanya lancar.
Untuk ujian, as expected, nggak cukup sekali. Yup berkali-kali, dan sering dibilang fatal, oh my God. Nunggunya lama, dan ya semua terjadilah. Haha..ketika ditanya, " menurutmu kamu lulus nggak? Aku bilang...nggak dok, masih banyak yang kurang." akhirnya ngulang lagi ujian hari berikutnya. Whateverlah, yang penting semua ga sia-sia. Dan Alloh SWT memang Maha deh...sedang galau-galaunya ngulang ujian dan dibilang gagal, tiba-tiba ada getaran handphone tanda ada sms baru. Ku bukalah dengan sedikit lunglai, maklum sedang spinal shock, jadi asal2an aja. Oh, nomer baru, ntar aja deh liatnya. Sudah kubiarkan beberapa lama sambil liat staff priksa pasien. Stelah agak lega coba aku cermati dan whatta....ntahlah nambah kegalauan atau sebagai kabar gembira. Dapat sms dari prof yang sangat ku kenal, dan saat itu sedang berada di Belanda, entahlah ada urusan apa. Isinya sederhanya begini, prof mata dari univ.Groningen, bilang masih ada satu slot untuk kandidat Ph.D baru untuk konsentrasi Glaukoma dan biologi molekular vitreous, dan menawarkannya padaku. Subhanalloh lah, di saat kegalauan melanda, muncul berita ini. Langsung aku bales, tertarik sekali dengan posisi itu, dan diminta untuk ketemuan minggu depan. Hemm, semoga lancar dan terwujud. Alloh memang punya caraNya sendiri yang tak terduga-duga untuk insyaAlloh hamba-hambaNya. 
Pernah, entah kapan, kepikiran pingin banget punya tablet atau sejenisnya lah, untuk mempermudah kerjaan. Heheh...tapi cuma keinginan, jelas ndak punya duit buat beli gituan. Buat makan aja sudah susah nyarinya, harus tabraka-tabrakan waktu kesana kemari. Eh, kantor tempatku bekerja ada tablet Ipad yang relatively nggak terpakai, karena yang make sebelumnya sudah pake laptop mac juga. Ya sudah disuruh dipake dulu aja. Hahaha..walaupun bukan punya sendiri tapi yang penting punya lah ya.... Mungkin sekarang di pinjemi, suatu saat bisa punya sendiri. Heheh.. InsyaAlloh lah ya. 
Minggu ini dari kejadian2 tersebut hikmah yang bisa diambil untuk evaluasi diri, introspeksi diri adalah bahwa hal- hal yang kita alami di dunia ini bukanlah suatu hal yang kebetulan saja. Lebih dari sekedar kebetulan, dibalut dengan doa dan kepercayaan penuh bahwa Dia tidak tidur. Alloh mendengar segala do'a doa kita, dan mengabulkannya dengan caraNya yang akita harus yakin itu adalah hal terbaik untuk kita.
Just do the best, you will get the best and Alloh will give the moooorree best than we can imagine..^^b
Sent from my iPad